BAB 5

1131 Kata
Bab 5 Tetapi tiba-tiba, suasana hati yang bahagia itu terganggu oleh kedatangan yang tak terduga. Pintu depan rumah terbuka perlahan, dan Keelan, adik laki-laki Dimas yang berusia 16 tahun, muncul dengan langkah yang pelan. Dia terlihat pucat, dan wajahnya memiliki luka lebam yang jelas terlihat. Dita dan Dimas seketika terkejut dan khawatir melihat Keelan dalam kondisi seperti itu. Mereka segera bangkit dari sofa dan mendekati adik laki-laki Dimas. "Keelan, apa yang terjadi padamu?" tanya Dimas dengan khawatir. Keelan menatap ke bawah, seolah enggan untuk berbicara. Dia selalu terkenal sebagai anak yang pendiam dan tertutup, dan ini membuat Dita dan Dimas semakin khawatir. Dita mencoba bersikap lebih lembut. "Keelan, apa yang terjadi? Kami khawatir." Keelan akhirnya mengangkat wajahnya, dan matanya terlihat berair. "Sudahlah, jangan khawatirkan aku," ujarnya dengan suara pelan. Tetapi Dita dan Dimas bisa melihat bahwa ini bukanlah masalah kecil. Luka di wajah Keelan cukup serius, dan mereka merasa perlu mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dimas meraih bahu Keelan dengan lembut. "Keelan, kita peduli padamu. Kami ingin tahu apa yang telah terjadi. Kami di sini untukmu." Keelan terlihat ragu-ragu, tetapi dia memilih untuk tetap diam, Dita mendekati Keelan dan meletakkan tangan di bahunya dengan lembut. "Keelan, kamu tidak sendiri dalam menghadapi ini. Kami akan membantu dan mendukungmu." Keelan, meskipun masih terlihat tertutup, mengangguk sebagai tanda bahwa dia menghargai dukungan dari abang dan kakak iparnya. Setelah Dita membersihkan luka-lebam di wajah Keelan dan memberinya dukungan, Keelan memutuskan untuk berbalik arah dan berjalan menuju kamarnya. Namun, begitu dia mencapai ruang tamu, dia berhenti dan duduk di sofa. Wajahnya terlihat serius dan berpikir keras. Dimas menyadari bahwa adiknya ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Dia duduk di sebelah Keelan dan bertanya, "Ada yang ingin kamu bicarakan, Keelan?" Keelan menoleh ke arah abangnya dengan ekspresi serius. "Mas, bisa belikan aku ponsel baru?" Dimas terkejut mendengar permintaan ini, terutama karena Keelan tidak memberikan alasan apapun untuk mengganti ponselnya yang rusak. "Kenapa kamu butuh ponsel baru, Keelan? Apa ponselmu rusak?" Keelan mengangguk, "Iya, Mas. Ponselku pecah. Tapi aku ingin yang baru, bukan yang diperbaiki." Dimas merasa bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dalam permintaan Keelan ini. Dia tahu bahwa adiknya adalah anak yang pendiam dan tidak pernah meminta sesuatu tanpa alasan yang kuat. "Keelan, ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan?" tanya Dimas dengan lembut. "Kamu bisa berbicara denganku." Keelan menatap lantai, merasa ragu untuk berbicara tentang perasaannya. Akhirnya, dia memutuskan untuk membuka diri. "Aku hanya merasa... aku merasa terpinggirkan, Mas." Dimas mengangguk, memahami bahwa ini lebih dari sekadar ponsel. "Terpinggirkan dalam arti apa, Keelan?" Keelan menghela nafas. "Semua teman-temanku memiliki ponsel baru, dan mereka bisa bermain game bersama, mengirim pesan, dan semuanya. Tapi aku selalu merasa tertinggal karena ponselku yang rusak. Aku merasa seperti tidak bisa terlibat dalam hal-hal yang mereka lakukan." Dimas meraih bahu Keelan dengan lembut. "Keelan, kamu tahu bahwa kita akan selalu ada untukmu, bukan? Ponsel bukanlah yang menentukan seberapa berharga kamu bagi kami." Keelan menatap abangnya dengan kesal. "Tapi, Mas, aku hanya ingin merasa seperti aku bisa menjadi bagian dari mereka, seperti aku punya sesuatu yang sama dengan teman-temanku." Dimas tersenyum lembut. "Kamu selalu menjadi bagian dari kami, Keelan. Dan aku akan membelikanmu ponsel baru. Tapi ingatlah, kebahagiaan dan keberhargaanmu tidak hanya tergantung pada ponsel atau benda lainnya. Kamu sangat berharga bagi kami, apapun yang terjadi." Keelan menggelengkan kepalanya . “Mas, kamu bisa bilang kayak gitu karena kamu tidak pernah tahu apa yang aku rasakan, aku juga malas menceritakan apapun padamu karena kamu tuh gak pernah ada waktu untukku, kamu hanya sibuk dengan mbak Dita dan pekerjaanmu saja selama ini." Kata-kata Keelan menghantam Dimas seperti pukulan tak terduga. Matanya yang penuh kemarahan dan frustasi adalah pemandangan yang sangat jarang terlihat oleh Dimas. Dia memahami bahwa adiknya telah menahan perasaannya selama ini, dan sekarang semuanya tumpah begitu saja. Dimas mencoba menjawab dengan bijaksana, meskipun dirinya juga merasa tersakiti oleh kata-kata Keelan. "Aku minta maaf jika kamu merasa tidak diperhatikan, Keelan. Aku tahu bahwa aku telah sibuk dengan pekerjaanku, tetapi aku selalu berusaha untuk menyisihkan waktu untukmu dan keluarga kita." Keelan tidak bisa menahan emosinya lagi. "Tapi itu tidak cukup, Mas! Aku merasa seperti aku hanyalah orang yang tidak berarti di antara semua orang dalam keluarga ini. Aku ingin merasa dihargai dan diperhatikan, bukan hanya sebagai 'adik kecil'." Dimas merasa ngeri dan menyesal karena tidak menyadari perasaan Keelan selama ini. "Aku sangat menyesal, Keelan. Aku tidak tahu bahwa kamu merasa seperti ini. Kamu sangat berharga bagi kami, dan aku akan berusaha lebih baik lagi untuk hadir dalam kehidupanmu." Keelan masih merasa marah dan terluka, tetapi dia juga merasa sedikit lega bahwa akhirnya dia bisa berbicara tentang perasaannya. "Aku hanya ingin diperlakukan sebagaimana mestinya, Mas. Aku ingin merasa dihargai." Dimas meraih bahu Keelan dengan lembut. "Kamu sangat dihargai, Keelan. Aku akan berbicara dengan Bapak dan Ibu tentang perasaanmu, dan kita akan mencoba membuat situasi ini lebih baik untukmu. Aku berjanji akan lebih mendengarkanmu dan hadir dalam hidupmu." Keelan merasa bahwa setidaknya ada sedikit harapan untuk perubahan setelah mendengar janji dari abangnya. Meskipun masih ada rasa marah dan kecewa, dia tahu bahwa keluarganya akan berusaha untuk memperbaiki hubungan mereka. Keelan tertawa meledek. "Yakin, mas? Gimana kalau kamu dan mbak Dita udah punya anak? Aku yakin kamu hanya akan seperti mbak Tami yang mengabaikanku, capek aku mas! Padahal kupikir kamu tuh lebih baik dari mbak Tami, sama aja.” Keelan berjalan meninggalkan mereka berdua menuju kamarnya. Ketika Keelan tertawa meledek dan memberikan komentarnya, hati Dimas dan Dita terasa teriris. Mereka merasa tertantang oleh kata-kata Keelan, yang merujuk pada perasaannya yang tertinggal di antara anak-anak yang lebih tua dan bahagia di keluarga mereka. Dimas merasa kehilangan. Dia merasa dilema antara tanggung jawab sebagai suami dan calon ayah dengan perasaan Keelan sebagai adiknya. "Dita, aku tahu aku harus berbicara dengan Bapak dan Ibu tentang perasaan Keelan. Tapi aku juga tahu bahwa kita berdua harus membahas perasaan kita sendiri tentang memiliki anak." Dita mengangguk setuju. "Benar, Mas. Kita tidak boleh mengabaikan perasaan Keelan, tetapi kita juga harus membahas apa yang terbaik untuk kita berdua dan perjalanan kita untuk menjadi orang tua." Mereka berdua merasa terbebani oleh kompleksitas perasaan dalam keluarga mereka. Sambil berpegangan tangan, mereka merasa perlu untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama sebagai pasangan, sambil tetap mendukung Keelan dalam prosesnya. Setelah kejadian itu, mereka kembali ke kamar tidur mereka, kali ini dengan perasaan tenang dan damai. Mereka tahu bahwa cinta mereka adalah dasar yang kokoh dalam pernikahan mereka, dan mereka siap untuk menghadapi masa depan bersama-sama. Pagi hari berikutnya, mereka terbangun dalam pelukan satu sama lain lagi, dan senyum bahagia terukir di wajah mereka. Dita dan Dimas tahu bahwa setiap hari adalah kesempatan untuk memperkuat cinta mereka dan menjalani kehidupan yang bahagia bersama-sama. Mereka merangkul satu sama lain dengan penuh kasih sayang, siap untuk menghadapi apa pun yang datang, dan bersama-sama, mereka akan merayakan setiap momen indah dalam pernikahan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN