Chapter 17

1768 Kata
     - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  Reynand menatap layar CCTV yang menampilkan gambar buram seseorang yang ia duga adalah sang pelaku kejahatan super berat yang harus dibumi hanguskan. Matanya menyipit, mencoba melihat gerak-gerik sosok itu. Sangat disayangkan karena sosok itu tidak mendongak untuk melihat CCTV. “Kau benar ini pelakunya?” tanya Zay sembari turut menelisik penampilan sang pelaku. “Dia terlihat seperti bocah, kau yakin ini dia?” Reynand mengangguk. “Dia keluar tepat setelah aku keluar dari club.” Reynand menolehkan kepalanya kearah Zay. “Kita bisa menelusuri jejaknya melalui tayangan CCTV kan? Mungkin saja ada wajahnya yang terekam kamera CCTV yang lain. Ah, dan tolong cetakkan fotonya yang paling jelas.” Zay melirik Reynand sinis, kenapa malah dirinya yang seperti lebih repot daripada Reynand sendiri. “CCTV di club ini hanya pintu masuk dan keluar. Kau tahu kenapa club malam ini menjadi langganan tokoh terkenal? Itu karena kami menjamin rahasia mereka, tidak ada CCTV dalam club. Kebanyakan tokoh terkenal membenci kamera dan sejenisnya, mereka selalu was-was dan tidak tenang jika ada kamera.” Terang Zay yang membuat Reynand mengacak rambutnya kesal. “Lalu bagaimana jika ada kejahatan seperti ini?!” protesnya tidak terima. Zay mengangkat bahunya acuh. “Kebanyakan dari mereka tidak mempermasalahkan lebih jauh. Uang bermain disini.” Lelaki dengan rambut cepak itu melemparkan tatapan meremehkan kearah Reynnad. “Bukankah kau sendiri tidak mau melaporkan kejahatan hipnotis itu pada polisi?” Reynand membuang mukanya, merasa kesal karena kalah bicara dengan Zay. Lelaki itu jago sekali beralasan, kenapa tidak jadi pengacara saja! “Kalau aman kenapa bisa videoku tersebar sampai ke media?!” Zay tertawa keras, ketara sekali tengah mengejek aktor papan atas itu. “Sepertinya kau punya banyak musuh. Ketika kau menggila mereka bukan menolongmu tapi malah mengeluarkan ponsel mereka. Salah satu dari mereka pasti mengirimkan ke media.” “Kirimkan video CCTV itu padaku!” seru Reynand yang kemudian langsung keluar dari ruang pantau dengan pintu yang berdebam keras. Meninggalkan Zay yang menggeleng-gelengkan kepanya melihat kelakuan lelaki labil itu. Untung saja Zay orangnya sabar. Reynand keluar dari ruangan dan berjalan menyusuri lorong menuju central club malam. Sepertinya ia butuh sedikit alkohol malam ini. Lelaki itu lalu mengangkat tangannya untuk melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Jam satu pagi, pantas ramai, gumam Reynand. Pandangan mata Reynand lalu jatuh pada pria dan wanita yang tengah b******u di lorong. Mungkin inilah alasan sebenarnya mengapa Zay tidak memasang CCTV di banyak tempat. Alis Reynand terangkat saat mendapati siapa wanita dengan pakaian seksi itu. Dan seakan mendapatkan ide brilliant, Reynand tersenyum senang. Lelaki itu berjalan pelan mendekati dua sejoli yang diliputi nafsu. Reynand bertepuk tangan hingga membuat kedua orang itu terkesiap kaget. “Oh, sungguh pemandangan yang bagus!” seru Reynand sembari melemparkan tatapan mengejek. Sang wanita buru-buru merapikan pakaiannya yang tersingkat. “Sedang apa kau disini? Ada apa dengan wajahmu?” tanya wanita itu. Reynand memutar bola matanya jengah, berapa orang yang sudah bertanya hal yang sama. “Biasa. Ini masalah lelaki.” Reynand memberikan jeda pada kalimatnya. “Ah, ku pikir beberapa hari yang lalu kau masih memohon-mohon untuk menjadi kekasihku.” Wanita itu, Yuri menatap Reynand dengan manik mata yang berkilat tajam. Ia lalu menoleh kearah lelaki yang hampir menjadi teman ONS-nya malam ini. “Berikan waktu aku berbicara dengan Reynand,” pintanya. Lelaki asing itu memberikan kecupan di bibir Yuri. “Aku tunggu di bar,” ujarnya lalu meninggalkan mereka berdua. Setelah memastikan lelaki itu cukup jauh, Yuri mulai membuka pembicaraan. “Bagaimana pun juga kau yang menyebabkan aku putus dengan David,” Yuri masih beriskukuh. Manik matanya menelusuri penampilan Reynand yang selalu bisa membuatnya b*******h. Setelah malam yang ia lalui dengan Reynand, ia benar-benar tidak bisa melupakan percintaan mereka yang begitu panas. Reynand tersenyum sinis. “Ya, aku akui bahwa aku dengan sengaja memanggil David.” Ada secercah harapan di mata Yuri saat mendengar jawaban Reynand. “Kau melakukan itu karena menginginkanku bukan? Kau sengaja membuatku putus dengan David agar bisa memiliku?” Yuri berucap dengan kerlingan mata yang menggoda. Reynand menatap wanita dengan balutan mini dress itu dengan pandangan menilai. Yuri adalah mantan kekasih David. Seseorang yang baru putus tidak mungkin langsung tidak peduli dengan mantannya. Mereka pasti akan mencari tahu wanita-wanita yang dekat dengan mantan kekasihnya. Kali ini Reynand mencoba peruntungannya. “Aku akan menjawabnya nanti,” ucapnya dengan nada menggantung. Reynand memandang sekelilingnya, lorong ini masih sepi. “Kau tahu, sepertinya David tidak begitu mencintaimu,” pancingnya. “Sekarang dia sudah memiliki kekasih.” Gotcha! Reynand semakin bersemangat saat melihat kilatan amarah di mata Yuri. “Itu tidak mungkin! David bahkan sangat frustasi karena putus denganku!” ujarnya percaya diri. “Aku bertemu dengan mereka kemarin. David sangat marah ketika aku mencumbu kekasih barunya,” ucap Reynand dengan nada menerawang. Ia bisa mengingat ekspresi wajah Senna yang memerah karenanya. “Si—siapa? Siapa orangnya?” cicit Yuri. Wanita itu mengepalkan tanganny. Ia tidak menerima fakta bahwa Reynand dan David kembali memperebutkan seorang perempuan, tetapi bukan dirinya. “Kau mungkin mengenalnya,” Reynand memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku. Berusaha terlihat sesantai mungkin. “Perempuan itu sangat manis. Bibir dan bokongnya seksi. Dadanya memang tidak terlalu besar namun kencang dan pas berada dalam genggamanku.” Wajah Reynand memerah saat membicarakan tubuh Senna. Hanya membicarakan perempuan itu saja sudah membuat Reynand panas dingin. Dan hal itu tak luput dari pandangan Yuri. Terlihat jelas jika Reynand begitu tertarik pada perempuan itu. “Siapa? Siapa orangnya?!” tanya Yuri dengan keras. Reynand memandang Yuri yang nampak menahan emosi. “Senna, namanya Senna. Kau mengenalnya?” ada kilatan ketidak sabaran dari manik mata Reynand. Ia memandang Yuri dengan pandangan menunggu. Sedangkan sang wanita menatap Reynand dengan pandangan aneh. “Senna? Senna yang wajahnya seperti anak kecil itu?” “Wajahnya manis,” koreksi Reynand cepat. “Kau bodoh atau bagaimana sih!”  Rasanya Yuri ingin tergelak menertawakan kebodohan Reynand. Apakah lelaki itu tidak tahu jika Senna dan David saudara? Tapi tunggu… Reynand b******u dengan Senna?! “Kau sungguh b******u dengan Senna? Gadis itu?!” Reynand mengangkat sebelah alisnya, ia tidak menyangka bahwa reaksi Yuri akan seheboh ini. “Ya, kami bahkan sudah naik ke atas ranjang,” ujar Reynand dengan mata yang mengamati ekspresi Yuri. Yuri tertawa sinis. “Perempuan murahan itu,” desis yang masih mampu didengar oleh Reynand. “Apa katamu?” tanya Reynand terlihat tidak terima. Yuri mengangkat wajahnya. “Dia! Senna sangat murahan! Dia sudah seperti p*****r!” serunya. Ekspresi wajah Reynand mengeras. Sebagian dari dirinya tidak terima jika perempuan itu direndahkan sedemikian rupa. “Bukankah terbalik?” Reynand berujar dingin. “Kau yang murahan. p*****r bahkan lebih baik daripada dirimu. Kau menjajakan dirimu pada lelaki asing dengan cuma-cuma. Kau pikir aku tak tahu bahwa kau sering bermain dengan banyak lelaki di belakang David? Dan kau bertingkah seolah hanya aku lelaki itu, menjadikanku kambing hitam ketika kebohonganmu terkuak.” Reynand menatap Yuri dengan tatapan penuh intimidasi disertai rasa muak yang pekat. “Alasan aku dengan sengaja menghubungi David adalah karena aku muak melihatnya menjadi lelaki bodoh. Aku sangat muak, hingga berpikir bagaimana jika lelaki bodoh dengan image putih itu mengetahui kekasih yang sangat ia cintai tak lebih dari seorang murahan?” Reynand mencengkeram rahang Yuri, lalu melepaskannya dengan kasar. “Orang sepertimu tidak berhak mengatakan Senna murahan!” Reynand ingat betul bagaimana perjuangannya hanya untuk berada di dekat gadis unik itu. Senna mungkin bukan gadis lugu, namun Reynand tahu Senna bukan perempuan murahan. Senna bahkan dengan gamblang menolak dirinya. Kabur-kaburan. Dan berakhir dirinya yang memaksa Senna meski ujungnya selalu gagal. Dan Reynand merasa frustrasi akan hal itu. Sedangkan Yuri memandang Reynand dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak menyangka bahwa alasan Reynand adalah untuk menghancurkan dirinya dan David. Reynand tidak menginginkannya. Benarkah? Rasanya Yuri tidak bisa menerima hal itu.  Terlebih fakta bahwa Reynand membela Senna seolah perempuan itu adalah manusia paling suci di dunia ini semakin membuat Yuri meradang. Begitu lama ia mendambakan Reynand, dan lelaki itu langsung beralih kepada gadis ingusan yang bahkan tak sebanding dengan dirinya! Di antara kemarahan Yuri memutar otaknya, mencari cara agar Reynand tidak lagi tertarik dengan gadis ingusan itu sekaligus ingin membalas Reynand. Ia tidak akan membiarkan Reynand bersama denan Senna! Tidak akan pernah! Hatinya sakit mendengar ucapan Reynand, dan ia tidak akan menjadi satu-satunya orang yang sakit hati. “Senna hanya main-main denganmu,” ucap Yuri dengan kemarahan yang mengakar di dadanya. Yuri mencoba menenangkan pikirannya, ia harus mencari cela. “Apa maksudmu?” Emosi Reynand mulai meluap. Entah mengapa segala hal tentang Senna membuatnya tidak bisa tenang. Yuri menyunggingkan senyumannya. Reynand berpikir bahwa Senna dan David adalah sepasang kekasih. Mengapa tidak sekalian saja ia benarkan agar Reynand menjauh dari gadis munafik itu.  “Kau tahu, setelah berpisah denganku David menjadi orang yang berbeda. Perselingkuhanku denganmu membuatnya tak lagi menghargai perempuan. David menjadi lelaki liar. Dan Senna adalah penghangat ranjangnya. David menyalurkan kebencian dan kefrustasiannya pada Senna melalui hubungan badan.  Tubuh mungil perempuan itu tidak seberharga yang kau pikirkan.” Yuri berbisik di akhir kalimatnya. Bisa ia lihat kebohongannya berdampak sangat jelas pada lelaki arogan itu. Reynand memang seksi, menggairahkan, dan sangat menawan. Tetapi arogansi lelaki itu membuatnya selalu berpikiran sempit. Reynand orang yang egois dan ingin menang sendiri tanpa memikirkan orang lain. Dan sepercik api sudah mampu membakar emosi dan melenyapkan logika Reynand. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN