BAB 6

1267 Kata
Bab 6 Pagi hari berikutnya, saat matahari mulai muncul di langit, Dita bangun dari tidurnya. Dia merasa bahagia dan penuh cinta dalam pelukan Dimas. Mereka berdua saling tersenyum, tahu bahwa hari ini akan menjadi hari yang istimewa. Namun, saat mereka bercengkrama mesra, tiba-tiba pintu kamar mereka terbuka dengan keras. Mertua Dita bernama Bu Lasmi, yang dikenal sebagai seorang wanita cerewet dan suka mencampuri urusan anaknya, memasuki kamar dengan ekspresi wajah yang serius. "Ah, pagi yang indah untuk bermesraan, bukan?" ujar Bu Lasmi dengan nada sinis. Dita dan Dimas terkejut dan segera duduk dengan tergesa-gesa. "Maaf, Bu, kami tidak tahu Anda akan datang," kata Dita, mencoba menjaga ketenangan. Bu Lasmi menggelengkan kepala dengan tegas. "Sudah seharusnya kamu tahu, Dita. Ini adalah rumah keluarga, dan kamu harus menghormati aturan kami." Dimas mencoba untuk berbicara, "Maaf, Bu, kami tidak bermaksud mengganggu. Kami hanya merasa bersyukur pada pagi ini." Namun, Bu Lasmi masih tidak puas. Dia mulai mencari-cari alasan untuk mengkritik Dita. "Kenapa kamu tidur telanjang di depan anakku? Kamu pikir kamu bisa melakukan apa saja di rumah ini?" Dita merasa malu dan tersinggung oleh komentar mertuanya. Dia mencoba menjelaskan, "Maafkan kami, Bu. Kami tidak bermaksud untuk menyinggung perasaan siapapun." Bu Lasmi masih belum puas. Dia melanjutkan dengan kritiknya, "Dan rumah ini kotor! Kamu pikir kamu bisa hanya berfoya-foya tanpa menjaga kebersihan?" Dimas mencoba untuk menjawab dengan sabar, "Kami akan membersihkan rumah, Bu. Kami tidak bermaksud untuk mengganggu Anda." Namun, Bu Lasmi tidak membiarkan mereka berbicara lebih lama. Dia terus menerus mencela Dita dan memarahinya dengan berbagai alasan, menciptakan suasana yang tidak nyaman di pagi yang seharusnya bahagia. Dita mencoba untuk menjaga ketenangan dan tidak menanggapinya. Dia tahu bahwa dia harus menjaga hubungan baik dengan keluarga Dimas, meskipun mertuanya ini sulit dihadapi. Akhirnya, setelah beberapa saat yang tidak menyenangkan, mertua Dita pergi dari kamar mereka dengan marah. Dita dan Dimas merasa lega saat dia pergi, meskipun mereka masih merasakan tekanan dari kunjungan tak terduga itu. Dimas meraih tangan Dita dengan lembut. "Maafkan atas perilaku ibuku, sayang. Kamu tahu bagaimana dia." Dita tersenyum dan mencium pipi Dimas. "Tidak apa-apa, Mas. Kita harus tetap bersabar dan menjaga hubungan baik dengan keluarga kita." Mereka saling melemparkan senyuman, menguatkan satu sama lain dalam menghadapi cobaan yang tidak terduga itu. Meskipun pagi itu dimulai dengan konflik, mereka tahu bahwa cinta mereka akan membawa mereka melalui segala rintangan, dan mereka siap untuk menghadapi apa pun yang datang bersama-sama. Setelah kejadian tidak menyenangkan dengan mertuanya, Dita dan Dimas mencoba untuk kembali merasakan kenyamanan dalam hubungan mereka. Mereka berdua meninggalkan konflik pagi itu di belakang mereka dan memutuskan untuk memasak sarapan bersama sebagai cara untuk mempererat hubungan mereka. Mereka berdua tahu bahwa keluarga adalah prioritas, dan mereka ingin menciptakan lingkungan yang harmonis. Dita dan Dimas bergandengan tangan menuju ke dapur, siap untuk memulai persiapan sarapan. Mereka berdua tertawa dan bercanda saat memilih resep yang ingin mereka coba. Namun, saat Dita mulai memasak, suasana hati mereka kembali terganggu oleh mertua Dita, yang memasuki dapur dengan ekspresi ketidakpuasan yang jelas terlihat. "Mengapa kamu harus memasak, Dita? Bukankah kamu tahu bahwa kamu tidak pandai memasak?" kata mertua Dita dengan nada menghakimi. Dita mencoba untuk tetap tenang dan menjawab dengan sopan, "Maaf, Bu. Kami hanya mencoba sesuatu yang baru bersama-sama. Saya ingin memasak untuk Dimas." Mertua Dita menggelengkan kepala dengan sinis. "Tentu saja, kamu ingin memanjakan anak saya. Tapi kamu tahu bahwa kamu tidak pantas berdiri di dapur." Dimas mencoba untuk membela Dita. "Bu, Dita ingin belajar. Kami berdua ingin mencoba hal-hal baru bersama-sama." Namun, mertua Dita tetap pada pendiriannya. Dia terus mencemooh Dita dan mengkritik setiap langkahnya dalam memasak. Dia bahkan mencoba untuk menjatuhkan harga diri Dita dengan berkomentar pedas tentang berbagai hal, termasuk masalah Dita yang belum memberikan cucu. "Dita, kamu memang tidak bisa memasak, tapi setidaknya kamu bisa memberikan cucu untuk kami, bukan?" kata mertua Dita dengan nada tajam. Dita merasa sangat terluka oleh komentar pedas itu. Dia mencoba untuk menjaga ketenangan dan tidak menanggapi dengan marah. "Kami belum siap untuk memiliki anak, Bu. Kami ingin menjalani pernikahan kami dengan lebih dulu." Namun, mertua Dita tidak puas dengan penjelasan itu. Dia terus menyerang Dita dengan komentar yang menusuk. Dita merasa semakin tertekan dan tidak berdaya di bawah serangan kata-kata yang pedas. Dimas mencoba untuk melindungi Dita dari cemoohan ibunya. "Bu, tolong hentikan. Kami hanya ingin mencoba sesuatu yang baru bersama-sama. Kami tahu bahwa keluarga adalah penting, tetapi kami ingin melakukannya dengan cara kami sendiri." Mertua Dita terdiam sejenak, tetapi kemudian melanjutkan dengan ketus. "Kamu selalu berbicara tentang 'cara kami sendiri,' tetapi apa yang kamu tahu? Kamu belum memiliki pengalaman." Dita mulai menangis, terluka oleh perkataan ibu mertuanya yang kasar. Dia merasa tidak dihargai dan ditolak dalam keluarga Dimas. Meskipun dia tahu bahwa mereka mencoba untuk menciptakan kebahagiaan bersama, dia merasa semakin jauh dari pencapaian itu. Dimas mencoba untuk menghibur Dita, meraih tangannya dengan penuh kasih sayang. "Dita, jangan biarkan kata-kata ibuku merusak hari kita. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama, dan tidak ada yang bisa merusak cinta kita." Dita mencium pipi Dimas, berterima kasih atas dukungannya. "Terima kasih, Mas. Aku hanya ingin ciptakan kedamaian dalam keluarga kita." *** Setelah kejadian itu, mereka selesai memasak sarapan bersama-sama meskipun suasana hati mereka masih terganggu. Mereka tahu bahwa mereka harus tetap bersabar dan berusaha untuk memahami perasaan Bu Lasmi, meskipun itu tidak selalu mudah. Ketika Dita dan Dimas sedang makan, suasana hati mereka membaik setelah insiden dengan mertua Dita tadi pagi. Mereka tertawa dan berbicara tentang rencana-rencana masa depan mereka. Namun, tiba-tiba, pak Radit, ayah Dimas, yang juga merupakan mertua laki-laki Dita, memberikan komentar yang mengganggu. Pak Radit memandang Dimas dengan serius dan mulai berbicara, "Dimas, aku ingin bicara denganmu tentang sesuatu yang penting." Dimas merasa tegang mendengar kata-kata awal ayahnya yang serius. "Tentu, Ayah. Apa yang ingin kamu bicarakan?" Pak Radit memandang Dita sejenak sebelum kembali menatap Dimas. "Kamu tahu betapa pentingnya keluarga dalam hidup kita, bukan?" Dimas mengangguk, "Ya, Ayah. Keluarga adalah hal yang sangat berharga bagi kami." Pak Radit mengangguk. "Tepat. Keluarga adalah pondasi yang kuat. Dan sebagai orang tua, aku berharap keluargamu akan melanjutkan nama keluarga kita." Dimas mulai merasa khawatir dengan arah pembicaraan ayahnya. "Apa yang kamu maksud, Ayah?" Pak Radit mengambil napas dalam-dalam. "Dimas, kamu tahu bahwa sudah saatnya kamu dan Dita memiliki anak. Aku ingin melihat cucu-cucuku tumbuh dan melanjutkan garis keturunan kita." Dita merasa terkejut dan tidak nyaman mendengar pernyataan itu. Dia merasa seolah-olah tekanan untuk memiliki anak telah menjadi lebih besar. Namun, dia juga mengerti pentingnya keluarga dalam pandangan ayah Dimas. Dimas mencoba menjelaskan situasinya dengan hati-hati. "Ayah, kami berdua ingin memiliki anak, tetapi kami juga ingin melakukannya pada waktu yang tepat. Kami ingin memastikan bahwa kami siap untuk menjadi orang tua yang baik." Pak Radit mengerutkan kening, tampak tidak puas dengan jawaban tersebut. "Dimas, kamu tahu bahwa usia adalah faktor penting dalam memiliki anak. Aku tidak ingin melihatmu menunda-nunda hal ini terlalu lama." Dita mencoba berbicara dengan lembut. "Pak Radit, kami memahami perasaan Anda, tetapi kami ingin memastikan kami dapat memberikan yang terbaik untuk anak kami nanti. Kami juga ingin fokus pada perjalanan kami sebagai pasangan sebelum menjadi orang tua." Pak Radit masih terlihat tidak puas. "Dita, kamu sudah menjadi anggota keluarga kami sekarang. Kami memiliki harapan yang tinggi terhadapmu. Kami ingin melihat keluarga ini terus berkembang." Dimas merasa terjebak di antara harapan ayahnya dan keinginan Dita. Dia mencoba untuk menjalani peran sebagai suami dan anak dengan sebaik-baiknya. "Ayah, kami akan memikirkan keputusan ini dengan matang. Kami berdua ingin melakukan yang terbaik untuk keluarga kita." Pak Radit tetap terlihat keras kepala dalam keyakinannya. "Saya harap kamu dapat memahami pentingnya ini, Dimas. Kami hanya ingin keluarga ini terus berkembang dan melanjutkan garis keturunan kita."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN