Chapter 13

1735 Kata
*** Flashback (kemarin malam)   “Lihat garis tanganku,” ucap Senna sembari menunjukkan telapak tangannya. Reynand mengikuti perintah Senna, ia melihat guratan-guratan yang tercetak lembut disana, hingga kegelapan mendadak datang padanya. Senna menutup mata Reynand dengan telapak tangannya dan berbisik dengan tegas, “Tidur!” Seketika Reynand menjatuhkan tuubuhnya menindih Senna. Hembusan napas teratur dalam keheningan yang mendadak membuat Senna yakin jika kesadaran Reynand berada dalam genggamannya. Senna langsung menghela napas lega. Perlahan, Senna mencoba melepaskan dirinya dari tubuh Reynand yang menindihnya. Senna mengipas-ngisapkan tangannya kearah wajahnya yang masih memerah. “Dia benar-benar kriminal,” gumam Senna kesal setengah mati. Baru saja! Beberapa detik yang lalu ia hampir menjadi korban p*********n! Memang sih, Senna sedikit tau kesalahannya yang memang suka cari gara-gara. Tetapi ia tidak menyangka bahwa Reynand akan senekat itu untuk meraba-rabanya. Bahkan, jika Senna tidak memiliki keahlian menghipnotis, mungkin kini ia tengah mendesah di bawah kukungan lelaki itu. “Pasti enak,” gumam Senna yang kemudian menampar pipinya sendiri. “Mikir apa sih Senna…” racaunya. Gadis itu buru-buru berdiri dari duduknya dan melangkah mengambil tas yang berisi ponsel miliknya. Ia melihat panggilan terakhir dan memencet tombol panggil. “Hallo…” sapa Senna. “Reynand?” tanya suara di seberang telepon. “Tidak, ini teman Reynand. Emmm… Reynand sedang tidur, dan aku ingin mengambil koper yang tertinggal di Theme Park. Aku mendengar bahwa tadi Reynand meminta Anda untuk mengambilnya.” “Oh, koper? Ya, kopernya ada padaku. Kalian ada di mana?” “Kami berada di apartment Reynand, bisakah saya mengambil kopernya?” “Aku akan membawakannya ke sana. Kau… yang namanya Senna?” “Iya…” “Apa kalian melakukan ‘itu’?” “Itu?” Senna mengangkat alisnya, ia lalu menoleh kearah Reynand yang terlihat tertidur pulas. “Itu apa?” tanyanya sembari menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh lelaki itu, termasuk wajahnya. Tertutup selimut tidak akan membuat lelaki itu mati bukan? “Emm, s*x?” “Kenapa bertanya seperti itu?” tanya Senna sembari keluar dari kamar Reynand. “Biasanya seperti itu.” “Kali ini tidak, Reynand sepertinya kelelahan dan ia tidur dengan sangat pulas,” ucapnya. Senna lalu mengambil sweater kakaknya yang teronggok di kursi, melipatnya rapi. “Oke, aku akan segera kesana.” Senna lalu mematikan teleponnya. Senna menyentuh dadanya yang mash menyisakan gemuruh. Ia menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan jantungnya. Senna kemudian memutuskan untuk menunggu manager Reynand di ruang tamu. Menahan diri untuk tidak berkeliling demi menekan hasrat untuk mengacak-acak tempat tinggal Reynand sebagai ajang balas dendam. Senna kemudian menatap pintu apartment Reynand yang berbunyi khas seseorang yang tengah membuka pintu. Senna tersenyum canggung menatap seorang wanita dewasa yang masuk dengan koper besar di tangannya. “Hai Senna,” sapa wanita itu dengan ramah. “Hai juga,” Senna menatap canggung. Rasanya aneh saat keberaniannya menguap begitu saja ketika bertemu langsung dengan seseorang. Bagaimana jika perempuan itu curiga? “Di mana Rey?” tanyanya sembari melepas jaket miliknya. “Tidur di kamar.” Elsa menghela napas berat, “Bocah itu masih bisa tidur setelah membuat kekacauan beruntun seperti ini?” gumamnya menggerutu. “Kemarin dia mabuk dan membuat kekacauan dan sekarang tertangkap penggemar tengah kencan—oh, maaf aku tidak menyalahkanmu,” ucap Elsa dengan cepat. “By the way, kau pacarnya?” Senna menggeleng dengan cepat, “Tidak! Kami hanya kenalan, tidak lebih.” Elsa mengangguk-angguk. “Jarang-jarang dia ke Theme Park, biasanya dia ke hotel,” cibirnya. “Emm… Boleh aku mengambil koperku dan pulang?” tanya Senna dengan hati-hati. “Oh tentu!” Elsa memberikan koper yang sedari tadi ia pegang kepada Senna. “Aku minta maaf atas nama Reynand jika ia merepotkanmu. Kuharap kita bisa menjadikan ini sebagai rahasia kecil.” Elsa berujar dengan harapan bahwa ia tidak akan dipusingkan dengan adanya berita susulan. Dan ia nampak lega ketika melihat Senna mengangguk dengan mudah tanpa mempersulitnya. “Boleh aku pinjam ponselmu sebentar?” tanya Senna dengan canggung. “Untuk?” Elsa mengangkat alisnya. “Aku ingin mengirim pesan ke taxi, pulsaku habis,” ujarnya terdengar meyakinkan. Elsa tersenyum kecil dan memberikan ponselnya tanpa curiga. Saat itu, Senna dengan cekatan menghapus nomornya dari daftar riwayat panggilan di ponsel Elsa. Ia tidak ingin berhubungan lagi dengan kadal berkelamin ganda yang tengah terbuai dalam bunga tidurnya. Tanpa Senna tau, lelaki itu tengah memimpikan hal e****s tentangnya yang kini tertunda.   - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  “Dari mana saja?” Senna memejamkan matanya dan menggerutu pelan. Rasanya sia-sia ia berjalan sambil berjinjit jika akhirnya tertangkap basah di kamarnya sendiri. “Tidak sopan masuk kamar anak gadis sembarangan,” ujarnya berusaha mengalihkan perhatian kakaknya. Senna memasang mimik wajah santai sambil melihat berani kearah kakaknya yang sedang tiduran di kasurnya. “Aku bertanya kau darimana?” David menatap Senna dengan pandangan menelisik. “Kenapa kau pakai sweaterku?” tanyanya saat melihat sweater coklat kebesaran yang membalut tubuh Senna. Gadis itu menggaruk belakang kepalanya sebentar, lalu menjelaskan dengan sedikit terbata. “Itu… Tadi di luar sangat dingin, jadi aku pakai saja salah satu bajumu. Tenang saja, nanti aku cuci.” David berdiri dari posisi berbaringnya, ia berjalan mendekati Senna dan mendekatkan kepalanya sambil mengembus bau Senna seperti anjing polisi yang hendak menangkap bau pencuri. Sungguh. Jantung Senna rasanya mau meledak. Ini bahkan lebih mendebarkan dibanding bertemu dengan Reynand. Mati aku! Batin Senna saat kakaknya mendongak dan menatapnya dengan galak. “Kau keluar dengan pria?” tuduhnya. Senna memutar otak, sepertinya bau badan Reynand masih tertinggal di sweater kakaknya. “Emm… ya… Aku keluar dengan temanku.” Senna lalu mengangkat tangannya dan menepuk pundak kakaknya. “Ayolah, aku sudah dewasa. Akan aneh jika aku tidak berkencan dengan satu atau dua pria kan?” “Tapi kau tidak boleh pulang semalam ini! Apa yang kau lakukan hah? Menyewa kamar hotel?” tuduh David terus menerus. Senna mendengus. “Aku hanya bermain! Aku tahu batasan! Berhenti menuduhku, aku sangat lelah dan kopermu ada di ruang tamu!” seru Senna yang mendadak kesal. Demi kolor putih Spongebob, kenapa otak semua orang tidak jauh-jauh dari hotel dan s*x! Senna menghembuskan napas lelah dan mendorong punggung kakaknya agar keluar dari kamar miliknya. “Ya ya, aku minta maaf sudah menuduhmu. Makanya lain kali jangan pulang malam seperti ini. Bagaimana jika ada orang jahat di jalanan.” David berusaha mencari alasan. Ia tahu jika ia salah telah berlebihan menuduh adiknya. “Ya ya ya, sekarang keluar dari kamarku!” balas Senna meniru nada bicara David. Ia berusaha keras mendorong David yang masih betah di kamarnya dan beberapa kali mencoba berkelit dari dorongannya. “Satu pertanyaan!” ujar David saat tubuhnya sudah berada di luar kamar Senna. “Kau sudah meminta maaf pada lelaki itu?” tanya David sambil berbalik menatap adiknya yang terdiam. “Aku sudah mengurusnya,” gumam Senna bersamaan dengan pintu kamarnya yang tertutup. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -    “Apa yang sedang kau pikirkan?” Elsa menjentikkan jemarinya di depan wajah Reynand yang terperanjat. Lelaki itu menghela napas berat lalu bersandar pada kursi. Seharian ini kepalanya pusing, namun jadwalnya yang sangat padat membuatnya tidak boleh mengeluh. Reynand cukup tahu diri bahwa jadwal padatnya akibat dari ulahnya sendiri yang kabur kemarin. Untuk kedua kalinya Elsa menjentikkan jarinya. Kening wanita itu berkerut dalam. “Lihat, kau melamun lagi. Hari ini kerjamu memakan waktu yang lama. Tidak seperti biasanya.” “Kepalaku pusing,” keluh Reynand pada Elsa. Reynand mendongak saat tak mendengar sahutan Elsa atas keluhannya. Lelaki itu mendecih sebal saat managernya itu terlihat sibuk dengan tabletnya. “Kau tidak boleh mengeluh, ini salahmu sendiri kenapa kabur kemarin,” ucap Elsa pada akhirnya. Reynand diam, pikirannya melalang buana pada kejadian kemarin. Aneh, pikirnya. “Gadis itu, Senna, belum menghubungimu?” tanya Reynand pelan. “Tidak. Lagian untuk apa juga dia menghubungiku,” Elsa meletakkan tabletnya di pangkuannya. Menatap penuh kearah Reynand. “Jangan bilang kau ingin gadis itu menghubungimu?” pancing Elsa. “Bukan begitu…” Reynand berpikir, mencoba mencari alasan. “Gadis itu… sangat menyebalkan,” gerutunya. “Sejujurnya, aku sangat penasaran bagaimana bisa kau kenal dengannya. Maksudku, selama tujuh tahun menjadi managermu, aku tidak pernah melihatnya dan boom!!! Tiba-tiba kau pergi seharian dengannya. Dia ada di apartmentmu, dalam keadaan utuh! Sungguh mengejutkan.” “Apa maksudnya dalam keadaan utuh?” Reynand melirik tajam kearah managernya yang kini pura-pura sibuk dengan tabletnya. “Yaah, intinya bagaimana bisa kau keluar seharian dengannya.” Reynand terdiam sejenak. “Aku bertemu dengannya di gedung agensi. Dia terlihat seperti haters-ku. Tapi saat kutanya, kau tahu jawabannya apa? Dia bilang dia bahkan tidak sudi menjadi haters-ku. Haters berarti membenci dengan memperhatikan keburukan, dan dia tidak mau dianggap seperti itu. Keberadaanku tidak penting, begitu katanya.” Reynand tidak bisa untuk tidak tersenyum saat menceritakan tentang pertemuannya dengan Senna, gadis super aneh itu. “Tapi dia membencimu?” “Sangat,” jawab Reynand dengan keyakinan kuat. “Kupikir, aku sangat penasaran mengapa ia membenciku seperti itu.” Elsa menganggukkan kepalanya, sedikitnya ia memahami apa yang kini terjadi pada aktornya. “Yah, kupikir itu manusiawi,” jawabnya. “Sekarang, jadilah Reynand cuek dan dingin seperti biasa lalu selesaikan pemotretanmu!” Elsa menepuk-nepuk bahu Reynand, lalu berdiri dari posisi duduknya. Menandakan bahwa istirahat Reynand telah habis. “Cepat menyusul,” perintahnya lalu menghampiri fotografer yang ada di sana. Reynand mengangkat tangan dan menyentuh belah bibir dengan jemarinya. Pikirannya berkelana. Bibir Senna sangat lembut dan hangat hingga menimbulkan sensasi ingin lagi. “Senna itu… sangat menyebalkan!” gerutu  menyadari pikirnnya. “Kenapa semalam aku bisa tertidur sih!” rutuknya menyadari kebodohannya sendiri. Seharusnya kemarin ia tidak tidur dan bisa ena-ena dengan Senna hingga ia tidak seperti orang i***t seharian ini.    - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN