“Masih marah?” tanya Ervin. Elina menggeleng. “Katanya tadi mau ngomong, kok cuma geleng kepala?” “Enggak Mister,” sahut Elina membuat Ervin senang. Gadis itu kembali memanggilnya mister itu berarti Elina sudah memaafkannya. “Mau jalan-jalan?” “Ke mana?” Elina berhenti makan coklatnya. “Naik motor saja keliling-keliling.” “Boleh.” Ervin segera memakaikan Elina helm dan jaket miliknya. Hari semakin malam semakin dingin bisa repot jika Elina masuk angin. Motor melaju dengan kecepatan sedang. Angin menerbangkan helaian rambut panjang Elina.. “Aku boleh teriak gak?” “Boleh tapi jangan di samping telingaku.” Elina merentangkan tangannya lalu memeluk pinggang Ervin erat. Wajahnya berseri menikmati angin malam sambil dibonceng Ervin. Sesekali Elina berteriak membuat Ervin menutup ka

