Sebagai dokter, hari-hari Lea hanya berada di ruangan operasi kalau tidak ada jadwal operasi dia berlanjut rangkaian kunjungan pasien yang tak putus, berpindah dari satu bangsal ke bangsal lain. Memastikan kembali pasien yang dia tangani dalam kondisi baik.
Saat Lea selesai visit pasiennya, kini ia sedang berada di meja administrasi rumah sakit untuk mencatat hasil pemeriksaan, jemarinya sibuk di atas berkas administrasi mencatat rekam medis, menyusun instruksi pengobatan, dan memastikan setiap detail nyawa pasiennya terdokumentasi dengan rapi. Pikirannya sempat melayang pada rencana sang Bunda menemani Papa untuk perjalanan bisnis, yang kata Bunda di tunda karena urusan kantor Papa sedang urgent, namun lamunannya Lea pecah saat seorang kurir berdiri di hadapannya.
"Dokter Azalea ?"
"Iya saya sendiri,"
"Kenapa ya Pak ?"
Sebuah paket makanan tiba. Nama pengirimnya, Kevin.
"Ini ada kiriman makanan untuk dokter Azalea dari Pak Kevin?"
"Hah ? Aku tidak bisa terima Pak." Ada penolakan instan yang muncul langsung di benak Lea.
"Maaf Dokter saya hanya mengantarnya kalau saya pergi begitu saja saya akan di pecat Dok karena tidak menyampaikan amanah dengan baik tolong di terima ya Dok, saya mohon Dok."
Lea menghela napasnya. "Hmm baiklah aku akan menerimanya Pak."
"Terima kasih Dok, aku akan ambil foto sebagai tanda sudah terima."
Lea pun mengizinkan kurir mengambil fotonya. Dan kemudian dia permisi pamit.
"Apakah kalian mau makanan ini?" tawar Lea kepada rekan-rekan di meja administrasi yang menatap Lea.
Gelengan kepala dan senyum penuh arti menjadi jawaban mereka. Bagi para pegawai di sana, paket itu bukan sekadar makanan, melainkan simbol perhatian dari seseorang yang mereka sebut "ayang".
"Nggak Dok itu untuk dokter lho jadi kami tidak berhak menerimanya."
"Tapi aku ingin berbagi dengan kalian."
Pegawai ini kembali menggeleng kepalanya.
"Ya udah saya permisi dulu kembali ke ruangan ku."
"Ya Dok, selamat menikmati makanan dari ayang. Wah Dokter Rafael akan cemburu mengetahui kalau Dokter Lea dapat kiriman dari ayang lain." Godaan pun mengalir, menyeret nama Dokter Rafael ke dalam percakapan. Rumor mulai beredar.
Lea menoleh dan kembali ke belakang lagi.
"Bukan kok, cuma kenalan doang jangan bikin gosip yang enggak-enggak lho."
"Haha.. apakah benar yang kami dengarkan itu Dok ?"
"Dengar apa dan gosip apa ?" Tanya Lea penasaran.
"Tentang Dokter Rafael ? kalau dia tahu dapat kiriman dari orang lain wah dia akan cemburu lho Dok."
Lea hanya bisa mengerutkan kening. Baginya, Kevin hanyalah kenalan yang direncanakan oleh sahabatnya, dan Rafael adalah rekan sejawat. Tidak ada ruang untuk romansa di sela-sela jadwal operasi bahkan visit yang padat. Namun, ia tahu bagaimana rumah sakit bekerja seperti biasa gosip seringkali merambat lebih cepat daripada informasi medis.
"Duh jangan bikin gosip yang tidak-tidak apalagi gosip hari ini. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dokter Rafael atau pun yang mengirim makanan siang ini." Tegasnya sambil berlalu. Di belakangnya, para pegawai hanya memberikan kode kunci mulut, menyimpan rahasia siang ini dalam diam yang penuh canda. Lea yang berjalan menjauh dengan kotak makanan di tangan dan tanda tanya yang kian menggantung.
"Apa-apaan sih mereka, apakah mereka selalu memperhatikan gerak-gerik ku. Mau pacaran atau tidak itu urusan ku. Mereka tidak berhak mengurus hidup ku." Gumam Lea pelan dan di akhiri Lea menghela napasnya melangkah menjauh, namun baru beberapa langkah ia berbelok di koridor menuju ruangannya, sosok yang sedari tadi menjadi bahan bisikan itu muncul. Dokter Rafael berdiri di sana, menyandarkan bahu di dinding sambil menatap jam tangan, sebelum pandangannya jatuh pada kotak makanan mewah yang di tenteng Lea.
Suasana koridor yang tadinya bising mendadak terasa sunyi bagi Lea.
"Baru selesai visit, Le?" tanya Rafael. Suaranya rendah, terdengar santai namun ada nada selidik yang tertangkap indra pendengaran Lea. Matanya Rafael beralih dari logo restoran terkenal yang tertera di kantong makanan tersebut.
"Iya, Dok. Baru mau istirahat," jawab Lea, berusaha menjaga suaranya tetap datar. Ia bisa merasakan tatapan para pegawai yang lewat dari kejauhan yang mulai mencuri pandang dan berbisik.
Rafael mendekat kearah Lea, aroma parfum maskulinnya yang khas kini bersaing dengan aroma makanan di tangan Lea. Ia tersenyum tipis, jenis senyum yang sulit diartikan. "Sepertinya ada yang sudah menyiapkan makan siang spesial untukmu.?"
Lea tertegun. "Iya nih di kirim oleh teman." Ucap Lea mengendalikan nada suaranya.
"Wah ternyata benar untuk mu ya Le,Kurirnya tadi berpapasan denganku di depan. Dia terlihat sangat bersemangat mengantarkan kepada mu Le."
Rafael terkekeh, namun tawanya tidak sampai ke mata. "Padahal aku ingin mengajakmu ke cafetaria. Tapi sepertinya aku kalah cepat dengan layanan antar."
Ada ketegangan yang tidak kasat mata di antara mereka. Lea ingin menjelaskan bahwa ia bahkan tidak meminta makanan itu, bahwa Kevin hanyalah kenalan biasa, dan bahwa ia sama sekali tidak berniat menyimpan perlakuan istimewa ini. Namun, melihat raut wajah Rafael yang biasanya tenang kini tampak sedikit kaku, Lea tersadar bahwa gosip yang dilemparkan rekan-rekannya tadi mungkin bukan sekadar bualan.
"Ini cuma pemberian biasa, Dok. Aku bahkan berniat membaginya dengan yang lain," sela Lea cepat.
Rafael mengangguk pelan,
"Apakah aku boleh main ke rumah mu Lea ?"
"Ngapain?"
"Ketemu dengan orang tua mu ?"
"Hmm, Bunda dan Papa akan melakukan perjalanan bisnis besok kak, jadi nggak ada orang di rumah."
"Oke lain kali aja."
"Hah..?"
"Aku akan kerumah mu lain kali"
"Oh, boleh kok."
Rafael melangkah melewati Lea. Namun sebelum benar-benar menjauh, ia berhenti sejenak dan berbisik cukup dekat di telinga Lea. "Makanlah, jangan sampai sakit. Tapi besok, pastikan jadwal makan siangmu kosong. Aku tidak suka bersaing dengan kurir lagi."
Lea terpaku di tempatnya, menatap punggung Rafael yang menjauh dengan langkah tegas, meninggalkan debar jantung yang kini jauh lebih sibuk daripada jadwal rumah sakit mana pun.
"Apa-apa ini ? ya ampun kenapa jadi begini." Lea langsung melangkah masuk ke dalam ruangannya dan meletakkan makanan di atas mejanya. Dia menyadarkan punggungnya pada kursi.
"Kak Rafael tidak bermaksud lainkan dengan kedekatan ini ? aku benar menganggap dia teman dan rekan kerja ku, bukan lebih. Apakah dia tidak lihat bagaimana aku menolak dokter yang lain saat dia menyatakan cinta kepada ku ?"
Lea menghela napasnya saat ia melihat makanan di depannya ini.
kiriman makanan itu bukanlah akhir dari perhatian Kevin siang ini.
Ponselnya Lea bergetar. Sebuah pesan singkat masuk, namun isinya jauh dari sekadar ucapan "selamat makan".
Kevin: "Sudah diterima makan siang mu, Lea? Aku harap kamu suka. Jangan diberikan ke orang lain ya, aku tahu kamu sering membagikan makanan pemberian orang. Kali ini, tolong hargai usahaku."
Lea tertegun. Bagaimana Kevin bisa tahu kebiasaannya di rumah sakit? Belum sempat ia membalas, sebuah panggilan telepon masuk. Suara Kevin di ujung telepon terdengar penuh percaya diri, namun ada nada posesif yang terselip di sana.
"Le, aku sudah di depan rumah sakit. Aku tahu kamu sibuk, tapi aku ingin bicara sebentar."
"Jangan aneh deh.. !"
"Le, aku tidak bermaksud pamer. Aku di sini karena ada laporan gangguan keamanan di sekitar area rumah sakitmu siang ini tapi sudah di atasi tinggal aku memantau rekan kerja ku saja. Sekalian aku ingin memastikan kamu sudah makan pemberianku tadi atau tidak," ucap Kevin.
"Ini baru aja masuk ke ruangan dan baru juga duduk."
Tiba-tiba Kevin mengubah panggilan video call sekalian dia ingin melihat wajah cantik Lea sejak dari kemarin sudah menarik perhatiannya.
"Aku pengen liat mana ?"
Lea terpaksa menerima panggilan video call tersebut.
"Oh kamu baru selesai visit ?"
Lea mengangguk.
"Apa perlu aku ke ruangan mu menemani kamu makan ?"
"Jangan gila."
Kevin tertawa. "Aku benar ada didepan rumah sakit mu."
"Kenapa harus rumah sakit ku, bukannya itu bukan tugas mu ?"
"Sekalian memastikan keadaan mu."
"Seperti tidak ada perkejaan lain saja."
Kevin tersenyum " aku inspekturnya Lea jadi aku berhak mengatur kemana aku ingin bertugas."
"Hmm, terserah kamu saja."
"Kok nggak dimakan makanannya ?"
Lea memutar bola matanya. Lama-lama dia muak dengan Kevin tapi dia harus bisa mengontrol wajahnya.
Lea membuka kotak makanan dan menyuapi makanan ke mulutnya.
Senyum manis dari Kevin terpancar di layar ponselnya.
"Apakah anda puas Bapak Kevin, aku tipe orang yang tidak membuang makanan tapi jangan kirim makanan ke tempat kerja ku lagi aku tidak mau orang-orang menggosipkan aku."
"Aku tidak janji Lea. tapi bisakah kamu buka jendela mu sebentar aku ingin melihat wajah mu walaupun dari jauh."
Lea menghela napasnya kembali padahal dia sudah video call tapi Kevin sangat aneh sekali.
Lea melirik ke arah jendela bawah. Benar saja, Kevin kini melambaikan tangan kepadanya.
"Oh ya ampun kekanakan sekali." Lea membatin.
"Kevin, kamu sedang bertugas atau masih punya mental untuk mengejarku? Tolong bedakan keduanya. Ini rumah sakit, bukan markas besar," protes Lea pelan.
"Bagiku sama saja, Lea. Bertugas sekaligus mendapatkan hatimu," suara Kevin terdengar di seberang sana, membawa nada percaya diri yang khas, jenis nada yang selalu berhasil membuat Lea ingin mendengus sekaligus merasa sesak di d**a.
Bagi Kevin, hidup mungkin adalah satu garis lurus yang bisa ia terjang begitu saja. Namun bagi Lea, rumah sakit adalah tempat di mana logika dan presisi menjadi utuh. Ia tidak butuh drama romantis di antara bunyi monitor jantung dan aroma karbol yang menyengat.
"Sekarang, turunlah sebentar. Aku punya sesuatu yang harus kusampaikan secara langsung, bukan lewat telepon," bujuk Kevin lagi.
Lea membuang napas berat. "Aku tidak bisa. Aku sudah kenyang dengan gosip hari ini. Teman-temanku di sini terlalu perhatian."
"Wah, tempat kerjamu keren juga ya, mereka sangat perhatian sekali," sahut Kevin, entah tulus atau hanya ingin memancing kekesalan Lea lebih jauh.
"Perhatian dari Hongkong! Aku tidak nyaman," potong Lea cepat, suaranya naik satu oktav namun tetap terjaga dalam bisikan. "Sudahlah aku malas berdebat dengan mu, aku mau makan siang. Satu jam lagi aku ada jadwal operasi. Fokusku harus di sana, bukan padamu."
"Oke lah, sampai bertemu lagi nanti Lea. Selamat bekerja."
"Hmm."
Hanya itu respons terakhir Lea sebelum ia mematikan sambungan secara sepihak. Layar ponselnya meredup, menyisakan pantulan wajahnya yang tampak lelah. Ia memijit pelipisnya perlahan, mencoba menghalau pening yang sebenarnya tidak ada. Bukan kepalanya yang sakit, melainkan hatinya yang sedang berdebat sengit antara ingin lari dari kejaran Kevin atau justru berhenti untuk sekadar menoleh.
***