Reynand menenggak alkohol dalam gelas berisi air es yang mulai menyusut. Alih-alih mengambil air es, lelaki itu kembali menuangkan alkohol berkadar tinggi itu untuk kemudian ia minum cepat. Reynand mendesah frustasi. Ia memang tidak bisa langsung mempercayai ucapan Yuri, namun ia tidak bisa menampik bahwa ucapan wanita itu mempengaruhinya. Reynand menoleh saat melihat Zay datang dan duduk di sampingnya.
“Kau tidak berencana menari di atas meja bar lagi kan?” candanya saat melihat tujuh botol kosong di atas meja Reynand. Lelaki itu tidak menyahut, lebih memilih untuk menuangkan minuman kedalam gelas yang kosong. Di sebelahnya Zay menatapnya dengan pandangan menelisik. “Ada apa denganmu? Kau tampak kacau,” tutur Zay mengamati bagaimana lelaki itu mendesah panjang dan mengacak rambutnya.
“Jika aku bercerita, kau tidak akan tertawa?” tanya Reynand setelah berdebat dengan dirinya sendiri.
Zay menatap lelaki di sebelahnya dengan picingan mata curiga. Ia pikir Reynand telah membuka rahasia memalukan tentang menjadi korban hipnotis dan jelas Zay sudah menertawainya. Apakah ada hal lain yang patut ditertawakan? “Aku janji,” ucapnya dengan mata berbinar. Belum-belum Zay sudah menahan tawa.
Reynand cukup mabuk hingga tak bisa melihat binaran mata geli dari Zay. Lelaki itu melesakkan dirinya pada sofa empuk berwarna merah bata. Pandangannya jauh melihat kearah kumpulan para penggila malam. “Aku tertarik pada seorang perempuan.”
“Lalu?” Zay bertanya dengan tidak sabar. Sebuah keanehan melihat Reynand membicarakan wanita dengan nada yang aneh seperti ini. Biasanya jika mereka membicarakan seorang wanita, bahasannya tidak pernah jauh dari seberapa besar d**a dan b****g mereka.
“Dia lebih muda dariku, sepertiinya masih berusia awal dua puluhan atau malah masih belasan. Wajahnya seperti anak kecil kadang seperti anak kucing. Kau tau kan aku suka kucing?” Reynand meracau, sepertinya alkohol mulai mempengaruhinya.
Zay ingin sekali tergelak, sepertinya sang penjahat kelamin sedang jatuh cinta. “Apa yang membuatmu tertarik padanya?” tanya Zay. Sangat antusias.
Reynand terdiam, menutup matanya untuk memikirkan pertanyaan yang masih bisa ia pahami disela-sela ketidaksadarannya. “Dia… sangat manis, sangat jujur, dan apa adanya. Setelah aku menghabiskan semua waktuku untuk semua perempuan manipulatif, aku seperti orang biasa saat menghadapinya. Aku seperti Reynand Cote, hanya Reynand Cote.”
“Oh man, kupikir kau benar-benar jatuh cinta padanya,” gumam Zay turut menghempaskan tubuhnya pada sandaran sofa. Rasanya sangat lucu ketika dua orang pria b******k membicarakan tentang cinta.
“Kau pikir begitu?” Reynand bangun dari posisi bersandarnya dan kembali menenggak minuman beralkohol, kali ini langsung dari botolnya. “Apa itu tidak terlalu jauh? Kupikir aku hanya penasaran pada Senna, seperti yang sebelum-sebelumnya, namun kali ini hanya sedikit lebih sulit.”
Melihat Reynand yang sepertinya berniat benar-benar mabuk membuat Zay tergoda untuk ikut mengambil gelas dan memasukkan beberapa es. Ia lalu menuangkan anggur dengan kadar alkohol rendah dan menyesapnya perlahan. Ia harus menjaga kesadarannya agar bisa mengawasi Reynand. “Kau sudah tidur dengannya?” tanya Zay.
Reynand meminum satu botol penuh dan mengambil botol kesembilannya. Manik matanya sudah tak setajam beberapa saat yang lalu. “Hampir,” gumamnya. “Hampir saja. Tapi tidak jadi. Sangat sulit menaklukannya. Bukankah aku terlihat lebih jantan daripada David?”
Zay mengerutkan keningnya, David? Kenapa Reynand tiba-tiba membawa nama David? “Apa hubungannya dengan David?”
“David pria bodoh itu sudah meniduri Senna. David melampiaskan kebenciannya pada Senna!” Reynand kembali mengerang, lalu meneguk satu botol penuh hingga beberapa tumpah membasahi lehernya. “Senna yang malang, ia pasti terjebak dengan David!” Serunya mulai melantur.
Di sebelah Reynand, Zay menatap lelaki itu dengan keterkejutan yang nampak sangat kuat. Reynand bersimpati pada seseorang? Sepertinya dunia sudah terbalik. “Bagaimana kau tau kalau dia terjebak. Bisa jadi wanita itu suka dengan David.”
Reynand menggeleng keras. “Tidak mungkin, Senna tidak mungkin menyukai David. Senna pasti terjebak dengan lelaki itu.” Reynand bersikukuh, mempertahankan egonya.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Di sela-sela kesadarannya, Reynand menjawab. “Aku akan membuatnya berpaling padaku.”
Zay menatap Reynand yang sudah terkapar kehilangan kesadaran. Botol yang masih berisi setengah jatuh ke lantai menumpahkan isinya. “Jika perempuan itu berusia belasan tahun, bukankah itu terlalu muda untuknya?” gumam Zay yang jelas tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari seseorang yang tidak sadarkan diri. “Tapi dua puluh enam tahun tidak terlalu tua juga,” gumamnya berbicara sendiri. Zay lalu mengamati wajah Reynand. “Tumben, biasanya dia suka yang dewasa, kenapa sekarang suka anak kecil.”
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Senna menggosok kedua tangannya yang dingin. Ia lupa memakai sarung tangan dan musim dingin di kota London benar-benar tidak bisa ditoleransi. Gadis itu menoleh kekanan dan kekiri, ia memang sering berkeliaran di malam hari, namun tidak pernah sendiri. Biasanya ia akan keluar dengan Angel atau beberapa temannya yang lain. Tapi sekarang ia sedang ingin sendiri.
Kakaknya yang sedang marah tak mau mengajaknya berbicara. Mendadak rumah mereka terasa begitu menyesakkan. Senna jadi rindu Indonesia. Ia juga iri pada David yang bisa pulang beberapa waktu yang lalu, meskipun karena pekerjaan. Sedangkan dirinya tidak bisa pulang seenaknya karena jadwal kuliah yang padat. Ia rindu sang Ibu juga rindu adik bungsunya, Mandala yang paling sebal kalau disuruh-suruh. Dan ia juga merindukan Ayahnya yang sudah berpulang lebih dulu.
Senna menghela napas hingga memunculkan riak putih pada udara. Gadis itu memutuskan untuk memasuki café dan memesan satu cup cokelat panas. Kota London cukup ramai bahkan pada malam hari. Asalkan ia tidak memasuki gang-gang kecil hal itu cukup untuk membuatnya aman.
Senna keluar dari café dengan cup hangat di tangannya. Ia menurunkan topi hitamnya agar bisa menutupi setengah wajahnya. Senna sudah hampir dua tahun berada di London, namun ia masih tidak nyaman jika ada lelaki yang menggodanya terang-terangan. Ia merasa sangat risih saat mendengar siulan menggoda bahkan tak sedikit yang lelaki yang menghampirinya dengan kata penuh godaan. Itulah alasan mengapa Senna sangat sering memakai topi kemana-mana. Senna mengeratkan jaketnya dan memutuskan untuk duduk di kursi luar. Udara sangat dingin, ia harus segera menghabiskan minumannya sebelum minuman hangat itu menjadi air dingin.
Senna menggerutu saat udara dingin menerpa sebagian wajahnya. Harusnya ia tetap berada di dalam café saja. Minuman yang ada di tangan kanannya habis dengan cepat. Senna terdiam di sana, bingung antara pulang atau kembali berjalan-jalan sedangkan musim sedang tak bersahabat dengannya. Ia hampir beranjak saat mendengar suara keras dari seberang jalan yang berjarak sekitar puluhan meter. Dari tempatnya duduk ia bisa melihat seseorang tengah jatuh tersungkur dan menabrak tong sampah. Orang itu terlihat baru saja keluar dari gang yang sepi dan kini tengah terduduk dengan tong sampah di sampingnya. Rambut lelaki itu berantakan hingga menutupi wajahnya.
“Bodoh,” cibir gadis itu. Senna lalu mengedarkan pandangannya, ada beberapa orang yang berlalu lalang namun mereka terlalu tidak peduli untuk membantu orang itu. Senna menajamkan matanya saat melihat orang itu masih terduduk sembari memegangi kepalanya.
Ini sudah dini hari dan Senna tidak berkeinginan untuk ikut campur dengan urusan orang lain. Ia hanya diam dan menahan diri saat melihat seorang gelandangan menghampiri lelaki itu dan merogoh-rogoh jaket tebalnya, sedangkan lelaki itu tak melakukan perlawanan apa pun. “Ambil saja dompetnya lalu pergi,” bisik Senna setengah berdoa. Senna meringis saat gelandangan itu dengan paksa melepas jaket tebal sang lelaki, lalu melarikan diri dengan cepat.
Manik mata cokelatnya melihat lelaki itu hanya pasrah dan meringkuk memeluk tubuhnya. Oke, rasa kasihan Senna sudah berada pada batasnya. Lelaki itu tak memakai jaket saat suhu udara tak bersahabat. Jika Senna memilih tidak peduli, mungkin akan ada berita tentang seorang lelaki mabuk yang meninggal karena kedingingan di ujung gang. Kasihan sekali.
Senna berdiri dari posisi duduknya dan berjalan ragu menghampiri lelaki itu. Keningnya berkerut semakin dalam dan manik mata cokelatnya ia sipitkan. Senna berhenti melangkah dalam jarak beberapa meter. Keraguan kembali menghampiri dirinya, namun ia mengatakan pada diri sendiri bahwa ia hanya perlu mengecek kondisinya dan membawanya pada pos polisi terdekat. Ia lalu berjongkok dalam jarak satu meter. Hendak menelisik rupa lelaki yang tengah mabuk, namun lelaki itu menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangan dan lutunya yang tertekuk.
“Hei man, kau tidak boleh tidur di sini. Kau harus pulang, setidaknya untuk mengambil selimut.” Senna menepuk-nepuk kepala lelaki itu dengan kurang ajar juga sedikit kesal karena ia jadi kerepotan seperti ini.
“Hei pemabuk!” seru Senna yang membuat lelaki itu perlahan mengangkat wajahnya.
Mendadak jantungnya berdebar dengan keterkejutan. Dari jarak ini ia bisa mengenali wajah yang tertutupi sebagian rambut yang acak-acakan itu. Manik mata cokelat terangnya bersirobok dengan manik mata kelam yang menatapnya sayu. Lelaki itu mabuk dan entah akan mengenalinya atau tidak pada keesokan hari.
“Kadal bodoh…” gumam Senna menyerupai bisikan.
Dari begitu banyak orang yang mabuk di jalanan, kenapa dirinya harus bertemu orang nomor satu yang berada dalam daftar makhluk yang harus ia hindari. Dari banyaknya orang di dunia ini, kenapa dirinya harus berurusan dengan lelaki itu lagi, Reynand Cote.
Senna datang dan menjahili lelaki itu hanya untuk sedikit menganggu kehidupan Reynand. Namun, entah bagaimana Senna merasa bahwa hidupnyalah yang diganggu oleh lelaki itu. Terlebih gangguan itu tidak sedikit.
Senna kini memiliki dua pilihan. Pergi meninggalkan Reynand dan membiarkannya terserang hipotermia, atau merepotkan diri mengurusi lelaki jahat itu.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -