Chapter 19

1817 Kata
“Dasar kadal raksasa!” Senna membopong lelaki besar dengan bibir yang tak berhenti mengomel. Lengan Reynand kini berada di bahunya dengan memberikan beban tubuhnya pada Senna. Lelaki itu memakai topi hitam yang tadi Senna kenakan, juga syal abu-abu melingkari lehernya. Senna tidak akan menyiksa diri dengan meminjamkan jaket tebalnya. Ia sudah cukup berbaik hati membawanya pulang ke apartment Reynand. Sebagai manusia ia tidak bisa membiarkan makhluk hidup menggelepar mati di depan matanya. Jadi, jangan salah paham. “Ambilkan aku cokelat panas dan selimut yang mahal!” Reynand kembali meracau. Sejak berada di taxi tadi, lelaki itu memang sudah meracau dan memerintahkannya ini itu. Tapi tentu tidak ada satu pun yang ia kabulkan. “Atau bir… Heem, tapi aku tidak mau yang dingin. HEI MATIKAN AC-NYA!” “Astaga. Astaga. Astaga…” Senna merapal dan buru-buru membawa lelaki itu memasuki lift. Memencet tombol nomor empat. Senna masih ingat betul nomor apartment Reynand. “Jangan bersandar padaku bodoh! Jalan yang benar!” Senna berteriak kesal sambil memukul kepala Reynand. Bersyukur karena gedung apartment Reynand termasuk elit dan tak banyak orang disana. Jadi ia bisa dengan leluasa menyiksa lelaki itu. Hohoho. “KAU KU PECAT! Dasar pegawai kurang ajar! Kubilang matikan AC-nya! Kalau sampai wajah tampanku berkerut kau yang akan aku kutuntut! Kemari panggil Boss-mu!” Reynand berteriak hingga membuat Senna kesal. Gadis itu melepaskan rangkulan tangan Reynand, membuat lelaki itu sempoyongan dan hampir terjatuh. “YAAA!!!” teriak Reynand. “Apa?! Hah apa?!” Senna turut berteriak. “Sudah merepotkan orang, masih saja mulutnya tidak bisa diam. Kalau mau mabuk jangan duduk di pinggir jalan. Lansung saja tiduran di tengah jalan!” Kini gantian Reynand yang terdiam. Keningnya yang sedikit tertutup topi berkerut-kerut melihat Senna yang marah-marah. “Senna?” bisiknya sambil mengerjap-ngerjapkan matanya. Senna melotot, mendadak bingung harus kabur atau setidaknya melemparkan lelaki itu ke dalam apartment-nya. Senna hendak memilih opsi pertama, namun Reynand dengan cepat menariknya kedalam sebuah pelukan. Memenjaranya dalam balutan lengan yang dingin. Pelukan itu begitu erat, seolah benar-benar tidak mengijinkan Senna untuk pergi darinya. “Kau baik-baik saja?” Reynand bertanya dengan mulut yang hampir seperti berkumur. Senna tak menjawab, ia sibuk berpikir bahwa bukankah seharus ia yang menanyakan hal itu? Senna ingin memberi jarak, namun Reynand semakin menggerus jarak di antara keduanya. “Kau tidak apa-apa? Dia tidak melukaimu kan?” Reynand kembali bertanya. Senna berharap ia salah dengar saat ini. Kepedulian dan Reynand adalah dua hal yang tidak bisa disatukan. Mungkin Reynand memang terlalu mabuk hingga berkata omong kosong seperti itu. “Senna… Kau tidak apa-apa kan?” Telinga Senna pasti sedang bermasalah saat ini. Apakah benar ia tengah mendengar pertanyaan yang menyerupai rengekan itu? “Memangnya aku kenapa?” Senna mendongakkan kepalanya, namun ia langsung menyesali hal itu. Melihat wajah tampan itu menatapnya cemas adalah hal yang membahayakan baginya. Namun, Senna tidak dapat berpaling. Ini adalah kali pertama ia melihat sifat Reynand yang jauh dari ekspektasinya. “David menyakitimu? Katakan padaku?” Senna mengerjapkan matanya. Ada apa dengan pria ini? “Lebih baik kau denganku saja… Hem… tinggalkan kekasihmu yang b******k itu. Dia… Si David itu… hanya mempermainkanmu…” Reynand berucap dengan nada yang terseret-seret. Sepertinya kesadaran lelaki itu datang dan pergi. Senna tercenung, mencoba memahami racauan Reynand. Kekasih? David? Ia dan David? “David kekasihku?” “Heeem… Mereka bilang dia kekasihmu… Lebih baik kau denganku saja…” Reynand mengangkat sudut bibirnya. “Aku lebih jantan,” ujarnya sambil cengengesan. Senna menatap Reynand dengan pandangan jijik. Ia mendengus dan berusaha melepaskan pelukan Reynand. “Lepaskan aku dasar m***m!” pekik Senna ketika Reynand mulai menurunkan tangannya hingga menggrepe-grepe pantatnya. Dasar kadal sialan. “Kau harus jadi kekasihku! Tinggalkan David!” seru Reynand mutlak. Oh, Tuan seenaknya muncul lagi. Senna tak menjawab dan mengapit lengan Reynand. Menariknya menyusuri lorong dengan hiasan lampu putih yang nampak elegan. Senna tidak repot-repot mencari nomor kamar Reynand karena ia ingat kamar itu berada di ujung lorong. Senna melepaskan apitannya untuk mengangkat penutup password, ia lalu memasukkan beberapa angka yang ia tahu saat melihat Reynand membuka pintu beberapa minggu yang lalu. Senna merasakan rasa berat di punggungnya. Lelaki itu merangkulnya tangannya melingkupi lehernya dari belakang dan menimpakan tubuhnya pada Senna. Reynand mengendus-endus rambut Senna membuat tangan gadis itu gatal untuk tidak memukul kepala Reynand. “Berhenti memukul kepalaku…” Gumam Reynand dengan mata yang setengah tertutup. Senna menolehkan kepalanya hingga ujung topi Reynand menyentuh dahinya. “Kupikir kau lebih baik dalam keadaan seperti ini, lizard. Kalau normal kau seperti penjahat kelamin yang main cium orang sembarangan.” Senna membuka pintu apartment Reynand lebar-lebar. Meletakkan kedua tangannya pada lengan Reynand yang ada di pundaknya dan menarik lelaki itu memasuki rumahnya sendiri. “Senna, punyaku sangat besar… Lebih besar dari punya si b******k itu…” bisik Reynand di telinga Senna. Senna medatarkan wajahnya. “Apanya yang besar?” tanyanya menyahuti racauan Reynand. Lelaki itu memiliki kepribadian 3D jika sedang mabuk seperti ini. Kadang seperti bos besar, menjadi manusia sedikit baik, dan sekarang menjadi makhluk m***m. Tapi dalam keadaan normal dia memang sudah m***m. “Itu… hmmm…” jawab Reynand. Senna tertawa kecil, melihat sisi lain Reynand yang aneh seperti ini. Ia merasa tengah merawat seorang bocah kecil yang masih memakai popok di celananya. Senna menyeret langkahnya agar bisa menghempaskan Reynand di sofa panjang berbentuk lingkaran yang dibelah hingga menyudut 90 derajat. Jika diabungkan sofa itu bisa menjadi tempat tidur yang cukup besar. Reynand mengerang saat punggungnya merasakan sesuatu yang empuk. Lelaki itu mengangkat tangannya dan menunjuk Senna. “Hei kau! Ambilkan aku selimut!” perintahnya. Senna mendengus, namun kali ini ia memilih untuk menuruti permintaan sang tuan muda. Dengan langkah seolah apartment ini adalah miliknya, Senna memasuki kamar Reynand dan mengambil selimut tebal yang tertata rapi di ranjangnya. Tangan Senna yang telah memeluk selimut tebal itu terhenti saat melihat ranjang Reynand yang tak asing baginya. Wajah Senna memerah saat kilatan bagaimana Reynand menindih tubuhnya dan mencumbu dirinya terlintas di otaknya. Senna buru-buru menggelengkan kepalanya untuk mengusir kenangan buruk tapi enak itu. Eh, maksudnya kenangan buruk yang tidak ada enak-enaknya! Senna buru-buru keluar dari kamar Reynand, ia lalu berdiri di samping Reynand yang meracau tentang ular berkepala dua. Senna merentangkan selimut dan meletakkan di atas tubuh besar Reynand yang hanya memakai sweater berwana biru dongker. Senna lalu melihat kearah jam dinding dengan bandul emas di sana. Sudah pukul empat pagi dan menyadari matahari sudah hampir muncul mendadak rasa kantuk itu menghampirinya. Senna mengerjapkan matanya, mencoba menghilangkan kantuk. Ia juga mengusap-usap lengannya berharap rasa dingin tak menyerangnya. Senna melihat kearah Reynand yang bergelung dengan nyaman. Setelah kedinginan beberapa lama, sepertinya Reynand sangat senang bisa mendapatkan sumber kehangatan seperti itu. Senna mengalihkan pandangannya kearah dapur minimalis lelaki itu. Jiwa kriminalnya mendadak bangkit karena adanya rasa lapar sebagai pemicu. Senna melirik kearah Reynand yang sepertinya sudah jatuh tertidur. Ia lalu melenggang tanpa beban menuju kearah dapur minimalis yang nampak begitu rapi. Ada meja dari bahan keramik yang memisahkan antar tempat masak dan ruang tengah. Di meja itu tertata tiga kursi bulat dengan kaki yang panjang. Apartement Reynand didominasi warna putih dan abu-abu, membuat rumah itu nampak bersih. Senna mengusap perutnya dan membuka lemari pendingin. Lemari pendingin itu didominasi oleh bir, makanan instan seperti sosis, dan makanan kaleng. Senna berdecak kecil dan memilih untuk mengambil sosis. Ia memutar langkahnya memasuki dapur, membuka semua lemari yang ada di sana. Senna tersenyum senang saat mendapati mie instan. Dingin-dingin seperti ini memang paling menyenangkan memakan mie instan yang hangat. Senna lalu memasak dalam diam, sesekali ia melihat kearah Reynand yang beberapa kali mengubah posisi tidurnya.  Senna memakan mie-nya sambil memandangi Reynand yang tertidur, topi yang tadi ia pasangkan terlepas karena tingkahnya. Setelah selesai Senna mencuci piring dan meminum teh hangat yang sudah ia buat. Ia lalu melihat kearah Reynand dan terkejut saat melihat lelaki itu terbangun dalam posisi duduk. Menatapnya dalam diam. Reynand nampak mengerjap-ngerjapkan matanya, lalu berujar setengah berteriak. “Hei kau! Siapa yang mengijinkanmu memakai dapurku!” Senna mengamati lelaki itu. Sepertinya Reynand hanya terbangun dari tidurnya dan masih dalam keadaan mabuk. “Aku hanya meminjam dapur, minta sosis, mie, dan teh. Jangan pelit,” ujar Senna dengan malas. “Kau Senna kan?” seru Reynand lagi. “Yah, begitulah…” jawab Senna tak acuh. Reynand diam, mengamati Senna dari sofa. “Kau tidak apa-apa?” tanyanya lagi hingg membuat Senna memutar bola matanya malas. Senna menatap lelaki itu. “Tidak, David marah padaku,” ujarnya di antara keheningan. Mendengar nama David, kening Reynand berkerut tak suka. “Kenapa kau bersama lelaki bodoh itu. Dia lelaki bodoh yang mau saja ditipu perempuan ular,” Reynand berucap sambil merebahkan tubuhnya. Kini Senna yang menatap lelaki itu dengan penasaran, sangat penasaran. Ia lalu berdiri, mengabaikan teh hangatnya yang tinggal separuh dan berdiri di samping Reynand. Ia menepuk kepala Reynand hingga membuat lelaki itu meringis. “Apanya yang bodoh? Siapa perempuan ular?” tanyanya tidak sabar. “Jangan memukul kepalaku!” “Jawab aku!” Senna kini mengguncang-guncang tubuh tertidur Reynand. Senna melirik kearah selimut tebal dan hangat itu. Udara di pagi hari semakin dingin dan Senna menggigil dibuatnya. Tanpa pikir panjang Senna menarik sisi lain sofa dan mendorongnya hingga menyatu. Melihat sisi 3D Reynand yang tak buas ketika mabuk membuatnya melonggarkan pertahanan. Tidak apa-apa bersama lelaki itu sedikit lebih lama, ia hanya perlu pergi sebelum Reynand terbangun dan tersadar dari mabuknya. Berdasarkan pengalaman orang mabuk akan tidur sangaat laaaammaaaa. “Rey jangan tidur! Jawab aku!” Guncang Senna sambil menaiki sofa. Ia lalu duduk bersandar di penyangga sofa, menghadap sisi samping Reynand yang tengah tidur. Senna menarik sebagian selimut untuk menutupi tubuh duduknya. “Jawab Reynand!” pekiknya dengan kaki yang menendangi perut Reynand. “Jangan menendangku!” Erang Reynand, kembali membuka matanya. “David itu bodoh, ia diselingkuhi berkali-kali, wanita itu… Tapi masih bisa tersenyum… Heeemm… bodoh sekali… Sampai membuatku muak melihatnya… Jangan dekat-dekat…” Senna menatap Reynand tak percaya. Apakah ucapan orang mabuk bisa dipercaya? Tapi sebagian besar orang mabuk akan kehilangan sisi manipulatifnya. “Kau juga bodoh, kuadrat lagi,” seru Senna kembali menendangi Reynand yang kembali mengerang. “Jangan dekat-dekat dengannya!” “Kenapa kau peduli sekali?” cibir Senna. Reynand memiringkan tubuhnya, menatap Senna yang dalam posisi miring. “Kau itu… membuatku tidak bisa lupa…” “Apanya?” “Padamu…” Dini hari, saat semesta mulai kembali berwarna. Di antara batas kesadaran dua manusia, Senna merasa hatinya menghangat padahal udara terasa sangat dingin. Wajah Reynand yang menatapnya sayu memberikan sebuah fakta paling baru. Senna mungkin menyesali pilihannya yang terlalu peduli. Pilihan yang membuatnya memandang lelaki itu tidak lagi sebenci sebelumnya. Ini menyebalkan, dan membuatnya lelah. Dini hari, saat semesta mulai berwarna jingga keunguan. Di sofa abu-abu yang melingkari keduanya, mereka menyerahkan diri pada rasa lelah. Entah apa yang akan terjadi saat keduanya membuka mata nanti. Mari bertaruh, siapa yang akan berteriak lebih dulu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN