Saat waktu pulang, Rara pulang sendiri dengan menaiki angkutan umum.
Seperti hari kemarin, Radit menunggu Rara.
"Sil, apa kamu lihat Rara?" tnya Radit.
"Enggak pak, didalam enggak ada Rara. Udah pulang kali" jawab Sisil.
Radit pun segera menelpon neneknya, untuk menanyakan Rara.
Dan ternyata, Rara belum sampai rumah. Radit pun mencari cari Rara, nomer telpon Rara pun juga tidak aktif.
Tidak lama, Rara pun pulang dengan membawa belanjaan.
"Rara, kamu habis dari mana?" tanya bu Asih.
"Rara abis dari pasar bu" jawab Rara sambil tersenyum.
"Memangnya kamu beli apa?" tanya bu Asih.
"Ini bu, bahan bahan buat jualan Rara. Rara mau jualan aja diterminal" ucap Rara sambil tersenyum.
"Jualan, terus pekerjaan kamu direstoran gimana?" tanya bu Asih.
"Rara mau keluar aja bu, Rara mau punya usaha sendiri" ucap Rara.
"Apa Radit marahin kamu? Sehingga kamu mau keluar kerja" tanya bu Asih.
"Enggak bu, ini kemauan Rara. Boleh kan buo Rara jualan diterminal?" tanya Rara sambil tersenyum.
"Boleh dong Ra, apapun yang kamu lakukan selagi itu hal positif. Ibu akan support kamu, tapi apakah keluarga kamu dikampung tau?" tanya bu Asih.
"Enggak bu, Rara enggak mau bikin mereka khawatir" ucap Rara sambil terlihat sedih.
"Ya sudah, nanti ibu bantu ya. Kamu mau jualan apa?" tanya bu Asih.
"Rara mau jualan cemilan aja bu, sama minuman" ucap Rara.
"Iya Ra, tapi sekarang kamu mandi dulu ya. Terus makan, nanti kita bikin dagangan kamu sama sama" ucap bu Asih.
Akhirnya, Rara pun segera pergi untuk mandi.
Setelah siap, Rara dan bu Asih segera membuat cemilan untuk dagangan Rara.
"Ra, tadi Radit telpon ibu dan nanyain kamu. Radit kayanya khawatir kalo kamu pulang sendirian" ucap bu Asih.
"Iya bu, tadi Rara enggak bilang sama siapa siapa. Rara langsung pulang gitu aja, Rara buru buru mau ke pasar, takut pulangnya kemagriban.
"Iya ibu faham, ayo lanjut lagi" ucap bu Asih.
Rara dan bu Asih pun melanjutkan membuat makanannya.
Karena waktu sudah malam, Rara dan bu Asih pun langsung beristirahat dan segera tidur.
***
Keesokan harinya..
Radit datang menghampiri Rara begitu pagi.
"Nek, ada Rara?" tanya Radit pada neneknya yang lagi duduk diteras.
"Ada, itu didalam" ucap bu Asih.
"Ra, eh kamu mau kemana?" tanya Radit.
"Iya, maaf ya mulai sekarang aku keluar kerja. Aku mau jadi pedagang aja" ucap Rara sambil tersenyum.
"Tapi Ra-" ucap Radit yang langsung terpotong oleh Clara.
"Oh gini ya kamu, ngapain kamu kesini. Dan ngapain cewe ini ada dirumah nenek kamu?" tanya Clara dengan emosi.
"Kamu masuk kesini tanpa permisi, dari depan langsung nyelonong aja. Kan didepan ada saya lagi duduk" ucap bu Asih.
"Maaf nek, tapi Clara gak suka liat Radit deket deket sama cewe ini" ucap Clara sambil menunjuk Rara.
"Maaf mba, saya enggak deket deket sama Radit. Dan saya juga udah memutuskan untuk keluar kerja barusan. Jadi mba enggak usah takut kerebut lagi" ucap Rara.
"Bagus deh kalo lo keluar, keluar juga dari rumah ini sekalian" ucap Clara.
"Gak ada yang bisa usir Rara disini, ini rumah saya. Kamu gak berhak!" ucap bu Asih pada Clara.
Clara yang emosi pun semakin emosi ketika mendengar ucapan bu Asih.
"Sayang, ayo kita pulang aja" ucap Clara yang menarik tangan Radit.
"Enggak, kamu pulang aja sendiri. Aku mau disini" ucap Radit.
"Oh gitu, ya udah aku bilang aja sama mama kamu" ucap Clara.
"Ngancem terus jadi orang, ya udah ayo" ucap Radit.
"Eh iya Ra, pesangon kamu nanti aku anterin kesini ya" ucap Radit.
"Sayanggggg!!!" ucap Clara dengan nada tinggi.
"Iya ayo pergi pergi" ucap Radit.
Rara dan Radit pun segera pergi.
"Jangan didengerin ucapan perempuan tadi ya Ra, orangnya emang begitu. Ibu juga gak suka" ucap Bu Asih.
"Iya bu" jawab Rara sambil tersenyum dan mengangguk.
Rara pun akhirnya pamit untuk pergi berjualan.
"Kamu hati hati ya Ra, kalo ada apa apa kamu langsung telpon ibu" ucap bu Asih.
"Iya bu, Rara pamit dulu ya" ucap Rara.
Rara pun segera mencium tangan bu Asih, karena Rara sudah menganggap bu Asih seperti ibunya sendiri.
Rara menaiki angkutan umum untuk sampai ke terminal.
Sesampainya diterminal, Rara langsung menawarkan makanan beserta minumannya ke para penumpang.
Belum 1 jam Rara berjualan, jualan Rara hampir habis setengahnya.
Karena ternyata, dagangan Rara sangat laris dan para penumpang menyukainya.
Sementara direstoran Radit, Sisil dan Karin bertanya tanya kemana Rara.
Akhirnya, mereka pun memberanikan diri untuk bertanya pada Radit.
Saat mereka sudah tau jawabanny, mereka berniat ingin mengunjungi Rara setelah pulang kerja.
Dan saat Rara sedang beristirahat, tiba tiba uang yang sedang Rara hitung dijambret.
"Jambret jambret" teriak Rara dan langsung mengejarnya.
Orang orang sekitar pun langsung ikut mengejarnya.
Karena lari jambret yang begitu lincah, Rara pun harus kehilangan uangnya.
Rara pun merasa sedih, dan duduk dipinggir trotoar.
Tetapi Rara masih merasa beruntung, karena uang yang dijambret tidak semuanya. Namun hanya 30 ribu yang baru saja didapat.
Rara mengejar jambret itu karena, uang 30 ribu menurut Rara sangatlah besar.
Rara pun segera kembali ke terminal, dan mulai menjajakan dagangannya.
Karena Radit merasa khawatir, Radit pun menghampiri Rara yang sedang berjualan.
"Ra" sapa Radit sambil tersenyum.
"Radit, ngapain disini?" tanya Rara.
"Nyamperin kamu, aku khawatir takut kamu kenapa napa" ucapnya Radit.
"Aku gak papa, tapi barusan aku kena jambret. Tapi beruntungnya uabg yang dijambret enggak semuanya" ucap Rara.
"Dijambret, berapa uang yang dijambretnya?" tanya Radit yang terlihat kaget.
"30 ribu, tapi menurut aku uang segitu adalah uang yang besar" ucap Rara yang terlihat sedih.
"Kamu sabar ya Ra, atau mau aku ganti aja?" tanya Radit.
"Enggak, aku gak minta diganti. Itu bukan rezeki aku" ucap Rara.
"Ya udah, sekarang aku bantu kamu ya" ucap Radit sambil tersenyum.
"Enggak usah, kamu kembali ke restoran aja. Kalo Clara tau, nanti dia marah sama aku dan ngata ngatain aku" ucap Rara.
"Kamu tenang aja Ra, Clara lagi shopping. Jadi dia gak bakal ganggu aku" ucap Radit.
Radit pun langsung membawa dagangan Eca, Eca pun langsung menyusul Radit.
"Sini, biar aku aja" ucap Rara yang hendak merebut dagangannya.
"Enggak, aku juga mau bantu kamu" ucap Radit yang berusaha menjauhkan dari jangkauan Rara.
Radit menawarkan dagangan Rara ke setiap penumpang disana.
Banyak perempuan yang membeli dagangan Rara.
"Masnya ganteng banget deh" ucap salah satu pembeli sambil tersenyum.
"Mas udah punya pacar belom?" tanya salah satu pembeli lagi. Radit pun hanya melirik ke arah Rara.
Rara tersenyum dan menggeleng kepala, ketika melihat perempuan perempuan yang menggoda Radit.
"Abis Ra makanannya" ucap Radit sambil memperlihatkan wadah yang kosong.
"Wah, makasih ya. Makasih kamu udah bantu aku" ucap Rara sambil tersenyum.
"Iya Ra sama sama, besok besok boleh kan aku bantu kamu lagi?" tanya Radit.
"Jangan, nanti Clara tau" jawab Rara.
Radit pun terdiam dan sedikit mengangguk, karena Radit pun tidak bisa apa apa. Clara selalu mengadu pada mamanya Radit, jika Radit bersikap dingin pada Clara.
Akhirnya, Radit pun mengantar Rara pulang ke rumah bu Asih.
Di rumah bu Asih, Rara, Radit dan bu Asih pun berbincang bincang.
"Makanannya cepet abisa banget loh nek, itu semua karena makanan bikinan Rara enak semua" ucap Radit sambil tersenyum dan melirik ke arah Rara.
"Enggak juga ah, dagangan aku laku karena yang jualannya kamu. Tadi juga kan para perempuan banyak yang godain kamu" ucap Rara.
"Kamu cemburu yaaaaa" ucap Radit sambil menatap Rara.
"Eh, e-enggak. Aku gak cemburu, bu aku masuk dulu ya. Mau mandi" ucap Rara.
Rara pun segera masuk ke dalam, dan segera mandi.
Selesai mandi, Rara langsung ke dapur untuk memasak.
Rara ingin memasak untuk Radit, sebagai ucapan terima kasih karena telah membantu dagangannya.
Saat Rara sedang memasak, bu Asih pun menghampirinya.
"Rara, kamu lagi apa?" tanya bu Asih.
"Eh bu, Rara lagi masak nasi goreng buat kita makan" ucap Rara sambil tersenyum.
"Oh iya Ra, maaf ya bu Asih belum sempat masak" ucap bu Asih.
"Gak papa bu, kan biasanya ibu yang nyiapin. Sekarang giliran Rara" ucap Rara sambil tersenyum juga.
"Pantesan aku nyium ada wangi masakan, ternyata kamu yang lagi masak. Masak apa emangnya? Kayanya enak banget" tanya Radit yang menghampiri Rara.
"Nasi goreng" jawab Rara.
"Wah, pasti enak ya" ucap Radit.
Radit pun akhirnya membantu Rara memasak.
Saat sudah jadi, Rara segera membawanya ke meja makan. Mereka pun segera makan bersama sama.
Radit terus memuji masakan Rara, Rara pun hanya tersenyum dan malu.
Bu Asih yang melihat tingkah mereka pun merasa gemas.