2. Meja Nomor Dua Belas

1343 Kata
Suasana yang tadinya sedikit mencair dengan obrolan ringan bahkan mereka juga membahas pekerjaan mereka masing-masing. Lea tipikal orang yang sejak dari kecil, Bundanya telah menanamkan dari dulu dengan sifat ramah kepada orang lain. Lea tumbuh menjadi sosok yang tidak pelit senyum. Jika orang tersebut baik Lea bahkan bisa lebih dari itu lagi, tapi jika seseorang itu jahat Lea benar meninggalkan orang tersebut. Sikap tegas itu pernah ia tunjukkan pada keluarga ayah kandungnya di masa lalu. Luka lama yang digoreskan mereka sempat membuat Lea memilih untuk menghilang dan menutup komunikasi. Ia benar menjauh dari ayahnya, ia pun tahu kapan harus berhenti demi menyelamatkan jiwanya sendiri. Seiring berjalannya waktu Lea memberikan ruang agar ayahnya menyadari dan mengakui kesalahan yang telah dilakukan kepada Lea dan Bundanya. Ia menjauh bukan untuk membenci, tapi untuk memberi jarak agar ayahnya menelusuri lorong waktu, menyadari kesalahan yang pernah diperbuat kepada dirinya dan Bunda. Bekas luka itu mungkin masih ada, Lea telah memilih untuk memaafkan. Ia tidak lagi memunggungi sosok ayahnya. Komunikasi kembali terjalin, bukan karena ia lupa pada rasa sakitnya, melainkan karena ia cukup kuat untuk melepaskan beban dendam yang melelahkan. Lea membuktikan bahwa menjadi baik adalah pilihan, dan memaafkan adalah bentuk tertinggi dari kemenangan diri. "Lea kenapa kamu diam ? Apakah kamu setuju dengan pendapat ku tadi tentang kita ?" "Tidak.." jawab Lea cepat. Kevin mengerutkan keningnya dengan ucapan Lea barusan. Kini suasana di antara mereka berdua mendadak kembali membeku. Begitu Kevin mulai memberikan sinyal bahwa pertemuan ini bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih terencanakan. Lea dengan otak cerdasnya langsung mengarah ke arah sebuah hubungan, otaknya Lea langsung berdenging keras. Ini sudah diluar pembicaraan yang mereka obrolin tadi. Bagi Lea, hidupnya sudah cukup penuh dengan jadwal operasi yang padat ia tidak punya ruang untuk hal-hal baru yang menuntut komitmen emosional untuk mengerti ini itu. Kevin menyesap kopinya, lalu menatap Lea dengan intensitas yang berbeda. "Pekerjaan kita memang berat, Lea. Tapi justru karena itu, aku rasa kita butuh seseorang yang mengerti ritme ini. Seseorang yang tetap ada saat kita pulang dalam keadaan lelah. Aku tipe orang yang serius jika sudah menemukan kecocokan dalam suatu hubungan." Ucap Kevin, sejujurnya dia sudah pernah patah hati sebelumnya karena ditolak sahabatnya sendiri. Ia pun lama menyendiri tapi kali ini dia ingin mencoba kembali dengan detakkan aneh pada jantungnya ini. Lea tidak tersenyum dia sudah menebak arah pembicaraan ini. Ia meletakkan sendok kecilnya dengan denting logam yang tajam di atas piring porselen di depannya ini. "Kevin," potong Lea, suaranya sedingin ruang sterilisasi yang dia hampiri setiap hari. "Mari kita luruskan satu hal. Aku di sini karena jebakan sahabatku, tadi kamu meminta bertahan disini hanya untuk sebentar untuk menghargai rencana sahabat kita ini, bukan karena aku sedang mencari pelabuhan terakhir. Kamu bicara soal tetap ada, tapi bagiku, itu terdengar seperti beban tambahan di atas shiftku yang aku jalani setiap harinya." Kevin tampak terkejut, namun Lea belum selesai dengan ucapannya. "Kamu bilang kita butuh seseorang yang mengerti ritme kan aku tahu arah pembicaraan mu ? Kenyataannya, ritmeku adalah tentang menyelamatkan nyawa, bukan berbagi ruang yang kamu sebut tadi. Aku benar tidak punya energi untuk membangun sesuatu yang serius saat energiku sudah habis di meja bedah harus mengerti ini itu, di tuntut ini dan itu nanti. Karena bagi ku setelah habis operasi aku benar butuh sendiri. Hubungan membutuhkan pemeliharaan, dan jujur saja, aku lebih memilih memelihara kestabilan pasienku daripada menjaga perasaan seseorang yang baru kukenal satu jam ini." Lagi-lagi Kevin sedikit terkejut ucapan Lea barusan tapi mengerti dengan pekerjaan Lea, ia mencoba membela diri. "Tapi bukankah setiap orang butuh tempat pulang?" "Tempat pulangku adalah tempat tidurku, dalam keadaan sunyi tanpa harus menjelaskan kenapa aku pulang terlambat atau kenapa aku tidak mengangkat telpon dari mu nanti, dan kenapa aku tidak segera membalas pesan dari mu, aku benar terlalu lelah untuk bicara." Jawab Lea lagi dengan tegas dan penuh kejujuran. "Lea ..!" "Sahabat kita mungkin menganggap ini, ajang mencomblangi kita atau perjodohan yang manis antara dua pahlawan publik seperti kita ini. Tapi bagiku, ini hanyalah ruang khusus aku berikan kepada sahabat ku karena aku menghargainya dan ingin membantu temannya tersebut, tapi kenyataannya aku benar tidak menyangka akan meluangkan waktu istirahat ku disini seharusnya sangat berharga aku habiskan di kasur atau berkumpul bersama keluarga ku dirumah." "Lea aku mengerti itu, aku juga memiliki perkerjaan yang sama, tapi versi yang berbeda dengan mu." Lea menghela napasnya dan ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Kevin langsung di matanya tanpa keraguan sama sekali, dia tidak peduli dengan ucapan yang ia sampaikan ini melukai perasaan Kevin tapi dia harus jujur. "Jangan salah paham Pak Kevin yang terhormat. Aku tahu Kamu pria yang kompeten Kevin, tapi jangan mencoba mengarahkan percakapan ini ke masa depan. Aku tidak sedang mencari pasangan hidup sekarang, aku hanya sedang menghargai upaya temanku, agar dia berhenti menggangguku untuk hal seperti ini lagi dengan merencanakan kencan dengan orang lain. Dan jika kamu mengharapkan jawaban yang lebih lembut dan menyambut baik ucap mu tadi dari ku, kamu salah alamat. Aku terbiasa membedah realita, bukan menghiasnya dengan harapan kosong." Kevin kini mengerti bahwa wanita di depannya benar sulit di taklukkan tapi dengan pertemuan pertama ini dia sudah tertarik dengan Lea. Dia mengerti Lea bukan sekadar sibuk, tapi dia mencoba menutup pintu rapat-rapat bagi siapa pun yang membawa label serius kepada dirinya. Kevin terdiam sejenak. Sebagai seorang polisi, ia terbiasa menghadapi penolakan, kebohongan, dan gertakan di ruang interogasi. Namun, kejujuran Lea yang setajam pisau bedah itu memberikan sensasi yang berbeda pada dirinya ini dia dulu pernah juga mendapatkan penolakan dari sahabatnya, di tolak dengan alasan yang lebih halus tapi malam ini dia persis sama seperti dulu tapi dengan ucapan pedes dengan penolakan yang lantang seperti ia baru saja disiram air es di tengah shift malam yang panjang. Bukannya tersinggung, Kevin justru menyandarkan punggungnya, menatap Lea dengan sorot mata yang kini lebih menyelidik. "Diagnosa yang sangat akurat, Dokter Lea," ucap Kevin dengan nada rendah, ada sedikit senyum tipis di sudut bibirnya. "Kamu membedah percakapan ini seolah-olah ini adalah tumor yang harus segera diangkat agar tidak menyebar. Apa salahnya kita mengecek ulang kembali menyisakan ruang untuk kompromi agar dia tidak menyebar kemana-mana." Lea mengangkat sebelah alisnya, tidak menyangka pria di depannya akan menanggapi dengan ketenangan seperti itu. Dia kira ucapan pedasnya tadi langsung membuat dia menyerah tapi malah menganggap biasa dengan ucapannya ini. "Tapi ada satu hal yang kamu lewatkan dalam analisis medismu Dokter Lea," lanjut Kevin. "Kamu bilang tidak punya energi untuk orang lain. Tapi sebenarnya, kamu hanya takut Lea. Takut kalau ada seseorang yang masuk ke hidupmu, kamu tidak lagi punya kontrol penuh atas duniamu yang steril itu. Kamu lebih memilih menangani pasien yang tidak bisa protes, daripada menghadapi manusia hidup yang punya perasaan." Lea tertegun. Kalimat itu menghantamnya lebih keras pada hatinya daripada jadwal operasi tersulitnya selama ini. "Wah aku tidak menyangka analisis psikologi yang murah sekali, Inspektur. Sayangny aku tidak membayar untuk ini." Lea menyambar tas tangannya. Ia tidak suka saat seseorang merasa bisa membaca pikirannya, apalagi seorang polisi yang baru ia kenal selama waktu satu jam ini. "Kencan ini sudah selesai," kata Lea sambil berdiri. "Sampaikan pada sahabatmu kalau misinya gagal total malam ini, aku juga akan sampaikan kepada sahabat ku juga karena Aku tidak butuh pelabuhan yang seperti mereka rencanakan, dan aku pastinya tidak butuh interogator pribadi." Kevin ikut berdiri, namun ia tidak mencoba menahan Lea seperti seseorang yang tengah kasmaran. Ia hanya memasukkan tangannya ke saku celana dengan santai. "Aku akan bayar kopinya. Setidaknya, biarkan aku melakukan tugasku sebagai teman kencan mu malam ini." Lea tidak menoleh lagi. Ia berjalan keluar dari cafe dengan langkah cepat, meninggalkan samar dan keheningan yang menyesakkan di meja nomor dua belas. Di luar, udara malam terasa dingin, namun bagi Lea, itu jauh lebih baik daripada kehangatan palsu yang ditawarkan sebuah hubungan. Dia sudah pernah melihat adegan seperti ini yang ujungnya akan berakhir menyedihkan. Ia paham betul polanya. Cinta, baginya hanyalah sebuah siklus penundaan menuju kehilangan. "Mengapa harus menetap pada seseorang yang hanya menjadikanmu tempat persinggahan? Awalnya saja yang manis pada ujungnya dia akan di tinggalkan juga." Jebakan itu gagal total, atau mungkin, justru baru saja memulai sesuatu yang tidak akan bisa dilupakan oleh keduanya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN