bc

THE DOCTOR'S LAST HARBOR

book_age16+
27
IKUTI
1K
BACA
family
HE
heir/heiress
drama
sweet
lighthearted
city
office/work place
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

dr. Azalea Vanandya Elois, seorang dokter bedah yang dingin dan profesional. Ia telah berhasil mengukir karier cemerlangnya di salah satu rumah sakit ternama di Jakarta. Sayangnya kehidupan sempurna yang dijalankan ini, ada luka yang dia tanggung.Ketenangan Lea hancur begitu saja ketika kedua orang tuanya diculik oleh saingan bisnis orang tuanya, hingga dia kehilangan jejak Bunda dan Papanya.Kasus kriminal membawa Iptu Kevin Vaga Azkandra masuk ke rumah sakit tempat Lea bekerja. Mereka berdua bertemu lagi, Kevin adalah Polisi terbaik di kota ini. Semenjak Kevin ditolak cintanya oleh sahabatnya sendiri membuat Kevin tidak peduli tentang hubungan percintaan lagi.Pertemuan tak terhindarkan itu memaksa Lea dan Kevin bekerja sama. Lea, di ruang operasi, Kevin di balik penyelidikan kasus yang melibatkan pasien mereka. Di tengah ketegangan antara kode etik kedokteran dan aturan hukum, percikan api lama mulai menyala. Sementara Lea bergulat dengan fakta bahwa perasaannya terhadap pria itu tidak pernah ada.Saat mereka mendekati kebenaran kasus, mereka juga semakin dekat untuk mengungkap kebenaran hati mereka. Lea harus memutuskan ketika masa lalu kembali sebagai masa depan, bisakah seorang dokter mengabaikan diagnosis hatinya sendiri?

chap-preview
Pratinjau gratis
1. Jebakan Dari Sahabat
Dua manusia yang lebih akrab dengan nyawa manusia dari pada asmara. ••• "Hah ? penyakit Jantung?" Ucap Lea kaget saat Sheila menjelaskan riwayat penyakit temannya. "Iya betul sekali. Lea tolong ya bantu aku kali ini saja, teman ku ini tidak mau melakukan pemeriksaan. Sepertinya dengan bertemu dengan mu nanti dan dengan kamu bicara baik-baik sama dia mungkin dia jadi mau melakukan pengobatan ke rumah sakit karena kamu seorang dokter." Ucap Sheila menyakinkan Lea. Sheila udah tahu jawaban yang akan di berikan oleh sahabatnya ini tapi kali ini dia tidak akan menyerah. Dia sudah sepakat dengan kekasihnya untuk comblangin Lea dengan sahabat kekasihnya. "Kenapa nggak di bawa ke rumah sakit langsung aja dan berkonsultasi dengan dokter jantung." ucap Lea mencoba menolak. "Dia nggak mau periksa Lea, siapa tahu bertemu dengan mu mungkin dia jadi berubah pikiran. Lea please..?" "Aku bukan dokter spesialis penyakit jantung lho Sheila aku hanya dokter spesialis bedah." "Aku tahu itu setidaknya nanti kamu bisa merekomendasikan dokter spesialis jantung dan bisa menjelaskan kepadnya, tapi cuma kamu sahabat ku seorang dokter dan aku percaya kepada mu dan aku kasihan dengan teman ku ini." Sheila kembali memohon dan membujuk Lea. Lea menghela napasnya. Hari ini dia sangat lelah sekali, ditambah ucapan Sheila ini membuat menambah beban di pikirannya. "Mau ya Lea, jadi nanti malam kita bertemu di cafe ya aku datang bersama dengannya tapi aku nggak bilang ada kamu dulu, pokoknya kita tidak sengaja bertemu di cafe tersebut di sana. Aku akan atur rencananya, pokoknya nanti malam aku akan mengajak teman ku keluar malam tanpa dia tahu rencana aku ini." "Ya ampun Sheila itu namanya nyusahin aku dan ucapan mu barusan itu tidak sesuai dengan pekerjaan mu, kamu sama aja sudah berbohong lho." Sheila tertawa.. " Berbohong demi kebaikan nggak papa lah sekali-kali. Mumpung jadwal kamu besok lagi free jadi bisa lah nanti malam ke cafe. Mau ya bantu aku, kali ini aja kita berdua sedang menolong nyawa orang lho Lea." "Kamu kira dokter bisa free gitu, di hari orang libur aku pun harus kerja, walaupun ada dokter lain kalau ada yang gawat darurat yang harus di tangani mau gimana pun, aku harus balik ke rumah sakit untuk melakukan operasi." "Ya ampun gitu amat sih jadi dokter untung aku cita-cita pengen nolongin orang juga dulu tapi dengan cara menjadi pengacara. Jadi mau ya Lea bantuin temen aku ini ? aku doakan nggak ada yang gawat darurat di rumah sakit mu berkerja deh." Lea memutar bola matanya. "Hmm lihat nanti deh.." "Lea please.." "Aku nggak janji kalau nanti aku bisa aku akan kabari, kalau nggak bisa aku juga akan kabari kamu Sheila. Udah ya, aku balik dulu udah capek jaga malam waktunya istirahat dulu, kamu tahu pintu keluar rumah sakit ini kan, aku mau ambil tas ku dulu, bye." Lea pun meninggalkan sahabatnya di cafetaria rumah sakit. Hari ini Sheila sengaja menemuinya di rumah sakit, nggak ada angin atau hujan tiba-tiba anak itu memohon. Walaupun Lea dan Sheila berbeda pekerjaan mereka berdua bisa dikatakan sahabat terbaik dan satu lagi sahabat Lea yang selalu setia dari sejak SD sampai sekarang, dia adalah Laluna walaupun dia berada di kota yang berbeda dengan Lea, tapi mereka berdua saling kontak-kontakan sampai sekarang. *** "Lea, apakah bunda boleh masuk ?" tanya Naomi lembut sembari mendorong pintu yang tidak terkunci itu. "Masuk aja Bun." Naomi masuk ke kamar putrinya, dia terkejut melihat Lea tidak biasanya sudah dandan begini biasanya dia akan berada di kasurnya cuma rebahan manja setelah melakukan operasi, kebetulan dia besok libur. Kini dia sedang sibuk di depan cermin sembari memoles wajahnya dengan riasan tipis. "Lho anak Bunda mau kemana nih ?" ucap Naomi menghampiri. Lea menoleh sejenak, memberikan senyum tipis. "Mau nolongin temannya Sheila, Bun." Kening Naomi berkerut. "Kenapa harus malam-malam begini, mau kemana jangan bikin Bunda khawatir lho ?" Lea menghela napas pelan, tangannya masih sibuk merapikan penampilannya. "Temannya Sheila Bun, lagi sakit keras katanya tadi saat menghampiri Lea di rumah sakit, tapi orang ini keras kepala juga nggak mau berobat. Sheila sampai memohon supaya Lea yang ngebujukin dia Bun. Sebenarnya malas sih Bun, apalagi baru beres operasi pagi tadi mending tidur dan istirahat aja dirumah tapi ya sudahlah, demi kemanusiaan dan demi Sheila juga, aku nggak enak kalau menolak dia dengan memohon begitu." Mendengar penjelasan tulus dari Lea itu, kekhawatiran Naomi sedikit mereda. "Oh, ya sudah. Kalau tujuannya cuma membujuk, pergi saja. Memangnya mau ketemu di mana?" "Di cafe, Bun," jawab Lea singkat. "Ya sudah, hati-hati ya. Pulangnya jangan kemalaman dan jangan ngebut bawa mobilnya," pesan Naomi tulus. "Iya Bun, Papa mana Bun ?" "Lagi di ruang kerjanya tadi Bunda habis nganterin cemilan untuk Papa dan sekalian ngecek anak Bunda." "Oh, nanti Lea pamit sama Papa juga Bun." Sebelum Lea beranjak, Naomi teringat sesuatu. "Bunda cuma mau ingatin Lea nih, tahu sendiri lah jadwal Lea super-super sibuk. Huh, tahu kek gini mending nggak jadi dokter aja deh dulu." "Astaga Bunda anak Bunda dokter hebat lho." "Tapi hanya bertemu sebentar lho, waktu bersama keluarga jadi sedikit." " Aku punya waktu kok untuk keluarga ku. Udah ah Lea jadi sedih lho kalau Bunda sedih." "Iya, Bunda mau bilang minggu depan Bunda harus menemani Papa melakukan perjalanan bisnis." Lea mengangguk paham. "Iya, Bun masih minggu depan, masih lama kok." "Iya takut Bunda lupa, tapi Bunda titip adek ya? Kamu tahu sendiri dia kalau ada jadwal pagi suka lelet dan jangan lupa, sempatkan mampir ke rumah Nenek dan Kakek di sebelah," tambah Naomi. Lea tersenyum lalu memberikan pose hormat. "Siap, Bunda!" Sekali lagi, Naomi mengusap bahu putrinya. Lea tahu bahwa meskipun ia memberi izin, doa dan kekhawatiran seorang ibu tetap menyertai langkahnya malam ini. "Hati-hati ya, jangan ngebut." Ingat Naomi kembali. "Iya, Bunda sayang," jawab Lea mantap. Naomi mencium pipi anak gadisnya dan melangkah pergi dari kamarnya Lea. Lea melihat kembali penampilannya di cermin. Malam ini, dia terpaksa keluar rumah biasanya dia menghabiskan waktu untuk istirahat di kamar tapi atas paksaan sahabatnya dia terpaksa menuju ke cafe yang sudah di wa alamat cafenya. Sebelum pergi dia ke ruang kerja Papanya untuk pamit seperti biasa Lea harus menjelaskan kembali sama seperti penjelasan yang dia sampaikan kepada Bundanya tadi. Kini ia terdampar di sebuah cafe dengan suasana cafe malam ini tidak terlalu ramai, hanya denting sendok dan sayup musik jazz yang mengisi udara. Lea merapatkan blazernya. Dia tiba-tiba mendadak canggung melihat seseorang sudah ada di meja tersebut. Sheila sudah memberi tahu kepadanya melalui pesan wa, no meja dan dia terlambat datangnya. Lea sedikit kesal tapi dia tidak boleh menampilkan wajah kesalnya sekarang sama teman Sheila ini. Ia duduk menghadap seorang pria yang postur tubuhnya terlalu tegak untuk sekadar duduk santai. Pria itu terus memperhatikan pintu masuk dengan tatapan waspada, seolah-olah sedang mengincar buronan, bukan menunggu teman kencan. "Lea," sapanya singkat, mencoba mencairkan suasana yang lebih kaku dari semen cor. Ia berdeham "Aku Kevin seorang polisi," jawab pria itu. lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hah, Po-polisi ?" "Jujur saja aku terkejut kamu yang hadir di meja yang di pesan oleh teman ku ini. Kemarin teman saya bilang ada 'kejadian darurat' yang butuh bantuan aku di sini. Ternyata, kejadian darurat itu adalah meja nomor dua belas dengan seorang dokter bedah. Maaf sebelumnya aku pernah membaca berita tentang mu menyelamatkan seorang pasien terluka parah di jalan raya." Ucap Kevin jujur. Lea tertawa kecil, tawa pertama yang tulus sejak ia melepas masker bedahnya di rumah sakit tadi. "Sahabat saya juga bilang hal yang sama. Dia bilang temannya membutuhkan bantuan ku untuk menyarankan temannya tersebut untuk pengobatan jantung yang diderita oleh teman dari sahabat aku ini. Wah saya tidak menyangka malam ini saya sepertinya lupa cara berbicara dengan orang yang tidak sedang dibius." Ucap Lea sarkas. Mereka berdua terdiam sejenak, menyadari bahwa mereka adalah dua pion dalam permainan catur yang disusun rapi oleh sahabat mereka masing-masing. Di antara cangkir kopi yang mendingin, percakapan mulai mengalir bukan tentang film terbaru atau hobi, melainkan tentang Jam kerja yang tidak manusiawi antara operasi darurat pukul tiga pagi dan patroli malam yang melelahkan yang mereka lakukan dengan rutinitas masing-masing. Kevin mencondongkan tubuh, tatapan tajam polisinya kini sedikit melunak. "Jadi, karena kita sudah telanjur terjebak di sini, apakah Nona Lea keberatan jika kita pura-pura menikmati jebakan ini ? setidaknya sampai kopi ini habis." Lea tersenyum, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Kurasa, sebagai dokter, aku bisa merekomendasikan satu jam lagi untuk observasi. Siapa tahu jebakan ini punya efek samping yang menyenangkan untuk bikin para sahabat kita bahagia dan aku benar tidak menyangka akan kena jebakan dari sahabat sendiri malam ini, tapi tidak papa ini bentuk perhatian atau apa lah namanya ya, aku tiba-tiba sulit untuk mendeskripsikannya." Di pojok cafe, dua sahabat sekaligus sepasang kekasih ini sedang mengintip di balik menu, saling melakukan high-five secara sembunyi-sembunyi. Mereka tahu, terkadang cinta memang butuh sedikit paksaan agar dua orang yang terlalu sibuk menyelamatkan dunia bisa mulai menyelamatkan hati mereka sendiri. ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.5K
bc

Kali kedua

read
220.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.2K
bc

TERNODA

read
200.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
20.9K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
32.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
82.2K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook