Kediaman Fahlefi sempat diselimuti kesunyian yang mencekam dan di lanjutkan pecah oleh isak tangis. Di rumah ini biasanya menjadi saksi tawa dan diskusi bisnis yang hangat, kini terasa dingin dan asing.
Keluarga sejak dari siang sudah berkumpul di kediamannya Fahlefi, memantau perkembangan pesawat Naomi dan Fahlefi yang belum juga ditemukan sampai sekarang. Bahkan rekan bisnisnya Papa Fahlefi menghubungi memastikan kabar berita tersebut.
Bahkan langit Jakarta sore ini seolah ikut berduka, namun mendung di luar tak sebanding dengan badai yang meluluhlantakkan keluarga ini. Kabar itu datang seperti petir di siang bolong pesawat pribadi yang membawa Naomi dan Fahlefi hilang dari radar, lenyap ditelan cakrawala.
Melinda adik kandung Fahlefi sudah sampai di Jakarta. Melinda bersimpuh dengan napas yang sesak, setiap tetes air matanya adalah bentuk penolakan atas kenyataan yang terlalu pahit untuk diterima. Tidak pernah terbayangkan dibenaknya akan mendapatkan cobaan dari Tuhan seberat ini dalam hidup, ini bukan kecelakaan biasa, tapi kecelakaan yang bisa dibilang harapan selamatnya sangat tipis sekali. Berita tentang pesawat yang jatuh selama ini tidak ada yang selamat tapi harapan itu masih ada untuk Mas Fahlefi dan Mbak Naominya.
Di sudut ruangan, Alex berdiri kaku dengan ponsel yang seakan telah menjadi bagian dari jemarinya sejak dari tadi. Matanya merah, bukan hanya air mata yang ia tahan sekuat tenaga, karena tangisan itu sudah pecah sejak dari tadi, kini dia berusaha berjuang dengan sendirinya fokus yang tak terputus pada layar ponselnya. Ia menghubungi setiap temannya yang di daerah yang dekat dengan perjalanan Bisnis Bunda dan Papanya, dia berharap ada yang mendengar suara jatuhnya pesawat tadi siang di daerah mereka, dia mencari secercah harapan dari informasi tersebut sayangnya kabar bahagia itu tidak dia temukan.
"Bagaimana mungkin manusia bisa melawan alam yang sedang murka?" bisik batinnya setiap kali mendengar laporan tentang ombak tinggi dan hutan yang tertutup kabut tebal.
Harapan itu tipis, Berita di televisi terus menayangkan narasi yang membuat dia murka mendengarkan tentang kemustahilan adanya selamat dalam kecelakaan pesawat. Namun, selama raga kedua orang tuanya belum ditemukan, bagi Alex dan keluarga besar yang berkumpul, doa adalah satu-satunya harapan yang tersisa. Mereka terjebak dalam ruang tunggu takdir sebuah tempat di mana waktu seolah berhenti, dan setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun penderitaan yang tak berujung.
Sedangkan Lea sedang berada di kamar tamu, dia sedang mengecek kondisi neneknya yang sudah Lea pasangkan infus, neneknya ngedrop sejak dari tadi mendengarkan kabar buruk ini. Tapi dia hanya ingin dirawat oleh cucunya, untungnya Lea memiliki peralatan dan obat-obatan di rumah. Ruangan ini emang khusus Bundanya bikin untuk Lea menarok peralatan dan obat-obatan jika keluarganya sakit agar Lea bisa dengan mudah melakukan pertolongan pertama terlebih dahulu sebelum dia membawa keluarganya ke rumah sakit jika kondisi masih tidak stabil.
"Lea.. !"
William menyapa cucunya. Melihat saat Lea hanya termenung menatap Neneknya tanpa ada ucapan sepatah katapun. William tahu badannya saja disini pikirannya pasti memikirkan tentang kedua orang tuanya. Dia pun sama dia berharap Fahlefi dan Naomi secepatnya di temukan walaupun dalam keadaan hidup atau meninggal. Siap nggak siap mereka harus menerimanya.
"Hah ? iya Kek kenapa ? Kakek perlu Apa ?" Ucap Lea dengan wajah tersenyum yang dibuat-buat.
William menepuk sofa di sebelahnya.
Lea mengangguk dan menghampiri kakeknya.
"Lea, Kakek sangat mengerti sekali tidak ada yang mau seperti ini. Manusia manapun di bumi ini tidak ada yang mau kehilangan orang tuanya."
Lea mengangguk.
"Kita harus tetap pakai hati dan pikiran selagi kita belum mendengar berita tentang kematian Bunda dan Papa mu Lea, kita tidak akan menyerah tapi ini lah cobaan serta kenyataan yang harus kita hadapi dan jalani. Kakek sudah mengerahkan semuanya untuk mencari keberadaan Papa dan Bunda mu jangan khawatir, itu Abang juga tidak tinggal diam bersama Om Donny di Bali sana jadi jangan berpikir Lea hanya sendiri."
Lea menangis memeluk kakeknya ia benar kebingungan sejak dari tadi. Kini ia sedikit lega, dia benar tidak sendiri di dunia ini. Masih ada keluarga yang selalu ada untuknya.
"Kita belum kalah," Bisik William pada cucunya. Mengingatkan bahwa harapan tidak boleh dikubur sebelum ada kepastian. Dalam pelukan itu, Lea menyadari bahwa meski dunianya terasa kosong, ia tidaklah benar-benar sebatang kara. Lea tahu ini tidak mudah Lea bisa terima begitu saja.
"Dunia ku hanya keluarga ku Kek, entah sampai kapan pun Lea tidak akan akan menerimanya. Lea berdoa dan berharap Bunda dan Papa segera kembali bersama kita lagi"
"Amiin, mari kita berdoa Kakek yakin Papa dan Bunda mu tidak akan meninggalkan kita begitu saja."
Lea mengangguk.
"Sekarang Adek-adek membutuhkan Lea juga untuk mereka bersandar. Lea harus bisa memposisikan diri ya. Ayo kita keluar bergabung bersama keluarga yang lain kita biarkan nenek istirahat."
Lea mengangguk, lagi-lagi rasa dadanya sesak sekali seperti dihimpit oleh batu besar.
***
"Bang gimana ?" Ucap Tante Melinda saat menelepon Ansell.
"B-belum ada kabar terbaru Tante." Ucapannya lirih. "Ini sudah sore, besok lagi akan dilakukan pencarian, Tim SAR sedang berkejaran dengan waktu juga Tante."
"Kami menunggu kabar dari Abang dan petunjuk dari sana."
"Tante, Lea pengen bicara dengan Abang sebentar." Ucap Lea menyela pembicaraan.
Melinda mengangguk dan menyerahkan ponselnya kepada Lea.
"Bang.."
Isak tangis pun pecah di seberang sana. Lea sangat tahu bagaimana adik nya ini. Sejak dari tadi dia mencoba menahan untuk tidak menghubungi Ansell agar dia fokus mencari informasi di Bali tapi mendengar ucapan yang tertahan saat berbicara dengan Tante Melinda barusan. Lea ingin menjadi penenang untuk adik-adiknya mengantikan Bundanya untuk sementara waktu.
"Udah jangan menangis Bunda tidak suka Ansell cengeng begitu. Kita akan melakukan terbaik untuk menemukan Bunda dan Papa."
Mendengarkan isakan tangisan dari Ansell membuat keluarga ini kembali sedih. Mereka kini bergantung kepada Harapan dan Doa.
"K-kak, kita harus bagaimana ya rasanya sangat sesak sekali d**a ini pikiran ku hanya tertuju kepada Bunda dan Papa?" Ucap Ansell lirih disela isakan nya itu.
"Kakak akan ikut pencarian Papa dan Bunda. Untuk sementara Kakak akan ambil cuti."
"Kak, "
"Jangan khawatir, kakak akan bergabung bersama Tim SAR. Papa dan Bunda tidak akan ninggalin kita begitu saja kan.?"
"Iya Kak."
"Abang istirahat dulu ya pasti capek pikiran dan hati juga sejak dari tadi. Intinya kita tetap sabar dan berdoa ya Bang."
"Iya Kak, Abang akan istirahat sejenak besok akan bersiap-siap lagi. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. "
Lea memberikan ponsel kepada Tante Melindanya.
"Alex, sini dek."
Alex menghampiri kakaknya dan duduk disebelah Lea. Tentunya dengan pikiran yang sama seperti yang lain.
"Pa, Tadi pagi Naomi masih mengirim foto awan dari jendela pesawat. Dia bilang langitnya cantik sekali. Kenapa kecantikan itu harus berubah jadi begini, Pa?" Ucap Melinda masih tidak bisa terima.
"Tuhan sedang menguji batas kesabaran kita, Mel. Papa sudah bicara dengan rekan di otoritas bandara. Mereka bilang titik terakhirnya memang sulit dijangkau. Tapi selama belum ada hitam di atas putih, Papa tidak akan memesan nisan untuk mereka."
"Tapi sampai kapan, Kek? Tim SAR bilang cuaca di sana ekstrem. Lautnya sedang lagi ganasnya. Aku sudah telepon teman di Basarnas, mereka bilang peluang... peluang itu..." (Alex tidak sanggup melanjutkan kalimatnya).
"Alex, lihat Bunda mu, bahkan Papa mu juga. Bundamu itu orang kuat. Mereka sudah melewati banyak badai bisnis dan hidup mereka penuh dengan tantangan selama ini. Mereka tidak akan menyerah pada laut begitu saja."
"Kek, Alex bukan anak kecil lagi. Aku tahu hitung-hitungannya. Bahan bakar pesawat itu ada batasnya. Kalau mereka mendarat darurat di hutan, oksigen, luka-luka, aku hanya tidak sanggup membayangkan mereka kedinginan di sana sendirian tanpa kita bisa melakukan apa-apa ! aku akan mencari Bunda dan Papa besok."
"Alex, dengarkan Kakek. Dalam hidup ini, ada hal-hal yang bisa kita kendalikan dengan uang dan koneksi, dan ada hal-hal yang hanya bisa kita serahkan pada pemilik semesta. Saat ini, logikamu adalah musuhmu. Jangan biarkan angka dan statistik membunuh harapanmu sebelum Tuhan sendiri yang memberitahumu. Kita tidak sedang menunggu keajaiban, Lex. Kita sedang menunggu mereka pulang. Bagaimanapun caranya."
Alex mengangguk. Dia tidak boleh berpikir tentang negatif tentang Bunda dan Papanya.
Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia melihat layar dengan ragu "Ini dari rekan bisnis Papa di Singapura. Dia tanya apa ada perkembangan. Aku harus jawab apa, Kek ? Dunia sedang menonton kita hancur."
"Katakan pada mereka, Keluarga Addison masih berdiri. Kita tidak akan hancur sampai kita tahu pasti apa yang terjadi di langit itu."
"Iya Kek."
Lea memijit pelipisnya tiba-tiba dia sakit kepala. Apa yang harus dia lakukan..! pertanyaan itu selalu muncul di benaknya.
"Besok kita terbangun ke Bali kak ?"
"Sudah ada Abang disana. Disatu sisi kita tidak boleh meninggalkan yang ada disini, terutama kamu dek."
"Kenapa dengan ku Kak ?"
"Sudah saatnya kamu mengantikan posisinya Papa untuk sementara waktu Dek."
"Hah secepat itu Kak ?"
"Terus siapa ? Kamu tinggal menunggu wisuda lagikan? nanti Kakek dan Tante akan mengajarimu. Kalau pun yang turun dan harus pergi mencari Bunda dan Papa mungkin Kakak yang akan turun tangan Kakak akan pergi mencari mereka. Kakak akan ambil cuti Dek, seperti yang Kakak bilang sama Abang tadi."
Alex menghela napasnya dan kemudian dia mengangguk. "Aku akan melakukannya Kak ini demi Papa dan Bunda."
"Terima kasih ya Dek, kita akan menjaga apa yang sudah Papa perjuangkan di perusahaan itu Kakak takut ada yang memanfaatkan kesempatan untuk menghancurkan perusahaan Papa yang sudah Kakek dan Papa bangun dari nol selama ini."
Alex mengangguk dan mengerti ucapan Kakaknya barusan dia boleh saja sedih, putus asa dengan keadaan ini tapi satu hal yang harus dia ingat tanggung jawab yang sempat Papa dan Bunda isyaratkan saat dia pergi ke perjalanan bisnisnya ini.
***