Keesokan harinya Elina mogok bicara membuat Ervin semakin frustrasi. Dari bangun tidur sampai berangkat sekolah Elina tidak bicara sedikit pun. Saat ingin bicara Elina hanya menggunakan bahasa isyarat dan itu membuat Ervin seperti orang gila. Beberapa kali Ervin mencoba membujuk Elina bicara, tapi gadis itu tidak mau membuka mulutnya kecuali untuk makan dan minum. Ervin menghentikan motornya beberapa meter dari Universitas. “El.” Ervin menarik tangan Elina membuat gadis berbalik menatapnya. Elina memandang Ervin datar tanpa senyum. Ervin melepas helm-nya begitu juga dengan helm Elina. “Tolong dengerin aku dulu. Aku nggak masalah kalau kamu nggak mau bicara sama aku tapi tolong dengerin aku sebentar.” Elina melepas tangan Ervin paksa. Dari sorot matanya terlihat gadis itu belum bisa me

