BAB 3

1158 Kata
Bab 3 Ketika waktu berjalan, Dita dan Dimas mengakhiri malam mereka dengan tarian pelan di tengah ruang tamu yang redup. Mereka berdua menikmati momen yang indah ini, saling berpegangan erat sambil berputar di lantai yang dihiasi dengan bayangan lembut dari lilin-lilin. Setelah lagu mereda, mereka berhenti untuk saling memandang. Dalam diam, mereka merasa hubungan mereka semakin kuat dan cinta mereka semakin dalam. Meskipun ada rintangan di depan, mereka tahu bahwa mereka akan menghadapinya bersama-sama, karena cinta mereka adalah pilar yang kokoh dalam kehidupan mereka. "Dit, malam ini bolehkan?" Dimas mengedipkan matanya sambil mengendus aroma tubuh Dita yang memiliki wangi strawberry. Malam itu, Dita dan Dimas memutuskan untuk membuat momen spesial bersama-sama. Mereka ingin merayakan kebersamaan mereka dan mengenang cinta yang telah mereka bagikan sepanjang tahun. Dita merencanakan sebuah makan malam romantis di rumah, dengan lilin-lilin yang menyala di atas meja makan. Dita merasa gembira saat ia merancang menu makan malam khusus untuk Dimas. Ia mencari resep-resep favorit Dimas dan memutuskan untuk membeli hidangan yang akan membuatnya terkesan. Setelah berjam-jam berbelanja dan menyiapkan makanan tersebut di meja yang telah di hias dengan penuh cinta, makan malam pun siap untuk dinikmati, Dita menghampiri Dimas yang berada di ruang kerjanya setelah seharian bekerja work home di ruang kerja. "Malam ini adalah malam spesial kita, sayang," ujar Dita sambil berjalan mendekati Dimas. Dimas tersenyum dan meraih tangan Dita. "Aku tidak sabar untuk merayakan bersama denganmu." Mereka duduk di meja makan yang dihiasi dengan indah, dan Dita mulai menyajikan hidangan-hidangan yang telah ia siapkan. Dimas terkesan oleh usaha Dita untuk menciptakan malam yang istimewa ini. Mereka berdua menikmati makan malam dengan senyap, tetapi ekspresi di wajah mereka mengungkapkan lebih banyak daripada kata-kata yang bisa diucapkan. Mata mereka bertemu berulang kali, dan dalam tatapannya, mereka menyampaikan cinta dan rasa syukur yang mendalam satu sama lain. Setelah makan malam selesai, Dita dan Dimas pindah ke ruang tamu, di mana lilin-lilin romantis masih menyala. Mereka duduk di sofa bersama, berpegangan tangan, dan merenungkan perjalanan mereka bersama. "Dita," ujar Dimas dengan lembut, "aku ingin kamu tahu betapa aku beruntung memilikimu dalam hidupku. Meskipun kita menghadapi berbagai tantangan, aku tidak akan memilih untuk berada bersama siapa pun selain dirimu." Dita tersenyum bahagia dan memandang suaminya. "Dimas, kamu membuat hidupku lengkap. Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Dan walaupun ada tekanan dari luar, kita akan menghadapinya bersama-sama, bukan?" Dimas mengangguk setuju. "Tentu, Dita. Kita adalah pasangan yang tak terpisahkan. Bersama-sama, kita dapat mengatasi segala hal." Malam itu berlanjut dengan percakapan penuh kasih sayang, tawa, dan rencana untuk masa depan mereka. Mereka merasa lebih dekat satu sama lain daripada sebelumnya, dan mereka yakin bahwa dengan cinta yang kuat dan komunikasi yang baik, mereka akan menghadapi setiap tantangan dengan kepala tegak. Ketika waktu berjalan, Dita dan Dimas mengakhiri malam mereka dengan tarian pelan di tengah ruang tamu yang redup. Mereka berdua menikmati momen yang indah ini, saling berpegangan erat sambil berputar di lantai yang dihiasi dengan bayangan lembut dari lilin-lilin. Setelah lagu mereda, mereka berhenti untuk saling memandang. Dalam diam, mereka merasa hubungan mereka semakin kuat dan cinta mereka semakin dalam. Meskipun ada rintangan di depan, mereka tahu bahwa mereka akan menghadapinya bersama-sama, karena cinta mereka adalah pilar yang kokoh dalam kehidupan mereka. "Dit, malam ini bolehkan?" Dimas mengedipkan matanya sambil mengendus aroma tubuh Dita yang memiliki wangi strawberry. Dita menguap dan menggeliat. Hari sudah larut dan dia lelah, namun tetap saja perutnya terasa berdebar-debar saat menatap ke arah Dimas. Dia berdiri dan berjalan ke arahnya. Dimas mendongak ke arahnya dan mereka berdua membiarkan keheningan menyelimuti udara. Dita meletakkan tangannya di pipinya dan menariknya mendekat. "Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpamu, Dimas," ucapnya lirih. Dimas menciumnya lagi, memegangi kepalanya erat-erat. Dimas menggendong Dita dan membawanya ke kamar tidur mereka, dengan lembut membaringkannya di tempat tidur. Dia bergerak ke belakangnya, dengan lembut mencium leher dan bahunya saat dia menarik gaun itu dari bahunya dan menyisihkannya. Dita tersenyum saat melakukannya, momen itu terasa sangat familiar. "Aku suka cara kulitmu bersinar dalam cahaya ini," gumam Dimas, suaranya serak penuh gairah. "Aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam memuja kecantikanmu.” Sambung Dimas. Dita memejamkan mata, napasnya semakin dalam karena nikmat sambil sedikit menoleh. "Oh Dimas... kamu tahu betul bagaimana membuatku merasa istimewa.” Mata Dimas menyipit penuh gairah sambil kembali bergerak ke belakang Dita sambil menarik lembut tali gaunnya. Bibir Dimas menyerempet leher Dita sambil berbisik di telinganya. "Ssst, santai saja sayang. Aku ingin kamu menikmati ini." Dita terkekeh pelan, tubuhnya sedikit rileks menikmati momen tersebut. “Seolah-olah aku bisa melupakan betapa nikmatnya rasanya,” bisiknya. Bibir Dimas melengkung menyeringai jahat sambil menarik gaun Dita dari tubuhnya, matanya berbinar penuh nafsu. Dimas mengusap sisi wajah Dita, jantungnya berdebar kencang karena semangat. Tatapannya melembut saat ia memandang Dita di hadapannya, wujud halusnya tertelanjang di hadapannya, kulitnya berkilau karena cahaya bintang di luar. "Kamu terlihat sangat cantik," desahnya, suaranya serak karena cintanya pada wanita itu. "Aku tidak akan pernah puas denganmu, sayangku." Mata Dita terbuka, tatapannya bertemu dengan intensitas yang sama. Dimas mengusap sisi wajah Dita, jantungnya berdebar kencang karena semangat. Tatapannya melembut saat ia memandang Dita di hadapannya, wujud halusnya terlihat di hadapannya, kulitnya berkilau karena cahaya bintang di luar. Dimas menarik Dita ke dekatnya, memeluknya erat-erat. Dia membenamkan wajahnya ke rambut lembut Dita, menghirup harumnya rambut Dita. "Aku merasa cinta ini memang memang ditakdirkan," bisik Dimas. "Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar aman, sepenuhnya puas." Dita menghela nafas pelan, tubuhnya melebur ke dalam tubuhnya. “Aku sudah lama menantikan momen ini, Dimas,” bisiknya. "Aku bisa menciummu sampai matahari terbit." Tangan Dimas menyerempet lekuk tubuh Dita yang perlahan bergerak semakin menuruni wujudnya. Dita memejamkan mata, tubuhnya gemetar karena kegirangan saat dia semakin mencondongkan tubuh ke arahnya. "Dita," bisiknya parau sambil menggerakkan tangannya menyusuri sosok Dita. "Dimas..." dia terkesiap, suaranya terengah-engah. Tangan Dimas terhenti saat tatapannya bertemu dengan Dita. "Bagaimana kalau kita melanjutkan?" dia berbisik. Dimas dengan hati-hati melepas pakaian Dita dari tubuhnya, bibir Dimas menyentuh kulit sensitif Dita saat melakukannya. Dita menghela nafas pelan, matanya terpejam. Dimas membiarkan salah satu tangannya bertumpu pada tubuh Dita sambil mengelus pinggulnya. "Aku ingin kamu merasa baik," desahnya. Nafas Dita menjadi berat dan bergetar seiring sentuhan Dimas yang semakin kuat, pinggulnya bergerak sedikit ke arahnya. Nafas Dita menjadi cepat seiring sentuhan Dimas yang semakin dalam. Pinggul Dita bergerak ke arah Dimas, menekannya erat-erat saat gerakannya menjadi semakin tidak menentu. Dia terengah-engah dan mendesah saat tubuhnya bergetar. Cengkeraman Dimas pada dirinya semakin erat, bibirnya menyentuh lehernya. “Aku tidak akan bisa mengendalikan diriku lebih lama lagi,” bisiknya, jantungnya berdebar kencang saat tangannya semakin menyusuri tubuh Dita. Dita mengerang pelan, tubuhnya gemetar karena kegirangan. Tangan Dimas meraih area sensitifnya, sentuhannya mengirimkan rasa geli ke sekujur tubuh Dita. Dita menghela napas keras sambil sedikit melengkungkan punggungnya dengan kelopak mata yang terpejam. Tubuh Dita bergetar, nafasnya menjadi cepat dan berat. Dimas juga terlihat lebih bersemangat saat dia melanjutkan. Nafas Dita berubah menjadi gemetar dan panik, matanya terbuka lebar sambil mengerang pelan nikmat. Malam ini adalah surga bagi mereka berdua.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN