6. Rumit

1027 Kata
Malam ini Syafiq, Yasmin dan Ummi Aisyah, Paman Faruq saudara dari Ayah Aisyah juga ikut karena seorang wanita harus safar atau bepergian jauh ditemani seorang mahram. Mereka berangkat menuju Jogja ba'da isya, Syafiq duduk, dua kursi dari Yasmin dan Ummi angkatnya itu bersama dengan paman Faruq yang dia anggap sebagai pamannya sendiri. Paman Faruq dan Syafiq banyak berbincang mengenai pekerjaan, politik dan agama. Paman Faruq meskipun sudah berusia seumur neneknya tetapi merupakan teman bicara yang baik, pokok pembicaraan apapun pasti terasa nyambung saat membahasnya dengan paman Faruq. Setelah bercengkrama bersama Paman Faruq dan efek kelelahan pasca harus mengoperasi dua orang sebelum ke Jogja, Syafiq memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan. Mereka sampai di Bandara pukul 12 malam karena sempat ada dilay. Sesampainya di hotel, Yasmin pamit untuk tidur bersama sahabatnya "Yasmin ke kamar Aya sama Pipit yah Mi" ummi mengangguk dan memperingati Yasmin untuk tidak melakukan hal yang tidak-tidak. "Kalau ada apa-apa hubungi abang yah" ucap Syafiq "Siap 45 bang" "Aya pamit yah tante" ucap Aya sopan "Pipit juga, Assalamualaikum tante" tambah pipit "Wa'alaikumussalam" "Jangan nakal, langsung tidur" tambah Syafiq, Yasmin mengangguk dan melambaikan tangan ke arah abang, ummi dan pamannya. setelah mereka salim kepada Aisyah mereka semua berpisah dan masuk ke kamarnya masing-masing. Setelah membersihkan badan, Syafiq membaca beberapa lembar buku yang dibelinya pekan lalu, hal yang rutin dia lakukan sebelum tidur adalah membaca agar pikirannya kembali segar. Wanita yang mengenakan jilbab berwarna merah muda itu cemberut akan jawaban dari teman-temannya. "Abang lo mana mungkin lah mau nikah sama lo, memang sih kalian halal-halal aja nikah tapi yakali belasan tahun dia menganggap lo sebagai seorang adik, lalu dia harus memperlakukan lo sebagai seorang istri." Ucap Pipit "Banyak kok yang kayak gitu di film-film" "Ini nih kalau orang kebanyakan nonton film" ucap Pipit "Ini tuh dunia nyata, bukan skenario film" tambahnya "Iya ih, sadar Yas, kayak nggak ada cowok lain aja, lagi lo juga cantik, pasti banyak yang mau" "Ya ini masalah hati, kalau hati gue juga penginnya pindah ke lain hati mana mungkin sih gue keukeh suka sama Abang angkat gue sendiri." Jawab Yasmin kesal. "Ada yang salah sama kepala lo, gih ke Psikolog" ucap Pipit "Yas" "Hmm" "Daripada lo ngejar-ngejar abang lo, mending lihat perjuangan Bagas yang mati-matian kejar lo" ucap Aya "Bagas? BAGAS RAHADI? amit-amit dah" Yasmin melempar bantal ke arah Aya "Hati-hati, benci bisa jadi cinta" tambah Pipit "Enak aja kalian" perdebatan itu tentu saja membuat perang bantal terjadi di antara mereka bertiga. *** Lail meminta cuti selama seminggu di tiga tempat kerjanya, selama kerja di sana dia memang belum pernah mengambil cuti. Dia ingin fokus memantau perkembangan adiknya. "Satu suap lagi" ucap Lail yang sudah ke-enam kalinya. "Udah kenyang kak" Lail cemberut tentu saja membuat Fajar merasa tidak enak dan menerima suapan dari kakaknya. "Sekarang kamu harus latihan jalan, udah lama kan nggak gerak jadi pasti badannya sedikit kaku." Fajar mengangguk dan mengikuti instruksi dari kakaknya. Mereka berdua memutuskan untuk memakan ice cream di taman setelah melatih psikmotorik Fajar "Segar banget, udah lama nggak makan ice cream" ucap Fajar "Makanan rumah sakit nggak enak" tambahnya. "Bersyukur, Alhamdulillah masih bisa makan. Banyak orang yang kesusahan untuk makan, bahkan harus memungut sisa makanan orang lain supaya bisa kenyang." Fajar mengangguk "Kak, maafin Fajar yah" "Maaf untuk?" "Karena Fajar sakit, kakak harus pinjam duit dan kerja lebih keras. Pasti kakak kurang tidur kan?" Ucap Fakar merasa bersalah Lail menghela napas dan memegang tangan adiknya "Kakak lebih baik kurang tidur daripada harus kehilangan kamu, malah kakak yang harus minta maaf karena nggak bisa memberikan kamu kehidupan yang layak" ucap Lail Fajar menggeleng "Aku beruntung punya kakak sekuat dan secantik kak Lail" "Dasar, udah makan ice creamnya udah meleleh tuh" Fajar mengangguk. *** Besok Fajar sudah diperbolehkan untuk pulang dan menjalani rawat jalan di rumah, adiknya akan kembali bersekolah dan menjalani kehidupannya seperti biasa. "Ini adalah resep obat yang diberikan oleh Dokter Syafiq mbak, silahkan ditebus di apotik bawah" ucap Suster berkhimar biru langit itu dengan senyum ramahnya. Benar, Syafiq. Selama di rumah sakit dia tidak pernah melihatnya lagi. "Ma..maaf suster, Dokter Syafiq ke mana ya?" "Dokter Syafiq sedang cuti, setahu saya dia sedang berlibur bersama keluarganya." "Ooh, begitu. Kalau begitu terima kasih suster" Suster itu mengangguk dan keluar dari ruangan Fajar. Mumpung Fajar sedang terlelap, Lail ke Apotik untuk menebus resep obat untuk Fajar. Apotiknya tidak begitu jauh, hanya melewati satu gedung dan berjalan sekitar dua menit. "Mbak, saya ingin menebus obat ini" ucap Lail memberikan kertas yang bertuliskan obat dari Fajar, bahasa ilmiah yang mungkin butuh waktu dua jam untuk Lail menghafalkannya. "Awww" seorang anak kecil dengan tubuh mungilnya tak sengaja menabrak Lail dan terjatuh "Hiksss, sakiiiit" ucapnya menangis Lail membantunya berdiri dan membersihkan baju anak itu yang kotor "Yang mananya sayang yang sakit?" Tanya Lail "Yang ini" anak itu menunjuk kedua lututnya yang memerah. "Tante tiup yah" Lail meniup kedua lututnya dan mengelusnya seolah memiliki kekuatan supranatural anak itu berhenti menangis "Nama kamu siapa?" Tanya Lail "Zahra" jawabnya "Nama yang cantik" puji Lail "Orang tua kamu di mana?" Zahra menggeleng "Tadi di sana" tunjuk Zahra pada Alfamart yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Lail menggendong Zahra menuju Alfamart tersebut. "Zahra" ucap lelaki dengan wajah panik, Lail mengenalinya. Dia adalah Haidar, "Kamu dari mana saja sayang?" Ucapnya tak menyadari bahwa Lail yang membawanya. "Tadi ada balon di luar" jawab Zahra polos, Lail tersenyum melihat bagaimana kedekatan antara ayah dan anak di depannya. "Kan bisa bilang sama Ayah kalau mau balonnya" jawab Haidar "Mbak, terima kasih.. Lail? Ternyata kamu" ucap Haidar menyadari bahwa dari tadi dia lah yang membawa Zahra ke sini. "Terima kasih Lail, saya nggak tahu gimana jadinya kalau kamu tidak ada." Lail mengangguk. "Zahra sayang, nanti kalau mau pergi, izin sama ayah dulu ya. Kasihan kan ayah sampai panik cariin Zahra, nanti tante belikan balon sebagai hadiahnya" Zahra menganguk "Mau sama tante" ucapnya mengulurkan tangannya meminta digendong. Lail menggendong Zahra dan menasehati agar Zahra menjadi anak yang baik. Melihat pemandangan itu, Haidar begitu takjub. Pasalnya, Zahra tidak mudah akrab dengan orang lain, bahkan pada mantan istrinya yang merupakan ibu kandung dari Zahra sendiri. "Sekarang tante pamit ya" Zahra cemberut dan memegang tangan Lail "Nanti kita ketemu lagi" "Janji?" Ucap Zahra, Lail mengangguk "Aku pamit, Assalamualaikum" ucapnya pada Haidar, Zahra melambaikan tangannya kepada Lail. "Zahra suka sama tante Lail?" Tanya Haidar, Zahra mengangguk antusias. Waaah Dokter Syafiq ada saingannya nih, wkwkwk. Kira-kira Lail pilih yang mana ya, Duda beranak satu atau Dokter Syafiq yang cool? Atau gini, Dokter Syafiq sama Yasmin, Haidar sama Lail? Wkwkkw TIM #SyafiqLail atau #HaidarLail? Komen di bawah!!!!
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN