Firza sudah menangis sesegukan di pinggir jalan sembari memandangi mobil hitam yang berlalu pergi meninggalkannya di sana. Anak kecil itu makin tersedu karena melihat Adam yang tersenyum di balik kaca mobil seakan menyuruhnya untuk tidak cemas. Tapi, bagaimana bisa Firza tidak cemas dan takut sekarang kalau Adam kini di bawa pergi tanpa dirinya. "Adam," ujarnya masih menangis dan mengusap pipi sembabnya dengan punggung tangan. Firza pun berdiri dengan mengedarkan pandangannya mencari bantuan. Ia berjalan cepat sembari mengusap hidungnya yang sudah berair. Anak cowok itu memutuskan berlari kuat dan kembali ke rumah Adam untuk memberitahukannya pada papanya Adam. "Om, Om!" Panggilnya sudah mengetuk-ngetuk pintu rumah, masih menangis dengan paniknya. "Om Arsen!" Ujarnya setengah berteriak

