BAB 4

1683 Kata
Bab 4 Pagi hari tiba dengan cahaya matahari yang lembut masuk melalui jendela kamar tidur Dita dan Dimas. Mereka terbangun dalam pelukan satu sama lain, dan senyum bahagia terukir di wajah mereka. Malam sebelumnya telah meninggalkan mereka dengan perasaan cinta dan kedekatan yang mendalam, dan mereka merasa lebih dekat satu sama lain daripada sebelumnya. Dita membuka mata terlebih dahulu dan melihat wajah tampan Dimas yang tidur dengan tenang di sebelahnya. Dia membiarkan tangannya berjalan lembut di sepanjang tubuh suaminya, merasakan kehangatan yang mengalir di bawah selimut. Dita tersenyum dalam hati, merasa beruntung memiliki seorang suami seperti Dimas. Sementara itu, Dimas mulai terbangun dan merasa sentuhan lembut Dita di tubuhnya. Dia membuka mata dan tersenyum saat melihat istri tercinta yang memandanginya dengan mata penuh cinta. "Pagi, sayang," kata Dita dengan lembut. Dimas tersenyum dan mencium bibir Dita dengan lembut. "Pagi, istriku tercinta. Kemarin malam benar-benar istimewa." Mereka berdua tersenyum dan berbincang-bincang sejenak tentang momen-momen indah yang mereka bagikan malam sebelumnya. Kemudian, mereka bergerak perlahan-lahan untuk bangun dari tempat tidur dan bersiap-siap untuk memulai hari mereka. Setelah mandi dan berpakaian, Dita dan Dimas pergi ke dapur bersama-sama untuk sarapan. Mereka saling membantu dalam persiapan makanan dan berbicara tentang rencana mereka untuk hari ini. Dita berencana untuk menjalani hari dengan lebih rileks dan berfokus pada perbaikan hubungan mereka. Saat mereka duduk untuk sarapan, Dimas menatap Dita dengan ekspresi penuh perasaan. "Dita, aku ingin kamu tahu betapa aku mencintaimu. Malam kemarin dan pagi ini, semuanya begitu istimewa bagiku." Dita tersenyum dan meraih tangan Dimas di atas meja. "Aku juga mencintaimu, Dimas. Kita telah melewati banyak hal bersama, dan aku yakin kita akan menghadapi masa depan dengan lebih kuat." Dimas mengangguk setuju. "Kita akan menjalani setiap hari dengan cinta dan dukungan satu sama lain." Setelah sarapan selesai, mereka memutuskan untuk menghabiskan pagi ini dengan berjalan-jalan di taman yang indah di dekat rumah mereka. Matahari bersinar cerah, dan mereka berdua menikmati momen berjalan bersama sambil bercanda dan tertawa. Saat mereka berjalan-jalan, Dita melanjutkan pembicaraan yang mereka mulai pada malam sebelumnya tentang perasaannya terkait tekanan untuk memiliki anak. "Dimas, aku tahu kita sudah membicarakannya sebelumnya, tapi aku ingin memastikan bahwa kita berdua merasa nyaman dengan keputusan kita tentang memiliki anak." Dimas mengangguk, menunjukkan bahwa dia juga ingin membahas topik tersebut. "Aku ingin kita tahu bahwa itu adalah keputusan yang harus kita buat bersama. Aku tidak akan pernah memaksamu atau merasa bahwa kamu harus menghadapi tekanan ini sendirian." Dita tersenyum, merasa bersyukur memiliki suami yang memahami perasaannya. "Terima kasih, Dimas. Aku merasa lega mendengar itu. Aku ingin kita berdua merasa siap, dan kita akan tahu kapan saat yang tepat." Mereka berdua merasa lebih dekat satu sama lain setelah pembicaraan ini dan tahu bahwa mereka akan mengambil keputusan tentang keluarga mereka bersama-sama dengan bijaksana. Dita dan Dimas melanjutkan berjalan-jalan di taman yang indah. Taman itu dipenuhi dengan kebahagiaan, terutama karena banyak anak-anak kecil bermain dengan riang di area bermain, dan orang tua mereka tersenyum bahagia sambil mengawasi mereka. Dita merasa seperti ada kilatan kilat di benaknya saat dia melihat suasana itu. Dia melihat anak-anak yang tertawa, berlari, dan bersenang-senang dengan tak terkendali, dan tiba-tiba, perasaan kehilangan yang mendalam menghantamnya. Dia merasa bagaikan seorang penonton dalam permainan kebahagiaan ini, sedangkan dirinya dan Dimas belum bisa bergabung dalam permainan tersebut. Saat Dita melihat orang tua yang bahagia, terlihat saat mereka mendekap anak-anak mereka atau tersenyum melihat anak-anak mereka bersenang-senang, hatinya makin berat. Dia merasa seperti ada tekanan yang semakin besar, mengingatkannya pada kenyataan bahwa mereka belum memiliki anak setelah hampir tiga tahun menikah. Dimas merasa bahwa ada perubahan dalam ekspresi Dita dan menghentikan langkahnya. "Ada yang salah, sayang?" tanyanya dengan kekhawatiran. Dita mencoba tersenyum untuk menyembunyikan perasaannya, tetapi suaminya mengenalinya dengan baik. "Tidak, tidak ada yang salah. Aku hanya melihat anak-anak itu dan merasa... merindukan sesuatu." Dimas meraih tangan Dita dengan lembut. "Kamu tahu, Dita, kita memiliki waktu, dan kebahagiaan kita tidak harus dipengaruhi oleh apakah kita memiliki anak atau tidak. Kita bisa memiliki kebahagiaan kita sendiri, bersama-sama." Dita mengangguk, menghargai kata-kata penyemangat Dimas. Namun, perasaannya tentang tekanan dari luar untuk memiliki anak dan ketidakpastian tentang masa depan mereka masih menyiksa pikirannya. Ia merasa bahwa meskipun Dimas selalu mendukungnya, ada sesuatu yang mengganjal dalam dirinya. Mereka berdua melanjutkan berjalan, tetapi suasana hati Dita tetap terganggu. Dia merasa seperti ada sesuatu yang belum terpecahkan dalam pikirannya, dan dia tahu bahwa dia perlu mencari jalan untuk mengatasi perasaan ini. Saat Dita dan Dimas melanjutkan berjalan di taman, mereka berusaha untuk lebih menikmati momen bersama dan melupakan perasaan Dita yang terganggu. Mereka berbicara tentang rencana masa depan mereka dan berbagi tawa, mencoba untuk meredakan ketegangan yang masih ada dalam hati Dita. Tiba-tiba, seorang anak perempuan berusia sekitar enam tahun berlarian tanpa henti, dengan es krim cokelat di tangan kanannya dan wajah yang bersemu meriah. Anak itu tidak melihat Dita yang berjalan di depannya dan dengan ceroboh menabrak kakinya. "Oops, maaf!" seru anak perempuan itu dengan riang. Dia memiliki rambut hitam keriting yang tak terkendali dan mata hitam yang berbinar-binar. Dita merasa terkejut oleh tabrakan tak terduga itu, dan es krim yang ada di tangan anak itu tumpah dan menetes ke baju Dita. Meskipun ada sedikit kekacauan, Dita tidak bisa marah pada seorang anak kecil yang jelas-jelas tidak sengaja. "Sudah tidak apa-apa, sayang," kata Dita sambil tersenyum. "Itu hanya kecelakaan." Anak perempuan itu terlihat lega mendengar tanggapan Dita. "Maaf, tante. Aku tidak sengaja." Dita berjongkok untuk berada pada tingkat mata anak itu dan berkata dengan lembut, "Tidak apa-apa, sayang. Tidak ada yang perlu dikecewakan. Nama kamu siapa?" Anak itu menyeka tangan kotornya ke bajunya dengan pola es krim yang mencolok. "Aku Zoe, tante." Dita tersenyum dan meraih tangan Zoe dengan lembut. "Salam kenal, Zoe. Aku Dita." Dimas, yang juga tersenyum melihat pertukaran ramah ini, berkata, "Kamu harus lebih hati-hati, Zoe. Tetapi tidak apa-apa, kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja." Zoe mengangguk dengan tulus. "Aku janji akan lebih hati-hati, om." Dita melihat ke es krim yang tumpah di bajunya dan tertawa. "Nah, sepertinya aku perlu mengganti baju dulu. Tapi itu bukan masalah, kita semua memiliki kejadian lucu dari hari ini, bukan?" Zoe tersenyum lebar. "Ya, tante! Tante gak marah kan?" Dita tersenyum lebar kembali. "Tidak, aku sama sekali tidak marah. Kita semua harus berhati-hati di taman, ya?" Mereka berdua tertawa, dan Dita membantu Zoe membersihkan tangannya sebelum anak itu berlari kembali ke ibunya yang menunggu di dekat sana. Dimas dan Dita melanjutkan berjalan mereka, tetapi kali ini, perasaan Dita sudah jauh lebih baik. Pertemuan singkat dengan Zoe dan kejadian lucu itu telah mengalihkan perhatiannya dari perasaan cemasnya, dan dia merasa lebih ringan hati. Dimas meraih tangan Dita dan tersenyum. "Lihat, sayang, bahkan kejadian kecil seperti itu bisa membuat kita tersenyum. Kita hanya perlu menghadapi satu langkah sekaligus." Dita mengangguk setuju, merasa bersyukur atas pemahaman dan dukungan suaminya. Mereka berdua melanjutkan berjalan dengan penuh cinta dan keyakinan bahwa mereka dapat menghadapi setiap rintangan bersama-sama. Setelah berjalan-jalan di taman, mereka kembali ke rumah dan merencanakan makan siang bersama. Dita memasak hidangan favorit Dimas, dan mereka menikmati waktu makan yang penuh kebahagiaan. Saat mereka duduk bersama di meja makan, Dimas mengambil tangan Dita lagi. "Dita, ada hal lain yang ingin aku bicarakan. Aku ingin kita berdua menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama, tidak hanya untuk pekerjaan dan tanggung jawab sehari-hari, tapi juga untuk kenangan yang istimewa." Dita tersenyum, merasa senang dengan saran Dimas. "Aku setuju, Dimas. Kita harus merencanakan lebih banyak momen istimewa bersama-sama, seperti malam ini. Aku ingin kita memiliki lebih banyak kenangan yang indah." Dimas mengangguk dan mencium tangan Dita. "Aku akan berusaha lebih keras lagi untuk membuat waktu untuk kita berdua. Kita harus selalu menjaga api cinta kita tetap menyala." Mereka menyelesaikan makan siang dengan senyum dan perasaan optimis tentang masa depan mereka. Setelah makan, mereka memutuskan untuk bersantai sejenak di teras belakang rumah mereka. Mereka duduk di kursi berdampingan, menikmati sinar matahari yang hangat di wajah mereka. Dalam keheningan yang nyaman, mereka merenung tentang perjalanan mereka bersama, tantangan yang telah mereka atasi, dan cinta yang semakin mendalam. Dita merasa begitu beruntung memiliki Dimas sebagai pasangan hidupnya, dan dia tahu bahwa bersama-sama, mereka bisa menghadapi segala sesuatu yang datang. Mereka saling berpegangan tangan, menatap ke depan dengan keyakinan dan harapan yang sama. Pagi yang indah ini adalah awal dari babak baru dalam pernikahan mereka, dan mereka berdua siap untuk menjalani setiap hari dengan cinta dan dedikasi satu sama lain. Setelah bersantai sejenak, mereka memutuskan untuk pergi berbelanja bersama-sama. Dita memiliki beberapa ide untuk menghias ulang ruang tamu mereka, dan Dimas dengan senang hati menawarkan bantuan dan pendapatnya. Beberapa jam berlalu, dan Dita merasa semakin bingung tentang apa yang sebenarnya dia inginkan dan bagaimana dia harus mengatasi perasaan tekanan yang terus-menerus ini. Dia merasa kesepian dalam konflik yang sedang dialaminya. Ketika Dimas melihat istri tercintanya berada dalam keadaan bingung seperti ini, ia merasa cemas. Ia mendekati Dita dengan penuh perhatian dan duduk di sampingnya di sofa. "Dita, ada apa yang sedang kamu pikirkan? Apakah kamu ingin berbicara tentang ini?" tanyanya dengan lembut. Dita menoleh ke arah Dimas, mata penuh dengan ketidakpastian. "Aku tidak tahu, Dimas. Aku merasa seperti ada tekanan yang datang dari luar dan dari dalam diriku sendiri. Aku tidak tahu apa yang seharusnya aku rasakan atau lakukan." Dimas memahami perasaan Dita dengan baik. Dia meraih tangannya dan berkata, "Dita, aku tahu ini sulit. Tapi kita akan menghadapinya bersama-sama. Kita akan mencari jawaban dan membuat keputusan bersama." Dita merasa lega mendengar dukungan Dimas. Dia tahu bahwa mereka harus mengatasi perasaan ini bersama-sama, dan dia akan berusaha untuk berbicara lebih terbuka tentang perasaannya. Ketika malam tiba, Dita dan Dimas memutuskan untuk menghabiskan waktu bersama-sama dengan menonton film favorit mereka. Mereka merapikan sofa dan menyiapkan cemilan, lalu duduk berdampingan untuk menikmati film tersebut. Selama film berlangsung, mereka tertawa, berkomentar tentang adegan-adegan yang mereka nikmati, dan sesekali berbagi ciuman lembut. Mereka merasa bahagia berada satu sama lain, di dalam pelukan yang hangat. Saat Dita dan Dimas menikmati film romantis di ruang tamu mereka, mereka benar-benar terperangkap dalam dunia cerita yang mereka tonton. Mereka tertawa pada momen lucu, mendesah pada momen romantis, dan terhubung secara emosional dengan karakter-karakter dalam film itu. Setiap adegan yang mereka saksikan membuat mereka merasa semakin dekat satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN