- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Detak jam dinding menjadi satu-satunya suara yang mengisi apartement itu. Reynand yang tertidur di atas sofa perlahan menggerakkan kelopak matanya. Ia merenggangkan badannya dan menguap. Matanya yang masih buram menatap langit-langit yang berwarna putih polos.
Ia mengernyitkan dahi saat rasa sakit menyerang kepala. Hangover pasca minum-minum adalah hal yang harus ia rasakan saat ini. Reynand dengan cepat mendudukkan diri dan memijat kepalanya. Lelaki itu menatap sekeliling dan menghela napas saat tersadar bahwa dirinya berada di apartment-nya.
“Kepalaku pusing,” keluh Reynand masih memijit pelipisnya. Lelaki itu lalu membuka selimutnya, hendak beranjak namun sebuah teriakan menghentikannya.
“Ennrrgh! David sialan, kembalikan selimutku!”
Reynand membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka lebar. Jantungnya berdetak kencang karena terkejut saat mendapati seorang perempuan meringkuk di atas sofa tidurnya. Di sampingnya Tepat di sampingnya.
Sebelumnya gadis itu mungkin menenggelamkan dirinya hingga Reynand tidak menyadari kehadirannya. Mungkin Reynand tidak akan terlalu terkejut jika perempuan yang berada di sebelahnya tengah telanjang. Dan memanggilnya manja, bukan berteriak keras seperti itu.
Tetapi, alih-alih telanjang. Perempuan itu memakai jaket yang sangat tebal dengan rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Jelas sekali ia tidak telanjang dan dapat dipastikan mereka tidak melakukan hal menyenangkan semalam.
“David….!” Gadis itu mengerang dengan keras. Membuat Reynand yang ling-lung karena hangover refleks kembali menyelimuti gadis itu, kali ini hanya sampai perbatasan lehernya.
Reynand mungkin tak bisa dengan jelas melihat wajah gadis itu. Namun suara yang sangat ia kenali itu telah menunjukkan segala. Makhluk mungil itu, Senna.
Senna…
SENNA!!!
Mendadak rasa pusing di kepala Reynand menghilang. Atau mungkin ia memikirkan hal lain sampai-sampai rasa sakit itu tak ia rasakan kini.
Tapi tunggu… Senna? Ada di dalam apartment-nya?
Buru-buru Reynand menggelengkan kepalanya. Tidak mungkin Senna berada di apartment-nya! Ia sudah beberapa kali bermimpi basah tentang Senna, dan sepertinya ini adalah hal yang sama. Ya, Reynand yakin bahwa ini adalah mimpi. Hanya mimpi!
Reynand menelisik wajah tidur Senna yang tertutup rambut, lalu menyibaknya. Mimpi kali ini pembukaannya cukup biasa, tidak panas seperti sebelumnya. Reynand diam dalam beberapa saat, menelisik wajah tidur gadis dengan wajah manis itu. Cantik sekali.
Reynand mengangkat sudut bibirnya, menyeringai setan. Ini mimpi dan ia bebas melakukan apa pun dalam mimpinya. Senna dalam mimpinya seringkali menggodanya lebih dulu, dan sepertinya sekarang adalahnya saatnya membalik keadaan.
Reynand menelusupkan tangannya pada pinggang Senna dan memposisikan tubuhnya di atas gadis mungil itu dengan perlahan. Senna tengah tidur dalam posisi miring dan untuk kedua kalinya Reynand menyibak rambut Senna. Bibirnya lalu mendekat untuk mengecap telinga gadis itu. Reynand memainkan lidahnya di sekitar telinga Senna, membuat gadis itu sedikit terusik.
“David… berhenti menggangguku!” erangnya.
Aktivitas Reynand terhenti, binar mata kelamnya lenyap tergantikan tatapan mata dingin. Ini mimpinya, di sini Senna adalah miliknya bukan milik David. Reynand dengan keras menarik bahu Senna. Membuat gadis itu terlentang dan langsung mencium bibirnya tanpa ampun bersamaan dengan manik mata cokelat yang terbelalak sempurna.
Senna masih belum bisa mencerna situasi namun tangannya dengan refleks keluar dari selimut untuk mendorong tubuh besar yang berada di atasnya.
“Eeengggh!” Senna mengerang protes. Namun Reynand menulikan telinganya. Lelaki itu menyesap bibir Senna dengan kuat, menggigitinya dan berusaha memasukkan lidahnya. Tangannya tak tinggal diam, Reynand dengan kasar melemparkan selimut yang menghalangi keduanya dan membawa gadis itu dalam ciuman yang dalam.
Pangkal paha Reynand terasa sesak, dan hal ini terasa lebih nyata dari mimpi-mimpi yang sebelumnya. Reynand menarik pinggang Senna untuk lebih dekat dengannya. Tubuh keduanya menempel begitu erat, dan erangan Senna membuat Reynand berhasil memasukkan lidahnya.
Ciuman itu begitu basah, dalam, dan liar. Reynand tak memberikan jeda sedikit pun pada gadis itu. “Eeenggghh…” Senna kembali mengerang. Tubuhnya tanpa selimutnya terasa sangat panas di musim dingin.
Reynand menarik lidah yang berhasil mengobrak-abrik mulut Senna hanya untuk berucap sebuah kalimat. “Kau milikku, Senna. Biarkan aku memilikimu,” ucapnya sarat akan permohonan.
Reynand mengecup pipi Senna, berpindah pada keningnya, hidung, dan terakhir dagu. Hal itu memberikan rasa panas yang lebih pada Senna yang terengah mencerna situasi.
Reynand menyelusupkan kepalanya pada leher Senna. Mengecupnya ringan sebelum menyesap leher jenjang gadis itu. Leher Senna lembut, terasa bagaikan kain tipis yang mudah berbekas hanya karena hisapan kecilnya. Dengan hati-hati Reynand memberikan tanda merah di sana.
Senna mengerang, menyentuh rambut berantakan Reynand yang berantakan. “Ennggh, berhenti…” pintanya.
Reynand mengabaikan permintaanya. Lelaki itu kini sibuk melepas jaket tebal Senna dan melemparkannya asal. Reynand juga melepaskan sweater putih Senna dari kepala. Mendapat ciuman panas di pagi hari membuat Senna gagal memasang pertahanannya. Ia kini mendesah saat Reynand menghisap tulang selangkanya dengan tangan yang meremas lembut payudaranya.
“Rey…” panggil Senna di sela hembusan napas beratnya.
Reynand menaikkan kepalanya, memberikan ciuman panas kedua di pagi ini. “Benar, seperti itu. Panggil namaku, ini aku,” ujarnya dengan suara serak yang menggoda.
Reynand dengan gesit melepaskan sweater dan kaos dalamnya dengan cepat. Lalu kembali hendak merapatkan tubuhnya dengan tubuh Senna. Ia terdiam beberapa saat, dalam posisi tegap dengan lutut yang memenjara kaki gadis itu. Dalam posisi ini, ia bisa melihat Senna yang hanya memakai bra hitam dengan d**a naik turun. Pertahanan Reynand runtuh saat ia menatap wajah Senna yang menatapnya sayu. Astaga, ia tidak tahan.
“Reynand…” Senna memanggilnya dalam sebuah suara yang cukup kecil. Melihat keprasahan gadis itu membuat Reynand mensejajarkan wajahnya dan memilih untuk tidak mengabaikannya.
“Hmm…?” gumamnya sambil memberikan kecupan selembut kupu-kupu pada bibir Senna.
“Kita… tidak boleh melakukannya…” Senna berucap sambil sesekali memejamkan mata ketika Reynand memberikan kecupan di wajah dan rahangnya. Tubuh panas Senna beradu dengan tubuh Reynand yang membara. Memberikan fraksi-fraksi aneh yang membuat tubuhnya meleleh.
“Katakan alasannya?” Kepala Reynand turun untuk memberikan tanda merah di atas d**a Senna. Gadis itu lantas mengerang dan mencengkeram rambut Reynand.
“Jangan…” pinta Senna kesekian kalinya. Tubuh panasnya tak bisa menolah namun setitik kesadarannya masih sanggup berpikir rasional.
Reynand memberikan beberapa kecupan lagi di sana, menjilatnya dan mengagumi apa yang ada di depannya. “Jangan khawatir, ini hanya mimpi dan kau tak perlu menahannya.”
Manik mata berkunang Senna mengedip beberapa kali. Apa katanya? Mimpi?
“Tunggu Rey… biar aku jelaskan sesatu.” Senna hendak bangun namun tangan kanan lelaki itu menekan bahunya, dan satu tangan kiri menarik kebawah bra-nya.
“Jangan banyak bicara, nikmati saja.” Reynand berucap seperti gumaman karena lidahnya tengah sibuk melakukan hal lain.
Lebih dari ini, Senna pasti akan kehilangan dirinya. Dalam lima detik Senna mengumpulkan segala pikiran rasionalnya dan berucap. “Cium aku!”
Reynand mendongakkan kepalanya, dan melonggarkan pelukan rapatnya. Senna lalu menurunkan sedikit tubuhnya dan memberikan lelaki itu ciuman yang dalam dan menuntut. Reynand menggeram karena nafsu yang berada pada batas. Ia menginginkan perempuan ini!
Tubuh Reynand jatuh kesamping saat Senna mendorongnya. Menduduki lelaki itu dengan bibir yang saling bertaut. Setelah ciuman panjang, Senna lalu menjauhkan wajahnya, menegakkan tubuhnya masih dengan posisi menduduki perut keras Reynand. Dalam napas terengah, Senna berucap dengan keras. “INI BUKAN MIMPI, BODOH!!!”
Reynand bisa merasakan keterkejutan dalam dirinya. Perempuan yang kini menduduki perutnya baru saja berteriak dan mengatakan bahwa ini bukan mimpi. Tapi... Jika bukan mimpi, keajaiban apa yang bisa membuat Senna ada di apartment-nya, tertidur di sampingnya, dan kini setengah telanjang di atasnya.
Reynand mengangkat tangannya, untuk meremas p******a kencang Senna, membuat gadis itu memkik dan memukul dadanya kencang, membuatnya meringis. Ini sakit, dan itu berarti ini semua bukan mimpi.
"YAAA!!! DASAR KURANG AJAR!" teriaknya sembari memperbaiki bra-nya yang melorot. Gadis itu melotot nyalang, dan kembali memukul d**a Reynand dengan kesal.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -