Suara mesin mobil Lea seolah menjadi luapan dari teriakan tertahan di d**a Lea. Dia bergegas pergi dari cafe tersebut Dia ingin segera kembali kerumahnya dia tidak menghiraukan pesan Bundanya tadi kepadanya agar dia mengemudi dengan pelan-pelan kali ini dia pulang dengan kecepatan tinggi melepaskan kekesalannya, dia benar tidak peduli soal perasaan kevin yang tersinggung dengan ucapannya tersebut kalau Bundanya tahu pasti ia akan kena omelan dari Bundanya karena sudah tidak sopan berbicara kepada orang lain.
Sesampainya dia di rumah Lea berlari menaiki tangga, melempar tasnya ke atas sofa tanpa peduli di mana benda itu mendarat. Ia segera melepaskan baju yang ia pakai tadi, kini terasa mencekik dan ia menggantinya dengan kaus kebesaran yang jauh lebih nyaman ia pakai.
"Br*ngsek..! dia berhasil mengusik pikiran ku."
Lea terdiam sejenak, namun indra penciumannya justru mengkhianati ketenangannya. Ada aroma yang tertinggal di sana. Wangi parfum Kevin tadi. Bukan sekadar bau parfum pria biasa, melainkan perpaduan aroma yang sangat spesifik, sesuatu yang familier.
"Tunggu, Pernah... aku pernah mencium aroma parfum ini sebelumnya. Tapi di mana?"
Lea mengambil minum berisi air dingin yang ia teguk agar mampu memadamkan api yang disulut oleh kata-kata Kevin tadi. Ia duduk di depan meja kerjanya dengan mengusir jejak Kevin dalam pikirannya dan mencoba fokus pada jurnal medis tentang teknik bedah toraks terbarunya. Namun, kalimat Kevin terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Kamu hanya takut... kamu tidak lagi punya kontrol penuh atas duniamu Lea."
"Sok tahu," gumam Lea sambil mencoret-coret pinggiran jurnalnya.
Ia menoleh sumber suara, ponselnya tak henti-hentinya berbunyi. Ia meraih tas yang dia buang di sofa tadi dan meraih ponselnya yang sejak tadi bergetar karena panggilan tak terjawab dan pesan dari Sheila sahabat yang menjebaknya tadi.
Sheila : "Gimana? Kevin ganteng, kan? Cocok banget lho kalian berdua, Kevin ganteng dan kamu juga cantik Lea. Aku mendukung mu bersama dengan Kevin maaf ya Lea, aku harus melakukan ini agar kamu tidak hanya berkutat di ruangan operasi terus."
Lea hanya membalas singkat dengan napas yang masih memburu, Lea mengetikkan balasan dengan jemari yang dingin. Tidak ada basa-basi, tidak ada ruang untuk diskusi bersama dengan Sheila.
Lea: "Jangan pernah lakukan ini lagi. Aku hampir saja melakukan operasi tadi pada teman pacar mu itu 'pengangkatan ego' padanya. Tolong jangan seperti ini lagi jika ingin berteman dengan ku. Never Again, you know ."
Sheila tidak membalas lagi pesan wa Lea dia tahu Lea sedang kondisi sedang tidak bisa di ajak becanda karena dalam kondisi kesal kepadanya.
Sementara itu Kevin sedang berpikir dia menyandarkan tubuhnya di kap mobilnya di parkiran kantor polisi, menunggu rekannya Dika yang sedang mengantar kekasihnya pulang, Kevin juga kesal sama Dika tapi dia akan memarahi sahabatnya ini. Dia lah yang membuat dia dalam keadaan darurat.
"Wajahnya familier sepertinya aku pernah bertemu dengannya dulu tapi dimana ?" Gumam Kevin.
Tidak lama kemudian Dika menghampiri Kevin. Dia langsung disambut seringai lebar oleh Widika.
"Gimana, Komandan? Berhasil menjinakkan dokter bedah itu?" tanya Widika sambil terkekeh.
"Emang br*ngsek ya kamu, bisa-bisanya kamu main-main sama aku hah ? mau aku pindahkan kamu ke Papua sana."
"Haha maaf Vin, sekali-kali kamu itu harus keluar dari zona menegangkan." Ucap Widika yang satu letting dengan Kevin tapi Kevin lebih gemilang prestasinya.
Kevin mengembuskan napas panjang, menatap lampu-lampu kota yang temaram di depannya ini. "Dia bukan dijinakkan, Dik. Dia itu seperti granat yang pinnya sudah lepas. Begitu aku bicara soal masa depan, dia langsung meledak gila banget situasinya tadi aku jadi merinding sendiri berhadapan denganya, awalnya manis tiba-tiba menjadi pedes."
Dika terbahak. "Sudah kubilang, Lea itu beda. Dia punya dinding yang lebih tinggi dari tembok penjara kita, tapi Sheila bilang kalian berdua cocok dan satu lagi kamu harus tahu nih ya, kamu ganteng dan Lea itu cantik jadi pas banget untuk kamu. Kevin, sayang banget kalau kamu mundur begitu saja dan di dapatkan oleh pria lain."
"Sayangnya dia tajam dan tidak suka dengan ku," gumam Kevin, ada nada kekaguman yang tersembunyi di balik suaranya. "Dia bilang dia tidak butuh pelabuhan. Dan dia menatapku seolah-olah aku ini hanya spesimen laboratorium yang salah tempat."
lagi-lagi Dika tertawa, "lucu juga ya kalian membalas ucapan satu sama lain dengan gaya kalian."
"Dia pintar sekali lho Dik merangkai kata untuk membalas ku tadi."
"Hmm, karena dia pintar maka nya dia jadi Dokter. Apakah, kamu menyerah ?" Apakah jatuh cinta pada pandangan pertama itu tidak kamu rasakan Vin ?" Ucap Dika.
Kevin tiba-tiba terdiam sejenak. Ia teringat bagaimana mata Lea berkilat marah saat aku bilang ingin masuk ke kehidupannya tapi tatapannya tadi membuat aku jadi kagum sama dia yang memprioritaskan pasiennya terlebih dahulu ketimbang orang lain. Mungkin ini mendadak untuknya aku benar salah mengira dia bukan wanita sembarang yang mudah ditaklukkan tapi perlu strategi yang tepat untuk mendapatkannya.
"Menyerah? Seorang polisi tidak pernah menyerah pada kasus yang sulit. Tapi untuk sekarang, kurasa aku harus belajar cara mendekati seseorang yang terbiasa membedah hati tanpa pernah ingin merasakannya."
"Wow itu baru komandan kami, aku doakan yang terbaik untuk mu komandan. Semoga berhasil merebut hati Lea."
"Doakan semoga aku berhasil, aku akan mencoba mendapatkan hatinya."
"Siap komandan. " Dika pun memberikan saran agar dia bisa meluluhkan hati Lea, bagaimana dulu dia berhasil meluluhkan hati Sheila.
***
Beberapa hari berlalu
Sirine ambulans membelah kesunyian malam rumah sakit. Lea, yang baru saja menyelesaikan shift nya dan bersiap pulang, terpaksa berbalik arah saat kode merah diumumkan. Ia sudah mengenakan jas labnya kembali, masker terpasang, dan sarung tangan lateks sudah siap di tangan.
Di pintu masuk UGD, sebuah tandu didorong masuk dengan tergesa. Di sampingnya, seorang pria dengan kemeja yang lengannya digulung kini ternoda merah pekat tampak berusaha menekan luka tembak di paha seorang tersangka yang sedang mengerang kesakitan. Dengan borgol di pasang di besi tandu tersebut.
"Pasien dengan luka tembak, kehilangan banyak darah, denyut nadi lemah!" teriak pria itu.
Lea melangkah maju, mengambil alih posisi. Saat pandangan mereka bertemu, udara seolah tersedot keluar dari ruangan itu.
Iya Itu Kevin. Tapi bukan Kevin yang rapi dan wangi seperti di cafe beberapa waktu yang lalu itu, ini adalah Kevin yang berantakan, berkeringat, dengan tatapan mata yang gelap dan penuh urgensi.
"Dokter Lea," gumam Kevin, suaranya parau.
"Bukan sekarang, Inspektur," potong Lea cepat, suaranya kembali ke mode judesnya.
"Tolong Pak, lepaskan tangan Bapak, Dan sekalian borgolnya juga, dia tidak akan lari di ruangan ini tenang saja kalau dia macam-macam aku akan menyuntik mati dia."
Kevin tersenyum mendengar ucapan Lea barusan.
"Awas Aku butuh ruang untuk memasang klem."
Kevin menurut dan melepaskan borgol pada pasien ini.
Selama tiga puluh menit berikutnya, Kevin menyaksikan sesuatu yang belum pernah ia lihat, Lea benar mengagumkan. Ia melihat bagaimana Lea yang beberapa hari yang lalu dengan sikapnya tiba-tiba judes, pedes ucapannya bahkan belum apa-apa aja baru mengarahkan sebuah hubungan dia sudah menolaknya dengan kata-kata tajam. Hari kini ia bekerja dengan persis yang ia gambarkan dia terlihat keren. Lea memberikan instruksi dengan asistennya suara tenang namun otoriter. Tidak ada keraguan di tangannya. Di bawah lampu operasi yang terang, Lea tampak seperti tenang yang sedang mengendalikan kekacauan.
Kevin berdiri di balik garis pembatas, mengamati dari kejauhan. Ia baru menyadari bahwa kemarahan Lea di cafe bukan karena dia benci padanya, tapi karena wanita ini memang sudah memberikan seluruh hidupnya untuk detik-detik kritis seperti ini. Kevin kembali tersenyum dan bangga melihat Lea sedang melakukan operasi kepada pasiennya tanpa peduli pasien ini adalah orang baik atau orang jahat dia benar profesional dalam pekerjaannya.
Setelah pasien dinyatakan stabil dan dibawa ke ruang rawat inap tentunya di bawah penjagaan polisi ketat, Lea keluar ke lorong sambil melepas maskernya. Wajahnya pucat karena kelelahan berkerja full hari ini, dan ada garis tipis bekas masker di pipinya.
Kevin mendekat, menyodorkan sebotol air mineral dingin yang ia beli.
"Kerja bagus, Dokter." Ucap Kevin tulus.
Lea menghela napasnya dia tidak punya tenaga untuk berdebat dan ia terpaksa menerima botol itu, tangannya sedikit gemetar karena sisa adrenalin.
"Tersangka kamu akan hidup. Tapi dia butuh waktu lama untuk bisa berjalan lagi."
Kevin mengangguk, lalu terdiam sejenak.
"Apakah kamu terluka.. ?" tanya Lea.
Kevin menggeleng. Ada rasa senang dalam hati Kevin ini baru pertama kali ada yang menanyakan keadaannya pada situasi menegangkan tadi.
"Aku baru mengerti sekarang kenapa kamu bilang tidak punya ruang untuk hal lain. Melihatmu bekerja tadi, itu jauh lebih menjelaskan daripada semua ucapanmu di cafe beberapa waktu yang lalu."
Lea menyesap airnya, lalu menatap Kevin yang masih memiliki noda darah di kemejanya. "Kamu juga tidak terlihat sedang mencari tempat pulang sekarang, Kevin. Kamu terlihat seperti seseorang yang baru saja bertaruh nyawa di jalanan."
Mereka berdiri di koridor rumah sakit yang dingin, di antara aroma obat dan suara langkah kaki perawat. Tidak ada pembicaraan soal kencan serius, tidak ada tuntutan masa depan. Hanya ada rasa hormat memuji satu sama lain, yang tumbuh di antara dua orang yang sama-sama lelah karena mengabdi.
***