Pria ini merasa puas dengan kerja anak buahnya. Dia benar tertawa puas sekali mendengarkan informasi yang disampaikan. Baginya, informasi itu bukan sekadar berita, melainkan nyanyian indah yang sudah ia nantikan bertahun-tahun.
"Mereka selamat Bos, sudah di bawa ke markas Bos termasuk PA nya juga. Pilot sudah di instruksikan seperti Bos bilang, harus pendaratan darurat karena masalah teknis (trouble) dia melakukan tugasnya dengan baik."
"Iya kalian sudah melakukan yang terbaik ikat mereka dan beri ancaman kepada mereka jangan sampai coba melarikan diri nyawa anak-anaknya dalam genggaman kita."
"Siap Bos, Kami akan menakut-nakuti mereka."
"Pesawatnya sudah kami bakar sama persis seperti kasus kecelakaan Pesawat seperti pada umumnya Bos."
"Bagus, kalian sudah melakukan yang terbaik."
"Iya Bos "
Segalanya telah direncanakan dengan sangat rapi puing-puing pesawat yang hangus terbakar di lokasi terpencil akan menjadi nisan bisu untuk mereka, menyamarkan penculikan ini sebagai kecelakaan tragis yang tak menyisakan tanya bagi dunia luar.
"Awasi mereka. Jangan sampai ada yang lolos," perintahnya dingin sebelum melangkah pergi dari balkon. "Aku ingin melihat wajahnya. Aku ingin tahu, apakah dia masih mengenali anak kecil yang dulu dia hancurkan hidupnya keluarga ku. Sekarang, akulah yang memegang kendali."
"Iya Bos mereka pantas mendapatkan penderitaan yang sama."
"Mereka bukan orang sembarang, aku ingin mereka berkerja untuk kita di markas, mari kita manfaatkan mereka untuk mempermudah bisnis kita."
"Iya Bos ini ide bagus."
"Ya sudah, aku sedang di Villa sekarang kalian berkerja lah sesuai instruksi ku, jangan khawatir aku akan memberikan bonus gede untuk kerja keras kalian hari ini."
"Terima kasih Bos."
"Hmm"
Telpon pun berakhir.
Ia memiliki bisnis tanpa terendus oleh siapa pun dia berhasil dengan bisnis penyelundupan senjata, pembelinya berasal dari luar negeri dia sangat untung besar dia tidak peduli dengan resiko yang geluti selama ini mengancam karier dan nyawanya. Berawal dari yang kecil kini menjadi markas yang besar. Terlihat di luar seperti perusahaan tapi ini sebuah markas ilegal yang dia dirikan akses masuk tidak sebebas yang orang kira. Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu beralih menatap pintu dengan sisa-sisa kesabaran yang makin menipis.
"Kenapa dia belum juga datang ?" Gumamnya pelan.
Di tengah kemelut dendam yang baru saja ia tuntaskan, ada gejolak dalam dirinya yang seperti biasa harus dituntaskan bersama dengan kekasihnya, dia tidak sabar melampiaskan nafsunya tersebut.
Setelah beberapa menit, dia mendengar suara mobil dan itu sudah pasti sang kekasihnya yang dia tunggu sejak dari tadi, hanya dia yang tahu villa ini.
Tidak lama kemudian pintu berderit pelan saat sosok wanita itu melangkah masuk, memecah kesunyian ruangan yang remang-remang. Pria itu tidak beranjak dari kursinya ia hanya memperhatikan dari balik bayangan, membiarkan tatapannya menyapu setiap lekuk tubuh kekasihnya yang perlahan mendekat.
Ia bangkit dengan gerakan perlahan. Tanpa sepatah kata, ia melingkarkan lengannya di pinggang wanitanya ini, kemudian menariknya hingga tidak ada lagi jarak yang tersisa di antara mereka. Kehangatan tubuh wanita ini menciptakan percikan gairah untuknya.
"Kau terlambat," bisiknya rendah, suaranya serak tepat di telinga wanita itu, sementara tangannya mulai menjelajah dengan posesif.
Lenguhan itu lolos dari mulut sang kekasih. Membuat gairahnya pria ini terbakar.
"A-aku pulang terlambat h-hari ini." Dia sampai terbata-bata mengucapkan kata demi kata saat titik sensitifnya di obrak-abrik.
Setiap ciuman yang ia berikan terasa menuntut, sebuah pernyataan kekuasaan yang tak terbantahkan lagi. Ia bahkan Enggan untuk melepaskan tautan dibibirnya hingga ia membimbing kekasihnya menuju ranjang besar tempat seperti biasa melakukan hubungan intim.
"Mas.."
"Kamu tenang saja aku tidak akan buat dia hadir di rahim mu. Kali ini aku bawa pil kontrasepsi jadi malam ini aku akan membuat mu aman seperti biasa tapi kali ini aku pengen mengeluarkannya didalam."
"Tapi...—,"
Dia kembali membungkam mulut sang kekasih yang hanya lenguhan yang terdengar dari mulut tersebut. Dendam yang baru saja ia lakukan, seolah memberikan sisa adrenalin yang meledak-ledak di hatinya, dia melampiaskan atas ranjang ini. Setiap sentuhan dan gesekan kulit terasa begitu napas yang semakin memburu. Tidak ada ruang untuk kata-kata manis di ucapkan kepada sang kekasih yang ada hanyalah gairah yang penuh kuasa, dimana ia memastikan bahwa malam ini, ia adalah pemenang tunggal atas segalanya dan atas wanita yang kini menyerah tubuh sepenuhnya di bawah kendalinya.
Di tengah kesunyian kamar yang hanya diisi oleh suara napas teratur pria itu, sang wanita tetap terjaga dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit.
Pelukan pria yang kini terlelap di sampingnya setelah kegiatan panas yang mereka lakukan tadi, dia sudah tertipu dengan seragam pria ini dengan ajakan cinta kepadanya justru terasa seperti rantai yang melilit tubuhnya dan menyisakan sesak didada.
Ia merasakan sisa keintiman tadi masih membekas di kulitnya, rasa sakit dan kenikmatan mendominasi, namun bukan kehangatan yang ia rasakan seperti pasangan pada umumnya, melainkan kehampaan yang mendalam. Penyesalan itu datang seperti ombak yang pelan namun pasti, akan menenggelamkan hidupnya. Ia menyadari satu kenyataan pahit di mata pria ini, dia hanyalah tempat persinggahan sementara, sebuah objek untuk merayakan kemenangan dan memuaskan dahaga serta nafsu setelah dendam yang berhasil dia rayakan. Keluarga itu sangat malang sekali mereka tidak salah apa-apa menjadi sasaran untuk balas dendam. Lea, ternyata kamu targetnya ? Siapa itu Lea ? wanita ini membatin.
Setitik air mata jatuh di sudut matanya, membasahi bantal sutra yang mahal. Ia teringat bagaimana pria ini memperlakukannya tadi penuh nafsu tanpa sedikit pun ruang untuk kelembutan yang tulus.
Penyesalan itu kini berubah menjadi mati rasa yang dingin. Ia harus menelan kenyataan pahit bahwa perannya dalam naskah hidup lelaki ini sudah digariskan, sebagai pereda amarah, sebagai pemuas dahaga, dan sebagai piala yang dipajang di atas ranjang untuk tetap bernapas di samping seorang monster.
Entah sampai kapan sandiwara ini akan berlangsung mungkin sampai lelaki ini bosan, atau sampai dendam pria itu memakan habis sisa-sisa kemanusiaan yang ada. Ia memejamkan mata, membiarkan kegelapan menelan kesadarannya, bersiap menyambut hari esok yang akan tetap sama menjadi milik seseorang yang tidak pernah benar-benar memilikinya dengan hati.
***
Sinar matahari pagi yang pucat menerobos celah gorden, menyinari kamar yang masih menyisakan aroma gairah semalam. Pria itu terbangun dengan sigap, seolah tidurnya hanyalah jeda singkat untuk mengumpulkan kekuatan baru bagi ambisinya. Ia meregangkan tubuh, lalu menoleh ke arah wanita yang masih terbaring kaku di sampingnya wanita yang matanya sembab namun berpura-pura masih terlelap.
Tanpa kata-kata manis atau kecupan hangat sebagai pembuka hari, pria itu meraih sebuah botol kecil dari laci. Suara denting obat yang beradu dengan botol kaca terdengar nyaring di keheningan pagi yang dingin.
"Bangun sayang," perintahnya.
Wanita itu membuka matanya perlahan, menatap telapak tangan pria itu yang menyodorkan sebutir pil kontrasepsi. Tatapannya kosong, namun hatinya perih. Ia tahu persis apa artinya ini, sang kekasih hanya menginginkan tubuhnya, tetapi tidak pernah menginginkan masa depan bersamanya. Sebuah janin hanya akan menjadi beban dan noda dalam hidupnya.
"Minum ini. Aku dan kamu sudah sepakat tidak ada janin yang tumbuh di dalam rahim mu bukan ? aku tidak menginginkannya tapi waktunya tidak tepat jangan berpikir yang tidak-tidak tentang ku, aku sudah memilih mu dan pastinya kamu tahu itu kamu tidak bisa lari dari kenyataan ini. Aku benar tidak ingin ada masalah yang tumbuh dan menghambat langkahku sekarang setelah semuanya selesai mari kita mengikat hubungan ini dengan pernikahan," ucap pria ini menenangkan sang kekasih agar dia tidak bisa berbuat tindakan yang tidak-tidak nanti.
"Ini minumnya." sembari menyodorkan segelas air.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, wanita itu menerima pil tersebut. Ia menelannya bulat-bulat, membiarkan obat itu meluncur di tenggorokannya bersamaan dengan sisa-sisa harga diri yang semakin terkikis. Pria itu mengangguk puas, lalu beranjak dari ranjang untuk bersiap beraktivitas seperti biasa dengan wajah yang tanpa dosa dan tidak tahu apa-apa.
Aku akan pulang duluan setelah mandi, kamu silahkan menyusul nanti ya, Ia akhirnya mendarat kecupan pada bibir sang kekasih dan meninggalkan wanita itu sendirian dalam kehampaan yang semakin nyata.
Rasa pahit dari pil yang baru saja ia telan masih tertinggal di pangkal lidahnya sebuah rasa pahit yang jauh lebih dalam dari sekadar obat, itu adalah rasa pahit dari penolakan yang paling mutlak.
"Aku bahkan tidak berhak atas rahimku sendiri," bisiknya dalam hati, sebuah pengakuan yang menyayat.
Ia menyentuh perutnya yang rata dengan jemari yang dingin. Ada kelegaan yang mengerikan sekaligus kesedihan yang menghancurkan. Di satu sisi, ia bersyukur tidak akan ada nyawa tak berdosa yang harus lahir dan tumbuh di dalam rahimnya ini. Setiap embusan napasnya kini terasa seperti pinjaman yang sewaktu-waktu bisa ditarik kembali.
Penyesalan itu kini seperti di himpit batu besar di dadanya. Ia terjebak dalam lingkaran setan. Apakah dia benci pada kekasihnya itu ? namun dunia di luar sana jauh lebih kejam jika ia pergi tanpa perlindungan meski perlindungan itu datang dari seorang iblis.
Ia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan adegan panasnya semalam, namun yang tersisa hanyalah kegelapan yang sama dengan masa depannya.
***