Bab 2
Dita melanjutkan usahanya untuk memasak telur meskipun sedikit terganggu oleh kedatangan Keelan. Setelah beberapa saat, akhirnya telur pun matang dengan rasa yang mungkin hanya seadanya. Dita meletakkan telur di atas piring dengan cangkir kopi hangat untuk Dimas.
Ketika semuanya siap, Dita memasukkan semuanya ke dalam sebuah nampan dan membawanya ke kamar tidur. Ia ingin memberikan kejutan sederhana ini untuk Dimas, bahkan jika masakan itu tidak sempurna. Ketika ia membuka pintu kamar, ia melihat Dimas masih tertidur dengan wajah yang tenang. Dita tersenyum melihatnya, lalu perlahan mendekat dan duduk di sisi tempat tidur.
"Sayang, bangun ya," bisik Dita lembut sambil mengusap lembut bahu Dimas.
Dimas mengerang pelan dan membuka mata, memandang istrinya dengan penuh kantuk. "Mmm... sudah pagi?"
"Iya, dan aku punya kejutan untukmu," kata Dita sambil menunjukkan nampan sarapan.
Dimas tersenyum lebar. "Wow, kamu benar-benar istimewa, Dita. Terima kasih," katanya sambil duduk dan mengambil sepotong roti.
Dita berdebar, khawatir Dimas tidak akan menyukai masakan sederhana yang ia buat. Namun, saat Dimas mencicipi telur yang Dita masak, ia tersenyum lagi. "Ini enak, Dita. Kamu memang luar biasa."
Dita merasa lega dan senang mendengar pujian dari suaminya. Mereka makan bersama sambil bercanda dan berbicara tentang rencana mereka untuk hari itu. Meskipun masih ada ketegangan dalam hubungan mereka, momen pagi ini membuat mereka merasa lebih dekat satu sama lain.
Setelah sarapan selesai, Dimas beranjak dari tempat tidur dan mulai bersiap-siap untuk rapatnya. Dita membantu mencari pakaian yang rapi dan memberikan semangat padanya.
"Semoga rapatnya lancar, sayang," kata Dita dengan senyum lembut.
Dimas meraih tangan Dita dan menciumnya. "Terima kasih, Dita. Aku akan berusaha yang terbaik."
Setelah Dimas pergi, Dita kembali ke dapur untuk membersihkan peralatan makan. Dia merasa senang bahwa pagi ini berjalan dengan baik meskipun awalnya ia merasa canggung. Tetapi dia tahu bahwa ada banyak masalah dalam hubungan mereka yang masih perlu diatasi.
Dita merasa lega setelah sarapan pagi yang sukses dan hubungan yang hangat dengan Dimas. Namun, ketika ia mulai membersihkan peralatan makan di dapur, pikirannya mulai melayang ke masalah-masalah yang selama ini menghantui pernikahan mereka. Ia tahu bahwa mereka perlu mengatasi semua masalah tersebut jika ingin menjaga pernikahan mereka tetap kuat.
Sambil mengeringkan piring, Dita memutuskan untuk menghubungi sahabatnya, Lisa. Mereka telah berteman selama bertahun-tahun dan selalu saling mendukung satu sama lain dalam setiap masalah.
Dita mengambil ponselnya dan menekan nomor Lisa. Setelah beberapa kali nada panggilan, akhirnya Lisa menjawab.
"Halo, Dita. Ada apa?" tanya Lisa dengan ramah.
"Halo, Lisa. Aku butuh seseorang untuk berbicara," jawab Dita dengan suara yang agak gemetar.
Lisa segera merasa bahwa ada sesuatu yang mengganggu Dita. "Tentu, Dita. Apa yang terjadi?"
Dita mulai berbicara, menceritakan masalah-masalah yang telah ia hadapi dalam pernikahannya dengan Dimas. Ia membicarakan ketidaknyamanannya dengan Keelan, adik iparnya, dan bagaimana itu memengaruhi perasaannya. Ia juga mengungkapkan perasaannya tentang bagaimana Dimas terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan kadang-kadang mengabaikannya.
Lisa mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian memberikan saran yang bijak dan dukungan. "Dita, pernikahan memang akan memiliki tantangan-tantangan, dan yang terpenting adalah bagaimana kita menghadapinya bersama-sama. Terbuka dan jujur dalam komunikasi adalah langkah pertama yang baik. Cobalah untuk berbicara terus terang dengan Dimas tentang perasaanmu."
Dita mengangguk. "Iya, aku tahu kamu benar. Aku hanya takut dia akan merasa aku mengeluh atau mengkritiknya."
Lisa tersenyum lembut. "Percayalah, Dita, jika dia peduli padamu, dia akan mendengarkan dan mencoba untuk memahami perasaanmu. Jangan ragu untuk berbicara tentang apa yang kamu butuhkan dalam hubungan ini."
Dita merasa lebih baik setelah berbicara dengan Lisa. Dia merasa beruntung memiliki sahabat yang selalu mendukungnya. Setelah menyelesaikan panggilan telepon, Dita kembali ke pekerjaannya membersihkan rumah.
Dia mulai membersihkan ruang tamu, mengatur ulang bunga-bunga yang ada di meja, dan merapikan kursi. Selama bekerja, dia merenung tentang pernikahannya dan masa depan mereka bersama Dimas. Meskipun ada tantangan, dia tahu bahwa mereka masih saling mencintai, dan dia ingin berjuang untuk memperbaiki hubungan mereka.
Ketika rumah mulai terlihat lebih rapi dan bersih, Dita merasa puas. Ini adalah langkah kecil, tapi penting, dalam upayanya untuk menciptakan lingkungan yang lebih positif di rumah. Dia berencana untuk melanjutkan dengan komunikasi terbuka dengan Dimas setelah rapatnya selesai, dengan harapan mereka dapat menyelesaikan masalah-masalah mereka bersama-sama.
Saat waktu berjalan, Dita mengantisipasi bahwa perjalanan mereka untuk memperbaiki hubungan pernikahan mereka akan memakan waktu dan usaha. Tetapi dengan cinta, dukungan dari sahabat seperti Lisa, dan tekad untuk mengatasi masalah, dia yakin bahwa mereka dapat melewati semua rintangan yang ada dan menjalani pernikahan yang lebih kuat dan bahagia di masa depan.
Sambil bertelepon dengan Lisa, Dita duduk di sofa sambil menikmati jajanan yang dibelinya kemarin, sepertinya Dita terlihat sedikit letih setelah melakukan tugas rumah tangga yang melelahkan. Selama bertelepon, Dita mulai menjelaskan perasaannya yang mendalam tentang belum memiliki anak setelah beberapa tahun menikah. "Lisa, kamu tahu, Dimas dan aku sudah menikah selama hampir tiga tahun, dan kami belum memiliki anak. Setiap kali kami bertemu dengan orang tua, mereka selalu bertanya tentang kapan kami akan memiliki anak. Aku merasa begitu tertekan oleh tekanan ini."
Lisa mengerti betul perasaan Dita. "Itu pasti sangat sulit, Dita. Tekanan dari orang tua bisa sangat membuat stres."
Dita melanjutkan, "Dan kemudian ada Keelan, adik ipar saya. Dia terlihat begitu misterius dan sulit didekati. Aku merasa tidak nyaman dengannya di rumah, dan aku tidak tahu apa yang dia pikirkan tentang kami."
Lisa mendengarkan dengan penuh perhatian. "Dita, penting untukmu untuk tahu bahwa tidak ada yang salah denganmu atau pernikahanmu hanya karena kamu belum memiliki anak. Semua orang memiliki waktu yang berbeda-beda dalam perjalanan mereka untuk menjadi orang tua. Dan mengenai Keelan, mungkin dia hanya butuh waktu untuk merasa nyaman denganmu. Bisa jadi dia juga merasa canggung di situasi ini."
Dita menghela nafas. "Aku tahu kamu benar, Lisa. Tapi terkadang tekanan dari orang tua dan ketidaknyamanan dengan Keelan membuatku merasa seperti aku tidak cukup baik."
Lisa berbicara dengan lembut, "Dita, kamu sangat berharga dan pantas mendapatkan kebahagiaan. Kamu juga pantas mendapatkan dukungan dari keluarga, termasuk Dimas, dalam perjalananmu untuk menjadi orang tua jika itu yang kamu inginkan. Cobalah untuk berbicara terbuka dengan Dimas tentang perasaanmu, dan cobalah juga untuk mendekati Keelan dengan tulus."
Dita mengangguk. "Aku tahu kamu benar, Lisa. Terima kasih atas dukunganmu dan pendengaranmu yang baik."
Lisa tersenyum. "Tidak perlu terima kasih, Dita. Aku selalu di sini untukmu. Dan ingat, kamu adalah istri yang luar biasa, dan kamu akan menghadapi semua rintangan ini bersama-sama dengan Dimas."
Setelah berbicara dengan Lisa, Dita merasa lega. Temannya selalu memberinya dukungan dan pandangan yang bijak. Dita tahu bahwa dia harus berbicara terbuka dengan Dimas tentang perasaannya mengenai tekanan untuk memiliki anak, dan dia juga berencana untuk mencoba mendekati Keelan dengan lebih baik.
Beberapa hari kemudian, setelah Dimas selesai dengan pekerjaannya, Dita memutuskan untuk membicarakan perasaannya dengannya. Mereka duduk bersama di ruang tamu, dan Dita mulai berbicara dengan hati-hati.
"Dimas, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan," kata Dita dengan lembut.
Dimas mengangguk, "Tentu, Dita. Apa yang ada di pikiranmu?"
Dita menjelaskan perasaannya tentang tekanan untuk memiliki anak dan bagaimana pertanyaan dari orang tua mereka selalu mengganggu pikirannya. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku mencintaimu, dan aku sangat ingin keluarga denganmu. Tapi tekanan ini membuatku merasa tertekan dan tidak cukup baik."
Dimas mendengarkan dengan perhatian. "Dita, aku tahu kamu merasakannya. Aku juga ingin keluarga denganmu, tapi aku juga tahu bahwa kita harus menghadapinya bersama-sama tanpa terburu-buru. Aku akan berbicara dengan orang tua kita dan meminta mereka untuk memberikan kita sedikit ruang."
Dita tersenyum lega. "Terima kasih, Dimas. Itu sangat berarti bagiku."
Dimas meraih tangan Dita dengan penuh kasih sayang. "Kita akan menghadapi ini bersama-sama, Dita, tanpa tekanan dari siapapun. Aku mencintaimu, dan aku ingin kamu bahagia."
Setelah pembicaraan yang mendalam dengan Dimas tentang tekanan untuk memiliki anak, Dita merasa lebih dekat dengannya daripada sebelumnya. Mereka merasa bahwa beban yang selama ini mereka rasakan telah sedikit berkurang, dan kini mereka memiliki ruang untuk tumbuh bersama dalam pernikahan mereka.
Malam itu, Dita dan Dimas memutuskan untuk membuat momen spesial bersama-sama. Mereka ingin merayakan kebersamaan mereka dan mengenang cinta yang telah mereka bagikan sepanjang tahun. Dita merencanakan sebuah makan malam romantis di rumah, dengan lilin-lilin yang menyala di atas meja makan.
Dita merasa gembira saat ia merancang menu makan malam khusus untuk Dimas. Ia mencari resep-resep favorit Dimas dan memutuskan untuk membeli hidangan yang akan membuatnya terkesan. Setelah berjam-jam berbelanja dan menyiapkan makanan tersebut di meja yang telah di hias dengan penuh cinta, makan malam pun siap untuk dinikmati, Dita menghampiri Dimas yang berada di ruang kerjanya setelah seharian bekerja work home di ruang kerja.
"Malam ini adalah malam spesial kita, sayang," ujar Dita sambil berjalan mendekati Dimas.
Dimas tersenyum dan meraih tangan Dita. "Aku tidak sabar untuk merayakan bersama denganmu."
Mereka duduk di meja makan yang dihiasi dengan indah, dan Dita mulai menyajikan hidangan-hidangan yang telah ia siapkan. Dimas terkesan oleh usaha Dita untuk menciptakan malam yang istimewa ini.
Mereka berdua menikmati makan malam dengan senyap, tetapi ekspresi di wajah mereka mengungkapkan lebih banyak daripada kata-kata yang bisa diucapkan. Mata mereka bertemu berulang kali, dan dalam tatapannya, mereka menyampaikan cinta dan rasa syukur yang mendalam satu sama lain.
Setelah makan malam selesai, Dita dan Dimas pindah ke ruang tamu, di mana lilin-lilin romantis masih menyala. Mereka duduk di sofa bersama, berpegangan tangan, dan merenungkan perjalanan mereka bersama.
"Dita," ujar Dimas dengan lembut, "aku ingin kamu tahu betapa aku beruntung memilikimu dalam hidupku. Meskipun kita menghadapi berbagai tantangan, aku tidak akan memilih untuk berada bersama siapa pun selain dirimu."
Dita tersenyum bahagia dan memandang suaminya. "Dimas, kamu membuat hidupku lengkap. Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Dan walaupun ada tekanan dari luar, kita akan menghadapinya bersama-sama, bukan?"
Dimas mengangguk setuju. "Tentu, Dita. Kita adalah pasangan yang tak terpisahkan. Bersama-sama, kita dapat mengatasi segala hal."
Malam itu berlanjut dengan percakapan penuh kasih sayang, tawa, dan rencana untuk masa depan mereka. Mereka merasa lebih dekat satu sama lain daripada sebelumnya, dan mereka yakin bahwa dengan cinta yang kuat dan komunikasi yang baik, mereka akan menghadapi setiap tantangan dengan kepala tegak.