Radit pun langsung mengajak Rara untuk pergi lagi.
Ternyata, Radit mengajak Rara ke tempat yang sangat ramai.
"Kita mau ngapain kesini?" tanya Rara.
"Kita makan bakso itu, itu langganan aku" ucap Radit sambil menunjuk ke arah pedagang bakso.
Radit pun langsung menarik tangan Rara, Rara pun hanya mengikutinya.
Radit langsung memesan 2 porsi bakso untuk dirinya dan juga Eca.
Saat bakso sudah didepan mata, Eca pun langsung mencobanya.
"Gimana? Enak kan?" tanya Dika.
"Enak banget ini" ucap Rara sambil mengangguk angguk.
Radit pun tersenyum melihat tingkah Rara yang terlihat begitu menggemaskan.
Saat sedang asyik memakan bakso, tiba tiba pondel Radit berdering.
Radit pun melihat siapa yang menelponnya. Setelah tau, Radit tidak mengangkatnya dan lebih memilih mendiamkannya.
"Kenapa gak diangkat aja?" tanya Rara.
"Enggak ah" ucap Radit, Rara pun hanya mengangguk.
Selesainya makan bakso, Rara mengajak Radit untuk pulang.
"Aku mau pulang aja" ucap Rara yang teringat perkataan Sisil dan Karin.
"Pulang? Baru aja jam setengah 9, kamu udah ngantuk? Mau tidur juga ya?" tanya Radit.
"Iya, aku mau istirahat" ucap Rara sambil tersenyum.
Akhirnya, Radit pun mengantarkan Rara pulang.
"Wah, kalian abis dari mana nih?" tanya bu Asih.
"Nyari angin aja nek, nek aku pamit pulang dulu ya" ucapnya Radit.
"Enggak mampir dulu kamu?" tanya bu Asih.
"Kapan kapan ya nek, ini udah malem. Mama pasti khawatirin aku" ucapnya Radit.
"Ya sudah kamu hati hati ya" ucapnya bu Asih.
Akhirnya, Radit pun segera melajukan mobilnya.
"Ayo Ra masuk, udah malem" ajak bu Asih sambil tersenyum pada Rara.
"Iya bu" jawab Rara yang tersenyum dan disertai anggukkan.
"Kalian pergi kemana aja Ra?" tanya bu Asih dengan tersenyum.
"Ke bukit sama ke taman bu" jawab Rara sambil tersenyum. Bu Asih pun langsung mengangguk ngangguk dan tersenyum.
Saat Rara dan bu Asih masuk ke dalam kamarnya masing masing.
Ibunya Rara pun menelpon Rara, akhirnya Rara pun mengangkatnya sebentar sebelum tidur.
Dan ternyata ibunya Rara khawatir terhadap kabar Rara.
***
Keesokan harinya..
Saat Rara hendak berangkat ke restoran, Radit pun datang.
"Halo nek, Halo Ra" sapa Radit sambil tersenyum.
"Eh Radit, ada apa?" tanya neneknya.
"Mmmm mau jemput Rara nek, boleh kan?" tanya Radit dengan cengengesan.
"Tanya dong sama orangnya, kok tanya nenek" ucap neneknya dengan sedikit tertawa.
"Gimana Ra?" tanya Radit sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Enggak usah, aku bisa naik angkot" ucap Rara sambil tersenyum.
"Jangan Ra, aku udah kesini masa kamu mau naik angkot" ucap Radit.
"Udah Rara, ayo berangkat sama Radit aja. Lumayan gratis" ucap bu Asih.
Mendengar ucapan bu Asih, Rara pun hanya tersenyum.
Akhirnya, Rara dan Radit pun berangkat bersama menuju restoran.
Sesampainya di restoran, Rara segera pergi ke dapur karena tidak ingin banyak orang yang melihat dirinya dengan Radit.
"Ra" ucap Sisil.
"Eh, iya" ucap Rara.
"Lo berangkat sama pak Radit ya? Gue kan udah ingetin lo buat hati hati, kenapa lo masih ngeyel" ucap Sisil.
"Gimana ya, neneknya Radit yang nyuruh aku buat berangkat sama Radit, eh maksudnya pak Radit.
"Neneknya? Lo kenal sama neneknya ternyata? Pantesan lo kesini sama neneknya pak Radit" ucap Karin.
"Iya" jawab Rara sambil tersenyum.
"Ya udah lanjut kerja ya, kata gue hati hati" ucap Sisil, Rara pun hanya tersenyum dan mengangguk.
Rara dan semua karyawan pun langsung bekerja, suasana restoran sangat ramai.
Saat Rara istirahat, Rara mengobrol bersama Sisil dan Karin. Radit pun lagi dan lagi menghampiri Rara.
"Hai Ra" sapa Radit sambil tersenyum.
"Iya halo" jawab Rara sambil mengangguk.
"Makan yu Ra, diluar" ajak Radit.
"Maaf pak, saya sudah makan sama Sisil sama Karin" jawab Rara sedikit tersenyum.
"Hallo sayang" ucap seorang perempuan yang menghampiri Radit, perempuan itu langsung memeluk Radit.
Radit pun kaget dan menjadi salah tingkah.
"Ngapain kamu kesini?" tanya Radit.
"Aku kangenlah sama kamu, kamu ngapain disini? Ngobrol sama karyawan kamu, gak level banget" ucap perempuan itu yang ternyata pacarnya Radit, namanya Clara.
"Udah udah, sebenernya kamu mau apa? Aku lagi kerja" tanya Radit pada Clara.
"Aku mau shoping, kamu anter ya" ucap Clara yang terlihat manja.
"Enggak bisa, aku lagi kerja. Kamu sendiri aja ya" ucapnya Radit.
"Ih kok kamu gitu" ucap Clara yang langsung terlihat sedih.
"Ini aku kasih uangnya aja, tapi kamu pergi dan shoping sendiri" ucap Radit.
"Wah, iya deh iya" ucap Clara yang langsung terlihat bahagia.
Radit pun akhirnya mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Ya udah aku shoping dulu ya sayang, kamu semangat kerjanya. Bye" ucap Clara dan segera pergi.
Rara, Sisil, dan Karin yang melihat pemandangan Radit dengan pacarnya pun merasa malu dan tidak sopan.
"Maaf ya, Ra kalo gitu kita makan cemilan aja yu" ucap Radit yang masih berusaha mengajak Rara.
"Aku udah kenyang pak, kan barunya pacar bapak juga ngajak bapak keluar. Kenapa enggak keluar aja sama pacar bapak, saya permisi dulu pak. Mau lanjut kerja" ucap Rara sambil tersenyum dan segera pergi.
"Tapi Ra-" ucap Radit yang langsung ditahan oleh Sisil dan Karin.
"Pak pak, maaf kalo kami lancang. Bapak suka ya sama Rara? Tapi apa bapak gak mikirin gimana nasib Rara nanti, kan pacar bapak sangat cemburuan dan galak banget" ucap Sisil.
"Itu urusan saya, saya sudah lama ingin mengakhiri hubungan sama Clara. Tapi saya belum menemukan waktu yang tepat" ucap Radit.
Sementara pada Rara, Rara tidak ingin ribet dengan masalah laki laki.
Karena tujuan pertama Rara ke Jakarta itu, untuk mencari uang dan mengubah nasib kehidupan keluarganya.
Terlihat Rara yang sedang menangis, Sisil dan Karin pun langsung menghampirinya.
"Ra, ada apa? Kenapa lo nangis?" tanya Sisil dan karin.
"Mmm, gak papa. Aku lanjut kerja ya" ucap Rara sambil tersenyum dan menghapus air matanya.
"Ra Ra, bentar. Lo jangan nangis ya, jangan pikirin pak Radit sama pacarnya dia-" ucap Sisil yang langsung dipotong oleh Rara.
"Enggak, aku gak mikirin pak Radit. Aku hanya keinget keluarga aku dikampung" ucap Rara.
"Emangnya ada apa Ra? Apa ada masalah? Ayo cerita aja sama kita, kita siap jadi pendengar setia lo" ucap Karin yang diangguki Sisil.
Akhirnya, Rara pun sedikit cerita intinya saja.
Sisil dan Karin pun ikut merasa sedih juga.
"Ra, pokonya lo haru semangat cari uang. Kita support lo kok" ucap Sisil sambil tersenyum.
"Iya Ra.. Kalo lo butuh apa apa, lo tinggal bilang aja sama kita" ucap Karin.
Rara pun tersenyum mendengar ucapan mereka.
"Makasih ya, makasih kalian udah mau jadi temen aku. Aku seneng banget akhirnya aku punya temen disini" ucap Rara yang terlihat senang.
"Iya Ra, mulai sekarang lo terbuka aja sama kita ya" ucap Sisil dan langsung memeluk Rara, Karin pun juga ikut memeluknya.
"Ekhem, kerja kerja kerja" ucap karyawan lainnya sambil lewat.
Rara, Sisil dan Karin pun merasa malu dan akhirnya mereka langsung kerja.
Saat Rara sedang mengantar ngantarkan pesanan ke meja pelanggan, ternyata Radit sedang memperhatikan Rara.
"Ra, kamu semangat banget kerjanya. Dan itu yang membuat aku semakin jatuh hati sama kamu, semoga kamu bisa angkat derajat keluarga kamu ya" gumam Radit.
Dan ternyata, Sisil dan Karin juga memperhatikan Radit yang sedang menatap Rara.
Saat jam pulang, Radit menunggu Rara, yang ternyata Rara sudah diajak pulang bareng oleh Sisil dan Karin.
Karena sudah cukup lama menunggu, Radit pun menelpon neneknya untuk memberitahukan jika Rara tidak ads direstoran.
Neneknya yang kaget pun langsung tertawa, karena Rara sudah pulang bersama temannya.
"Apa nek, Rara dianter sama siapa?" tanya Radit yang merasa kaget.
Mendengar pertanyaan Radit, neneknya pun memiliki ide.
"Nenek gak tau Rara dianter sama siapa, yang pasti Rara naik mobil" ucap neneknya.
"Naik mobil? Siapa ya nenek. Nenek tanyain dong sama Rara" ucap Radit.
"Enggak ah, besok aja kamu tanya langsung sama Rara ya. Sekarang nenek mau istirahat" ucap neneknya Radit.
Dengan masih penasaran, akhirnya Radit pun mematikan telponnya.
Radit pun langsung pulang menuju rumahnya.
Saat malam hari, Rara pun memeiliki ide untuk pekerjaan sampingan.
Rara pun berbicara pada bu Asih perihal idenya. Dan ternyata Rara memiliki ide, jika dirinya ingin berjualan kembali. Lalu dijual setelah Rara pulang kerja, bu Asih pun yang tadinya merasa kasihan jika Rara harus capek capek cari uang. Akhirnya bu Asih pun menyetujuinya.
***
Keesokan harinya, Rara bangun pagi banget. Karena Rara ingin membawa sebagian dagangannya ke restoran. Rara ingin menawarkan pada karyawan karyawan yang lainnya.
Saat Rara hendak berangkat ke restoran, ternyata Radit sudah menunggunya didepan rumah.
"Ayo Ra" ajak Radit.
"Eh, kok ada kamu. Dari kapan?" tanya Rara.
"Dari tadi, nenek juga tau kok" ucap Radit sambil tersenyum.
Rara pun melirik ke arah bu Asih, dan bu Asih pun tersenyum.
Akhirnya Rara pun mengiyakan ajakan Radit, karena Rara juga sedikit kerepotan dengan barang dagangannya Rara.
Diperjalanan, Radit yang merasa penasaran pun akhirnya bertanya.
"Yang kamu bawa itu apa Ra?" tanya Radit.
"Ini, ini dagangan aku. Kamu mau coba?" tanya Rara.
"Dagangan? Kamu mau dagang direstoran?" tanya Radit.
"Iya, tapi ini aku mau nawarin sama karyawan aja. Siapa tau ada yang minat" ucap Rara.
"Ya udah mana, aku mau coba" ucap Radit yang terus menyetir mobil.
"Mau apa? Mau kue bolu atau cemilan pedas?" tanya Rara.
"Kue bolu aja" jawab Radit.
"Ya udah nih?" ucap Rara dengan mengambilkan kue bolunya.
Raditpun melirik ke arah Rara.
"Gimana cara makannya Ra, kan aku lagi nyetir" ucap Radit.
"Kan bisa dengan sebelah tangan, kemarin kamu juga gitu kan. Nyetir dengan sebelah tangan" ucap Rara.
"Ya tapi ini beda, dan aku lagi gak bisa nyetir dengan sebelah tangan" ucap Radit.
Rara yang melihat Radit menahan senyum, Rara pun memiliki ide.
"Ya udah deh, nih kamu buka mulutnya ya" ucap Rara, Radit pun tersenyum dan langsung membuka mulutnya.
Rara pun memasukan setengah kue bolunya dengan sengaja.
Radit pun kaget dan akhirnya Radit menjadi belepotan dan sedikit tersedak.
Radit memberhentikan mobilnya dipinggir jalan, Rara yang panik pun langsung membukakan air minum untuk Radit.
"Ma-maaf ya, aku gak tau kalo kamu bakal tersedak" ucap Rara dan segera mengelap pipi hidung Radit.
Radit pun hanya tersenyum melihat tingkah Rara.
"Gak papa Ra, toh aku juga gak papa kan" ucap Radit.
"Sekali lagi maaf ya" ucap Rara yang masih terlihat sedih.
"Iya Ra, kita lanjut ya" ucap Radit sambil tersenyum.
Radit pun segera melajukan kembali mobilnya.
Sesampainya di restoran, Rara pun langsung menawarkan dagangannya.
Radit pun juga ikut menawarkannya.
Dan ternyata respon karyawan pun sangat bagus, mereka memuji dagangan Rara.
"SAYANG" ucap Clara yang tiba tiba datang.
Rara, Radit dan yang lainnya pun langsung meliriknya.
Terlihat Clara yang sangat emosi.
"Kamu ngapain deket deket sama dia, aku dari tadi liatin kamu disitu. Dan aku juga tau kalo kamu berangkat bareng sama cewe ini kan" ucap Clara dengan nada tinggi.
"Dan lo, ngapain lo deketin cowo gue. Lo mau rebut dia?" ucap Clara yang hendak menampar Rara.
Melihat keributan itu, karyawan lain pun langsung bubar.
Beruntungnya tangan Clara ditahan oleh Radit, sehingga tidak mengenai pipi Rara.
"Kamu apa apaan, bikin malu sja direstoran aku" ucap Radit.
"Kamu yang apa apaan, ngapain kamu berangkat sama dia. Dan ngapain kamu bantu dagangan dia, ini kan restoran. Ngapain dia jualan kaya gini" ucap Clara yang langsung mendorong Rara.
Rara pun terjatuh ke belakang.
"Lemah banget lo, didorong segitu aja udah jatuh" ucap Clara dengan licik.
Radit pun langsung membantu Rara untuk berdiri.
"Kamu ngapain sih bantu dia, mending kamu ikut aku aja yu. Kamu anter aku ke mall" ucap Clara yang langsung menggandeng tangan Radit.
Radit pun dengan terpaksa mengikuti kemauan Clara.
Sisil, Karin, dan karyawan lain pun langsung menghampiri Rara.
"Ra, lo gak papa?" tanya Sisil.
"Gak papa kok" jawab Rara sambil tersenyum.
"Untung aja dagangan lo udah abis. Kalo enggak, mungkin udah diacak acak sama nenek lampir itu" ucap Karin.
"Iya ya, untung aja udah abis" ucap Sisil, Rara pun hanya tersenyum dan mengangguk.
Akhirnya mereka pun langsung bekerja.
Rara tidak ingin memikirkan hal yang tadi, Rara pun mencoba fokus untuk bekerja.