Chapter 14

1564 Kata
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  Senna sibuk dengan ponsel di tangannya. Manik mata coklat terangnya bergulir membaca berita gosip tentang Reynand Cote. Ia lalu menghela napas lega. Setelah hampir satu jam berselancar dari satu berita ke berita lainnya. Ia tidak menemukan wajahnya di berita manapun. Paling parah hanya video amatir saat Reynand menariknya untuk berlari menghindari kejaran penggemar. Beruntung Reynand dengan cepat memakaikannya topi, jika tidak habis sudah riwayatnya. Senna mengetuk-ngetuk ponselnya. “Apa aku harus berterima kasih?” gumamnya. Dengan segera Senna menggelengkan kepalanya. “Berterima kasih apanya, dia saja sudah melecehkanku!” Senna dengan frustasi menelungkupkan kepalanya pada meja. Mengabaikan pandangan mahasiswa lainnya yang menatap aneh kearahnya. “Isshh, dasar kadal berkelamin ganda, kucing preman tukang hamilin orang, kalajengking m***m, apa lagi ya…” gerutu Senna. Ia lalu menghela napas dan menyentuh bibir bawahnya, lalu memukul meja dengan kesal. “Untung saja aku bisa membela diri dengan cara yang cerdas!” Senna lalu kembali menelungkupkan wajahnya, merutuki nasib buruknya yang disebabkan oleh Reynand Cote. “Kau kemana kemarin?” Sebuah sapaan familiar membuat Senna bergumam kesal. Angel, sahabat kental Karam mengambil tempat duduk di sebelah  Senna yang masih senantiasa menelungkupkan wajahnya. “Hei!” seru Angel sembari menggoyang bahu Senna. “Ada apa? Kau ada masalah?” Angel kini menarik topi biru Senna hingga terlepas, lalu meletakkannya di samping sang gadis. Senna mengangkat wajahnya, “Bagaimana cara membunuh kadal?” tanyanya dengan mimik wajah serius. “Mudah, kalau kecil kau bisa menginjaknya, kalau besar pakai saja senapan atau potong kepalanya,” jawab Angel. “Itu terlalu mencolok! Aku tidak ingin dipenjara!” “Kadal yang kau maksud itu kadal langka?” Angel menatap Senna dengan sebelah alis yang terangkat. “Semacam komodo atau sejenisnya?” Senna berpikir sejenak, lalu menggeleng. “Tidak. Dia pasaran, tidak berharga, dijual pun tidak akan laku.” Ia berujar sambil mengibas-ngibaskan tangannya. “Siapa yang kau maksud? David?” Angel menelisik raut wajah Senna, jelas sekali jika gadis itu tidak sedang benar-benar membicarakan seekor binatang. “Aku tidak pernah mengatai kakakku kadal,” Senna berucap tidak terima. Kakaknya itu orang baik, kalau sedang tidur, selebihnya ia orang menyebalkan. “Yaa, kau tidak mengatainya kadal, melainkan anjing, kecoa, ulat bulu, apa lagi ya?” Angel mengerutkan kening sembari mengingat-ingat. “Lupakan saja, bagaimana jika kita clubbing! Aku pusing, butuh pelepasan.” “Aku tidak mau bunuh diri! David ada di rumah! Dia akan jadi anjing pemburu kalau tau aku clubbing. Kau tau sendiri, budaya timurnya masih sangaaaaat kental. Dia bahkan tidak pernah tidur dengan pacarnya.” Senna menyangga kepalanya dengan malas. Ah ya, ia terjebak seperti ini tak lain tak bukan karena sang kakak dan mantan kekasihnya. “Are you seious?! Maksudnya si David perjaka?! Lelaki hot seperti David masih perjaka?!” Angel berucap keras, hingga membuat beberapa orang terang-terangan melihat kearahnya. “So? Kenapa kalau dia masih perjaka?” Senna mendelik kearah Anggel yang baru saja berteriak heboh. Kehebohan Angel sedikitnya membuat ia yang juga tidak pernah melakukan hal intim merasa sedikit tersinggung. Yang Senna bahas disini adalah David yang tidak pernah tidur dengan Yuri yang badannya jelas-jelas seperti gitar spanyol. Yuri bahkan juga ingin tidur dengan David, tetapi memang David saja yang terlalu kolot. Angel membuka mulutnya, masih tidak percaya akan informasi yang baru saja ia dapatkan. Jujur saja, sekali lihat Angel bahkan bisa langsung menaruh hati pada kakak sahabatnya itu. Sayang dulu David sudah memiliki pacar, Yuri. “Jadi Yuri tidak pernah b******a dengan David?” bisik Angel. “Tidak. Tapi Yuri b******a dengan binatang.” “Binatang?” “Yeaah, lizard.”   ***   Dua minggu berlalu dan hari-hari Senna kembali damai. Kehidupan perempuan itu berkutat pada rumah, kuliah, dan jalan-jalan bersama dengan Angel. Tak ada hal berat yang mengusiknya kecuali Angel yang setiap hari merayunya untuk pergi clubbing. Ah, ada satu hal lagi yang sedikit mengusik dirinya. Ingat, sedikit… yaitu tentang Reynand Cote dan hari yang mereka lalui. Bayangan tentang bagaimana lelaki itu mengukungnya di atas ranjang membuat Senna susah tidur pada malam hari, khususnya pada malam Jumat. Bulu kuduknya merinding tiap kilas ingatan itu datang padanya. Ponsel Senna bergetar tanpa suara. Senna menatap ponselnya dengan kening berkerut. Mengingat bahwa hubungannya dengan David sedikit buruk pagi ini. Sejak kejadian ia yang ketahuan menghipnotis si kadal berekor ganda, David jadi sering mengungkit sisi negatif keahlian khususnya. Dengan sedikit enggan, Senna mengangkat teleponnya setelah getaran ketujuh. “Apa?!” tanya Senna tanpa basa-basi. “Begitu caramu menyapa kakakmu?” “Hallo, dengan Senna di sini, ada yang bisa saya bantu?” ucap Senna dengan nada mengejek yang ketara. “Tolong ambilkan map hijau di kamarku, ada di ranjang, lalu bawa ke agensi.” “Kenapa kau selalu menyuruh-nyuruhku sih!” gerutu Senna. “Siapa lagi yang kusuruh jika bukan kau?” “Ada Bibi di rumah.” “Bibi sudah tua, kau yang muda apa tidak kasian?” “Suruh saja sopir.” “Kau lupa, istirinya melahirkan. Dia mengambil cuti.” “Kau menyebalkan!” “Kau juga. Sepertinya sudah turunan. Cepat kemari.” “Imbalannya?” “Kau ingin apa?” Senna berpikir, sambil memeluk gulingnya. Siang ini jadwalnya kosong dan ia berencana untuk tidur siang. “Lima permintaan, apapun, kau tidak boleh protes.” “Terlalu banyak. Jangan bercanda, aku tidak sedang menyuruhmu merampok bank.” “Empat?” “Satu.” “Tiga?” “Satu, tidak lebih.” “Kalau begitu aku tidak mau.” “Oh, kalau begitu aku akan menyuruh manager-ku untuk ke rumah. Bye…” “Wait! Oke aku akan ambil. Satu permintaan, apapun itu, kau harus mengabulkannya. Oke?” “Yap.” “Jangan lupa janjimu!” Senna menekankan. Ia mendengar gumaman kakaknya lalu panggilan terputus. Satu permintaan yang berarti apapun adalah hal sangat langka. Selama ini David tidak pernah memberikan kesempatan dan kelonggaran seperti ini karena Senna pernah menguras seluruh tabungan David dengan satu permintaan apapun. Senna tersenyum sembari berpikir permintaan apa yang akan ia ajukan kali ini. ****** Senna bersenandung dengan map hijau di pelukannya. Dalam benaknya gadis itu berpikir hal apa yang akan ia minta pada sang kakak. Ini sangat mudah. Dirinya hanya perlu mengambil map lalu pergi ke agensi dan memberikannya pada David. Lihat, bahkan ia sudah sampai di depan gedung agensi. Yaaah… gedung agensi… Senna dengan cepat menutup wajahnya dengan map saat tersadar akan bahaya yang menantinya. Bagaimana ia bisa lupa bahwa kakaknya dan kadal berkelamin ganda itu berada dalam naungan agensi yang sama! “Ya Tuhan… apa yang aku lakukan,” desah Senna saat melihat gedung agensi yang berdiri kokoh di depannya. “Bisa mati kalau dia tau aku adiknya David! Dia pasti curiga jika tahu aku akan menemui David.” Senna berdecak, manik matanya menelusuri daerah yang sering ia kunjungi itu. Manik mata coklatnya jatuh pada kursi halte, tempat dulu ia menghipnotis Reynand Cote untuk pertama kalinya. “Tapi belum tentu juga dia ada di sini kan?” Senna berucap pada dirinya sendiri.Ia berjalan cepat kearah kursi halte dan mengeluarkan ponselnya. Senna berpikir dengan cepat. Bagaimanapun juga ia harus waspada. Pertama-tama, ia akan menitipkan map-nya pada resepsionis dan menyuruh David untuk turun. Dengan begitu ia tidak perlu masuk kedalam kandang singa terlalu dalam. Ibaratnya ia hanya perlu berjalan-jalan di pagar. Senna menempelkan ponsel pintar yang berbunyi nada sambung. “Kau sudah sampai?” ucap David tanpa basa-basi. “Akan aku titipkan pada resepsionis!” serunya yang langsung mematikan sambungan telepon. Ia tidak ingin David semakin menyulitkannya. Senna memutar otaknya lagi. Memasuki kandang musuh tanpa senjata bukanlah dirinya. Ia harus menyusun plan B. Dengan kecepatan tangan yang ia punya, Senna melepas topinya lalu menggulung rambutnya, untuk kemudian ia sembunyikan di dalam topinya. “Biasanya orang mudah mengenali dari postur, tatanan rambut, dan wajah. Sembunyikan wajah dan rambut,” Senna menurunkan topinya dengan hati-hati, tidak ingin rambut kelamnya terurai dan menghancurkan plan B. “Terakhir, masker,” ucap Senna mengeluarkan masker berwarna abu-abu dari dalam ranselnya. Senna menarik napas dalam, lalu menghembuskan perlahan. “Semua akan baik-baik saja. Tidak akan ada kebetulan seperti waktu itu. Calm down….” Senna lalu berjalan memasuki gedung melalui pintu depan dengan jantung berdebar. Ia sedikit terhambat saat penjaga pintu mencegat langkahnya. Untungnya, ia cukup mengenal mereka dan hanya perlu menurunkan sedikit masker dan mengatakan tujuannya. Semua berjalan mulus hingga ia sampai di resepsionis dan memberikan berkas serta catatan kepada siapa map itu ditujukan. Semua berjalan lancar. Ia tidak melihat Reynand sedari tadi. Aktor yang sering mengaku papan atas harusnya punya jadwal yang super padatkan? Dengan pemikiran itu Senna menenangkan dirinya dan yakin tidak akan bertemu dengan Reynand Cote. Senna hendak pergi sana namun ia merasakan sesorang berdiri di belakang tubuhnya dan mulai menghimpitnya. Mungkin sedang antri di belakangnya, pikir Senna pada mulanya. Namun, untuk apa orang di belakangnya antri sedangkan penjaga resepsionis ada tiga orang dan dua-duanya masih kosong. Saat itu juga, Senna sadar bahwa ia sedang dalam masalah besar. Terlebih saat melihat dua lengan kokoh yang memenjarakannya dari belakang. Senna lupa bahwa ia tidak sedang berhadapan dengan singa yang besar dan mudah dilihat, melainkan kadal yang gesit, licin, dan membuatnya bergedik ngeri. Terlebih saat mendengar lelaki itu berbisik di telingnya. “I got you!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN