Jantung Senna seakan berhenti, ia menelan ludah gugup saat tiba-tiba perasaan takut merajai dirinya. Senna ingat, bagaimana lelaki pemilik suara bass di belakangnya itu mengangkat tubuhnya menuju kamar dan mulai menciumnya dengan basah dan kasar. Senna memejamkan matanya sejenak, lalu mencoba menjernihkan pikirannya seperti yang seringkali ia lakukan ketika berada dalam keadaan terdesak seperti saat ini.
Manik mata cokelat terangnya mengamati ekspresi ketiga resepsionis yang nampak terkejut. Oh, ternyata bukan hanya dirinya yang terkejut. Senna menarik napas dalam, lalu memegang lengan kanan yang nampak keras dan berotot di tangannya. “Permisi, saya sudah selesai, silahkan lanjutkan kegiatan Anda,” ucap Senna mencoba santai.
“Bagaimana jika kita melanjutkan kegiatan semalam yang tertunda, Senna?” bisik lelaki itu hingga Senna menelan ludahnya gugup. Fix! Tanpa melihat wajahnya pun Senna yakin betul kalau lelaki di belakangnya ini si m***m Reynand. Bertambah sudah julukan untuk si kadal berkelamin ganda.
Senna tertawa kering. “Hahaha, aku tak mengenalmu dasar tuan sok kenal,” seru Senna sembari mendorong tangan Reynand agar memberikan jalan padanya. Namun, harapan hanyalah tinggal harapan. Sepertinya Reynand benar-benar tidak akan melepaskannya, terbukti dengan bahasa tubuh lelaki itu yang semakin menjerat Senna. Tidak mempedulikan resepsionis yang melotot, dan beberapa staff yang terang-terangan melihat kearah mereka.
“Setelah malam panas kita dan kau bilang aku sok kenal? Oh, sungguh jahat…” goda Reynand dengan nada mendayu.
“Malam panas kepalamu?! Kita tidak melakukan apa-apa bodoh! Kau lupa kalau kau yang tidur pulas?” desis Senna masih berusaha menjaga suaranya. Lelaki ini memang benar-benar tidak tahu malu!
“Nah! Karena aku ketiduran dan kau terlihat sangat kecewa. Maka aku menawarkan diri untuk memberimu malam kedua. Eem, atau siang ini juga tidak apa-apa. Aku tidak keberatan,” ucap Reynand dengan lancar. Seolah kata itu begitu sering terucap dari bibir seksinya.
“Tidak, terima kasih. Sebagai orang yang mengaku sebagai aktor terkenal, pastinya kau sangat sibuk dan harusnya berpikir bahwa apa yang kau lakukan kini bisa menciptakan gosip yang menghancurkan namamu kan?” Senna berucap dengan tangan yang berhenti mendorong lengan Reynand, lama-lama ia capek sendiri.
Reynand terdiam. Sejujurnya, saat melihat gadis ini tadi, Reynand benar-benar tidak berpikir tentang apa yang baru saja Senna katakan. Beberapa saat yang lalu, Reynand hanya terpaku saat melihat seorang gadis di pintu masuk tengah menurunkan masker. Seperti melihat sebuah makanan enak setelah sekian lama menahan lapar, itulah yang Reynand rasakan saat melihat Senna, gadis yang mengganggu pikirannya sejak dua minggu yang lalu. Ia bahkan melupakan fakta bahwa ada banyak orang yang melihat tingkah anehnya saat ini.
Seakan tersadar, buru-buru Reynand menurunkan tangannya dari sisi Senna. Dan seolah bisa menebak bahwa gadis itu akan kabur, Reynand dengan cepat meletakkan lengannya di leher Senna, mencegah gadis itu kabur lebih jauh dan menariknya kearah lift. “Ada yang harus kita selesaikan, deer,” bisik Reynand tidak mempedulikan rontaan Senna yang mencoba melepaskan lengan Reynand di lehernya.
“p*****t Lizard! Lepaskan aku!” Ronta Senna namun sepertinya sama sekali tidak berpengaruh kepada Reynand yang berjalan sembari menarik Senna dengan mudah.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
“Kau tau?! Apa yang kau lakukan padaku waktu itu adalah pelecehan!” Senna berucap keras saat Reynand membawanya memasuki sebuah ruangan yang nampak seperti ruang istirahat.
“Pelecehan itu terjadi apabila ada korban yang dipaksa dan ada pelaku yang memaksa,” ujar Reynand kalem. Ia mencoba menahan diri.
Senna tertawa sarkas. “Dan itu terjadi!”
Reynand menggelengkan kepalanya. “No no, sekali lihat juga aku tahu kemarin kau menikmati acara pembukaan kita,” ucapnya yakin namun sesungguhnya mencoba meyakinkan diri. Reynand menyisir rambutnya kebelakang. Manik mata kelamnya berpendar mengamati penampilan gadis itu hari ini. “Kau menyamar untuk menghindari siapa? Tentu bukan aku kan?” goda Reynand dengan mengangkat sudut bibirnya. Tentu saja ia tahu bahwa Senna mencoba menghindarinya.
“Pertama, aku tidak menikmati sedetik waktu pun denganmu!” Senna mengacungkan jari telunjuknya galak. “Dan kedua, aku tidak sedang menyamar!”
“Oh! Benarkah? Kau tahu, penampilanmu bahkan lebih seperti artis terkenal yang sedang menyamar. Aku yang memang terkenal saja tidak sampai seperti itu.” Rasanya Reynand seakan menemukan sebuah mainan baru. Ia suka sekali melihat bermacam ekspresi dari gadis di hadapannya.
Senna menarik napas dalam, mencoba sabar. “Kau tidak berpikir bahwa kau keterlaluan?” ucap Senna tiba-tiba. Manik mata cokelatnya menyorot sendu. Seolah mencoba menenggelamkan lelaki yang terdiam di hadapannya. “Malam itu, aku sangat ketakutan,” imbuh Senna.
Reynand membuka bibirnya, namun tak ada satu kata pun yang terucap. Hasrat untuk menggoda gadis itu seakan lenyap meninggalkan rasa berat di hatinya.
Senna menundukkan kepalanya. “Aku tidak tahu. Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Setelah apa yang coba kau lakukan malam itu, kau bahkan kini menyeretku tanpa rasa bersalah.” Senna mengangkat kepalanya, kembali melayangkan tatapan pedih yang sama. “Apa kau… tidak punya hati?” tanya Senna dengan suara mengalun pelan, namun seakan sanggup menusuk hati lelaki di hadapannya.
Manik mata lelaki itu seakan menggelap, mendingin, dan tidak dapat diselami. “Tidak. Aku memang tidak punya hati,” ujarnya. Reynand tersenyum dingin, ia melangkahkan kakinya mendekati sang gadis. “Kenapa kau membuatnya begitu sulit? Bukankah berciuman, b******u, dan b******a sudah menjadi rutinitas semua orang?”
Apa yang gadis itu bilang? Ketakutan? Bullshit, tidak ada satupun wanita yang ketakutan saat ia mencium mereka. Mereka menyukainya, dan sungguh Reynand yakin Senna pun begitu. Lantas mengapa gadis itu menyalahkannya?
“Jangan bercanda, aku tidak akan percaya jika kau mengatakan tidak pernah melakukannya.” Reynand jadi teringat dengan seorang model pendiam yang nampak lugu. Semua orang bilang model itu begitu polos dan suci. Tapi apa, model yang bahkan sempat ia kira virgin itu menjadi sangat agresif ketika berada di ranjang. Dan melihat penampilan Senna yang jelas tidak mencerminkan gadis cupu yang tidak pernah keluar rumah, pastinya gadis itu pernah berpacaran atau bahkan melakukan ONS. “Dan lagi, aku hanya menjalankan apa yang kau ucapkan tentangku.”
“Aku sudah minta maaf kemarin! Tapi sekarang kau bahkan tidak merasa bersalah padakukan?!” tuduh Senna. Sesungguhnya, Senna cukup marah saat mengetahui seperti apa dirinya di mata Reynand, gadis nakal, huh?
“Aku akan meminta maaf setelah ini,” gumam Reynand sebelum lelaki itu melangkahkan kakinya dan menarik kedua sisi kepala Senna untuk mendongak. Untuk kesekian kalinya, Reynand mengecap belah bibir yang terasa bagai cokelat hangat di musim dingin. Menelan kedua belah bibir itu penuh hingga menimbulkan aliran hasrat yang semakin memacunya.
Reynand merapatkan tubuhnya kala gadis itu mencoba mendorong dirinya untuk menjauh. Bibirnya mengecap semakin dalam dengan tangan yang menarik tubuh gadis itu merapat kearahnya.
“Eeenngghh…!” Senna melenguh, mencoba memprotes namun bibirnya tengah melakukan aktivitas lain.
Ciuman keduanya begitu dalam dan basah. Lidah menyelinap dengan Reynand yang mencoba masuk dan Senna yang kukuh mendorong. “Eemmm…” Senna kembali mencoba berucap, namun hal itu berlaku sebaliknya pada Reynand. Erangan Senna semakin membuatnya kepanasan. Reynand merenggut gadis itu kedalam dirinya, tanpa menyadari pintu di belakangnya terbuka keras. Lalu seseorang menarik dirinya dengan kasar dan melayangkan pukulan yang keras pada wajah tampannya.
Ah , sialan. Ia gagal lagi!
Reynand merasakan hantaman keras di pipinya. Bukan cuma sekali, bahkan belum sempat ia lepas dari rasa terkejutnya pukulan itu sudah melayang keempat kalinya. Reynand menarik napas dalam, lalu mendorong orang itu dengan keras. Membuat jarak agar setidaknya ia bisa mengumpulkan tenaganya. Untuk apa ia mempunyai otot seksi jika kalah dalam perkelahian seperti ini.
Reynand mengerutkan kening saat tersadar siapa lawannya. Lelaki itu, David. Aktor sepertinya dirinya yang memiliki image bersih dan tidak pernah terlibat dalam masalah. Berbeda dengan dirinya yang punya banyak catatan hitam. Reynand mengusap darah di sudut bibirnya dengan kasar. Ia mengangkat alisnya saat melihat David terlihat begitu marah dengan wajah merah dan tangan yang terkepal sempurna.
“Oh, apa ini? Kau marah karena kekasihmu mampir ke ranjangku? Itu sudah beberapa bulan yang lalu, kenapa baru sekarang memukulku?” ucap Reynand dengan nada ejekan yang kental. Reynand melirik kearah Senna yang melihatnya dengan mata melotot. Reynand berdehem, menyisir rambutnya yang berantakan dan mulai merenggangkan otot-ototnya. Ia tidak boleh kalah dalam perkelahian ini.
“Kau memang b******k!!!” seru David yang kemudian kembali menerjang Reynand. Kali ini lelaki itu tidak diam, ia juga melayangkan tinjunya sekuat tenaga. Perkelahian itu berlangsung cukup sengit. Lantai enam yang memang dikhususkan sebagai tempat istirahat para artis membuat lantai itu sepi.
Senna yang melihat keduanya adu pukul bingung bukan main. Mau melerai dirinya sendiri bakal repot kalau kena tinju. Mau minta tolong orang nanti mereka berdua malah masuk berita. Senna membelalakkan matanya saat melihat David yang kini dipukuli oleh Reynand. Melihat bagaimana beringasnya sang Kakak meninju Reynand membuat Senna menganga. Inilah yang Senna tunggu-tunggu sejak ia mengetahui bahwa Reynand meniduri kekasih David.
“Ayo! Semangat!” seru Senna tanpa sadar meneriaki kakaknya.
Reynand menolehkan kepalanya, menatap Senna. Senna menyemangatinya? Pikirnya kepedean.
“Ayo David! Jangan mau kalah! Percuma ganteng kalau cupu!” seru Senna yang membuat keduanya berhenti memukul. Kedua lelaki itu menoleh kearah Senna yang mendadak salah tingkah. “Apa? Kenapa?” tanya Senna merasa aneh dengan keheningan yang mendadak itu.
Reynand melepaskan cengkraman di baju David yang acak-acakan. “Kenapa kau membelanya?!” tanya Reynand memandang Senna marah.
“Te-tentu saja aku harus membelanya,” jawab Senna dengan gugup.
“Senna! Kau tidak boleh bertemu dengan si b******k ini lagi!” seru David yang langsung menarik atensi Reynand. Lelaki berwajah tegas itu menatap David dengan protes.
“Siapa kau?! Ini urusanku dengan Senna! Kau tak perlu ikut campur!”
David menarik napas kasar. “Kau boleh merebut kekasihku, karena nyatanya dia yang datang padamu. Tapi, tidak untuk Senna! Sekali lagi kau melakukan hal ini, aku benar-benar akan membunuhmu!” David berucap keras dengan jari telunjuk yang mengacung. Suaranya terdengar dingin dan penuh dengan rona kemarahan. Reynand tidak pernah melihat David semarah ini, bahkan ketika lelaki itu mendapati Yuri telanjang di atas ranjangnya.
Reynand menatap keduanya bergantian, ada sedikit rasa tak nyaman dari sorot mata yang biasa arogan itu. “Memangnya, apa hakmu melarangku? Hubungan apa yang kalian miliki?”
“Aku punya hak penuh atas Senna. Dan jelas itu bukan urusanmu! Lebih baik kau urusi saja wanita-wanitamu yang lain, karena Senna milikku!”
Reynand merasakan panas di hatinya. Ia tidak suka mendengar ucapan David yang mengklaim gadis itu. Dan rasa panas itu semakin mengobar saat ia melihat Senna yang tak mengelak ucapan David. Gadis itu, kini menatap David dengan tatapan sulit diartikan, begitu dalam, hingga Reynand bisa menebak bahwa hubungan mereka bukan hanya sekadar kenalan.
“Bagaimana jika Senna yang datang padaku?” tanya Reynand yang kembali mengalihkan pandangannya, menghadap David.
David tersenyum culas. “Tidak mungkin,” jawabnya penuh keyakinan. Dan keyakinan itu entah mengapa mengusik hati Reynand. David menolehkan kepalanya kearah Senna yang terdiam menatap interaksi keduanya. “Ayo pulang!” ujarnya pada Senna. Gadis itu menelan ludah. Ia lalu berjalan dengan lesu di belakang David, Senna melirik kearah Reynand yang kini melihatnya tajam.
Sepeninggal David dan Senna, Reynand berucap tidak percaya. “Mereka sudah tinggal bersama?!”