Senna duduk diam di samping David yang tengah diobati oleh managernya, Erland. Lelaki berusia kepala tiga itu mencecar David dengan berbagai pertanyaan. Sesekali Erland akan sengaja menekan luka di wajah David hingga membuat lelaki itu mengerang.
“Dengan siapa kau berkelahi hah?!” sembur Erland. “Kau menang?” tanyanya kemudian.
David memutar bola matanya, lalu melirik sinis kearah Senna yang terlihat bagai anak rusa di sarang serigala. Gadis yang biasanya cerewet itu kini diam seribu bahasa.
“Kau dekat dengan Reynand?” tanya David.
“Tunggu-tunggu… Reynand?! Kau berkelahi dengan Reynand?! Apa yang terjadi?!” Erland berteriak dengan heboh.
“Jangan ikut campur ini masalah… Aduuh!!!” ucapan David terhenti saat Erland kembali menekan lukanya. Diobati pria bertemperamen buruk seperti Erland memang tidak ada enak-enaknya. Sepertinya David harus mengganti managernya, mencari yang bergender perempuan agar lebih lemah lembut.
“Kau itu tanggung jawabku! Sekarang kau babak belur, setelah ini aku yang babak belur dihajar atasan!” sembur Erland. “Bagaimana kronologinya!”
“Aku meminta Senna mengambilkan berkas, ia menitipkannya ke resepsionis. Saat aku mengambilkan resepsionis heboh dan mengatakan gadis yang mengantar berkas ditarik oleh Reynand ke lantai enam. Disana aku melihat Senna b******u dengan lelaki b******k itu.”
“WHAAATTTT!!! ARE YOU KIDDING ME???!!!” teriak Erland heboh, sangat heboh. Lelaki peruh baya yang masih melajang itu mendekati Senna dan mengguncang bahu gadis itu dengan keras. “Senna! Apa yang terjadi padamu?! Kau mabuk?!” teriak Erland.
Senna menggeleng dengan panik. Pikirannya dipenuhi dengan alasan-alasan yang sekiranya bisa membawanya lepas dari masalah ini.
“Jelaskan!” ujar Erland dengan mutlak, sedangkan David memilih membuang muka. Ia marah dengan adiknya. Melihat adiknya berciuman dengan rivalnya membuat ia merasa dikhianati.
“Eeemm, ini salah paham,” cicit Senna. Menceritakan secara lengkap dan jelas hanya akan menggali lubangnya sendiri. Dan entah mengapa, sebagian diri Senna tidak ingin lelaki kadal itu terlibat dalam masalah yang lebih jauh dengan kakaknya. Entahlah, mungkin ini karena sedikit banyak Senna sadar bahwa ia juga memiliki andil dalam segala kekacauan ini. Meskipun andil Reynand lebih banyak!
“Jelaskan dengan benar Senna!” Erland kembali mendesak gadis itu. Sedangkan Senna memutar otak pintarnya untuk berpikir. Sempat mempelajari hipnotis meskipun masih dalam tahap dasar membuat gadis itu dituntut memiliki otak yang berpikir dengan cepat dan tepat. Karena dasar dari hypnosis adalah keyakinan untuk bisa mengendalikan titik ketidakfokusan calon korban, mencari peluang.
“Kami melakukan pertukaran!” seru Senna setelah otaknya berhasil meringkas cerita dengan campuran sedikit kebohongan. “Sebelumnya David menyuruhku meminta maaf padanya kan? Aku sudah minta maaf dan sebagai gantinya kami harus berciuman sebagai hukuman untukku. Aku sempat mangkir dan kabur. Hari ini kami tidak sengaja bertemu dan taraaaa… itulah yang terjadi!”
“Kau berbuat salah apa padanya?” tanya Erland penasaran. Menurutnya, cerita Senna masih memiliki banyak plot hole.
“Eeemm, itu rahasia antara aku dan David,” dalih Senna. Gadis itu menatap takut kearah David yang balas menatapnya tajam kearahnya.
“Jangan berhubungan dengan lelaki itu lagi,” ucap David yang kemudian berdiri. “Jangan lupa sikat gigi dan gosok bibirmu tujuh kali,” serunya yang kemudian berlalu memasuki kamar dengan debaman pintu yang keras. David melemparkan dirinya di atas ranjang dengan keras. Menutup kedua matanya dan langsung membuka matanya saat bayangan wanita yang masih merajai hatinya hadir tanpa bisa ia cegah.
Untuk kesekian kalinya, David merasakan rasa patah hati itu kembali. Tiap kali otaknya tak sengaja mengingat momen menyakitkan itu. Bagi David, suatu hubungan hanya memerlukan cinta dan waktu. Namun, tidak bagi Yuri. Wanita itu membutuhkan hal yang lebih dewasa, yakni kepuasan ranjang. David tidak bisa memberikan hal itu. Ia dididik untuk menghormati perempuan, karena ia memiliki ibu dan adik perempuan. David takut apa yang ia lakukan akan berimbas pada keluarga. Ia hidup dengan kalimat, jaga perilakumu karena kau memiliki adik perempuan.
Puncaknya, pada suatu malam, Yuri tidak mengangkat teleponnya dan hanya berbagi lokasi tanpa keterangan. Tanpa pikir panjang, David langsung menuju ke tempat lokasi itu, sebuah apartment yang tidak ia kenali. Seseorang membuka pintu dengan senyum kelewat ramah, mempersilahkannya masuk, dan mengatakan ada hal luar biasa di kamarnya. Lelaki itu, si b******k Reynand Cote.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
“Kali ini kebodohan apa yang kau lakukan, hah?!” Elsa berucap dengan garang. Wanita itu mengurut keningnya pusing. “Kau tentu tahu aset seorang artist adalah wajahnya. Dan dengan luka seperti itu, tentu jadwalmu akan berantakan! Sekarang saja sudah berantakan, kau mau berantakan seperti apa lagi, hah?” Elsa membanting kumpulan kertas dengan klip di ujungnya. Kertas itu berisi jadwal padat Reynand untuk satu bulan kedepan.
“Elsa, ku pikir aku benar-benar b******k,” gumam Reynand yang langsung diacungi jempol oleh Elsa.
“Ya! Benar sekali. Kau itu manusia paling b******k dan merepotkan sedunia!”
“Saat ini, aku sedang ingin merebut pacar orang,” lanjut Reynand yang mendapatkan pelototan dari Elsa.
“Kau gila?! Kau tidak kapok setelah merusak hubungan Yuri dan David?! Ayolah, masalahmu sudah cukup banyak. Jangan menambah masalah lagi!” Elsa mengerang frustasi. Di seberang tempat duduknya Elsa, Reynand tengah berbaring dengan lap berisi es batu di pipinya.
“Kali ini aku benar-benar ingin,” gumam Reynand pelan. Lelaki itu lalu dengan gesit mendudukkan dirinya. “Kau ingat Senna yang kemarin?”
Elsa berpikir sejenak. “Oh. Gadis yang selamat dari terkaman serigala,” ucap Elsa dengan berlebihan.
“Dia punya hubungan dengan David,” gerutu Reynand.
“Serius?! David sudah move on?”
Raut wajah Reynand menggelap. “Entahlah. David marah besar saat aku mencium Senna. Padahal bibir juga bibirku, yang kucium juga bibir Senna bukan bibirnya. Kenapa dia yang marah!” Reynand melempar lap dingin keatas meja.
“Kalau kau tidak mengompresnya, itu akan bengkak besok,” peringat Elsa. Reynand berdecak sebal dan mengambil lap berisi es batu itu lagi. “Jika yang kau cium bibir pacar orang, tentu saja dia marah!”
“Aku tidak bisa membayangkan Senna kekasih David,” gumam Reynand setengah menerawang.
“Kenapa? David tampan, Senna juga sangat manis. Kupikir mereka cocok. Yang tidak bisa kubayangkan adalah ketika Senna pacaran denganmu.”
“Kenapa jika denganku?”
“Terlihat seperti anak kelinci yang diculik ketua serigala,” jawab Elsa sambil fokus melingkari beberapa jadwal Reynand yang harus diatur ulang. “YAA! JANGAN MELEMPARIKU” teriak Elsa kemudian.
***
“Ada apa dengan wajahmu?” tanya Zay saat melihat Reynand memasuki ruang khusus bagi pemilik club. Ruangan itu berada di lantai dua, terbuat dari kaca dengan posisi menjorok dan bisa langsung mengamati dance floor.
“Jangan dibahas,” jawab Reynand malas. Pukulan David sangat keras, ini bahkan sudah lebih dari tiga hari tetapi lebam birunya masih belum hilang.
“Kau masih berani datang?” Zay menatap Reynand dengan binar geli di manik matanya. “Kau tidak berniat mabuk dan melakukan tarian memalukan lagi kan?” tanya Zay yang dibalas u*****n kesal oleh Reynand. Lelaki dengan rambut cepat itu tergelak.
“Aku tidak mabuk saat itu,” jawabnya dengan ekspresi kesal. Jelas terlihat tidak ingin mengangkat topik memalukan itu.
“Jika tidak mabuk, berarti kau sengaja? Wow!” Zay menepuk tangannya. Memberikan apresiasi pada aksi gila Reynand.
Lelaki itu menggeram. “Aku dihipnotis!” Reynand berujar kesal. Bodo amat jika Zay tidak percaya atau bagaimana, setidaknya ia tidak mau dicap sebagai orang gila.
“Hah? Apa? Kau dihipnotis? Lelaki arogan sepertimu dihipnotis?!” Zay berucap tak percaya, namun dari sorot matanya, lelaki itu nampak tertarik ingin mendengar lebih jauh.
Reynand mengambil duduk di samping Zay. Club malam yang menjadi saksi tingkah memalukannya masih sepi. Sepertinya ia memang datang terlalu cepat, club malam akan ramai pada tengah malam ke atas, dan ini masih jam sepuluh. “Yah, seperti itu. Aku ingat dengan jelas bahwa aku tidak minum karena aku harus menyetir. Aku masih ingat berjalan lewat pintu belakang, dan setelahnya aku tak ingat apa pun.”
Zay menegakkan tubuhnya, terlihat benar-benar tertarik. Dipikir-pikir, selama menjadi teman Reynand, Zay cukup yakin bahwa Reynand tidak akan melakukan hal memalukan bahkan ketika mereka mabuk bersama. Jika mabuk, biasanya lelaki itu hanya akan bertingkah seperti bos besar dengan kepercayaan diri yang melonjak bekali-kali lipat. Tapi tidak sampai melakukan tarian di atas meja.
“Bagaimana kau bisa yakin?”
Reynand merenung sejenak, berpikir apakah ia harus menceritakan perihal kejadian hipnotis pertama yang ia alami. “Sebelumnya, beberapa hari sebelum kejadian di club. Aku dihipnotis, orang itu mengambil ponselku dan membuatku meracau.”
Zay terdiam, berpikir. Pemilik club malam paling terkenal di London itu menuangkan anggur dengan campuran alkohol ke dalam gelas yang berisi es batu. “Kau tahu pelakunya?”
“Jika aku tahu dia pasti sudah mendekam di penjara,” sahut Reynand sembari mengambil minum yang dituangkan Zay.
“Kau tidak memburunya?”
Reynand terdiam, sebelumnya ia memang berniat untuk memburunya. Namun niatnya itu sempat terlupakan karena Senna menarik perhatiannya. “Tentu aku akan memburunya,” gumamnya dengan nada dingin. “Pintu belakang kau pasang CCTV kan?”
“Tentu.”
Reynand tersenyum senang. “Nanti aku ingin melihatnya.”
Zay menatap beberapa pegawainya yang hilir mudik, beberapa jam lagi tempat lenggang ini akan dipenuhi dengan manusia pecinta malam. “Tapi aku agak kecewa padamu,” gumam Zay tanpa menatap Reynand.
“Apa? Kenapa?” tanyanya cepat.
“Aku tidak menyangka kau sebodoh itu, dihipnotis dua kali? Bukankah itu seperti jatuh pada lubang yang sama?” Zay tersenyum miring.
Di sebelahnya Reynand mendengus, lelaki arogan itu jelas tidak akan terima. “Itu kesalahan. Saat itu aku sedang tidak fokus. Tapi aku berani bertaruh, aku tidak akan terkena hipnotis untuk ketiga kalinya!” Reynand menggeram saat melihat Zay masih memandangnya dengan tatapan mengejek. “Jika aku bertemu dengan pelakunya, aku pasti bisa langsung mengenalinya! Tapi sepertinya ia sedang ketakutan dan bersembunyi dariku,” ujar Reynand dengan nada penuh percaya dirinya. “Kau tahu kan kalau ingatanku sangat kuat. Aku bahkan bisa mengenali pelakunya hanya dari suaranya,” Reynand kembali sesumbar.
“Yah-yah, terserah kau saja. Tapi aku adalah orang pertama yang akan tertawa terbahak-bahak jika sampai kau terkena hipnotis lagi.” Zay kembali menuangkan minum. Sesekali ia berteriak untuk memberikan arahan kepada bawahannya.
Reynand mengibas-ngibaskan tangannya. “Itu tidak mungkin! Jika aku sampai terkena hipnotis untuk ketiga kalinya, itu berarti aku benar-benar bodoh!” ucap Reynand sesumbar. Tanpa ia tahu bahwa sesungguhnya ia sudah tiga kali terkena hipnotis. Dan itu artinya Reynand benar-benar… bodoh.