- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Senna menatap tajam kearah Reynand yang kini melepas sweater milik kakaknya. Gadis itu membuang muka dengan pipi yang sedikit memerah. Sejelek apapun sifat Reynand, Senna tidak bisa menampik bahwa lelaki itu memiliki tubuh yang membuat para wanita ingin meraba-raba. Apalagi jika ditambah dengan wajah Reynand yang memang hot hot summer. Ah syaland, bagaimana bisa ia memikirkan hal aneh seperti itu. Ini gara-gara Reynand yang ganti baju tidak tau tempat!
“Berkat kau, aku mendapatkan masalah lagi.” Reynand berucap sambil memakai kaos putih polos yang terlihat nyaman dipakai.
“Ya, sama-sama,” jawab Senna masih membuang muka.
Reynand berdecak keras, terlihat sangat kesal. “Aku tidak sedang berterima kasih!”
“Oh, kupikir kau sedang berterima kasih. Katanya berkat aku?”
“Aku ini aktor papan atas! Bagaimana bisa kau melakukan hal bodoh seperti itu!” Reynand bersedekap dan berdiri di depan Senna yang masih engan menatapnya.
Gadis itu mengorek kupingnya. “Hah? Apa? Aktor apa? Aktor papan gilasan? Telingaku berdengung tadi,” ujarnya pura-pura.
Reynand memejamkan matanya. “Sudah cukup!” ucapnya kehabisan kesarabaran dan langsung memanggul Senna yang kini memekik keras. Senna menggerak-gerakkan kaki dan tangannya dengan brutal.
“Yaaaaaa!!!! Turunkan aku dasar b******k!” maki Senna dengan panik. Jantung gadis itu berpacu dengan cepat. Mendadak Senna merasa takut. Gadis itu terbayang-bayang dengan beberapa berita mengerikan seperti p*********n dan pembunuhan. Dan Reynand terlihat cocok menjadi salah satu pelakunya. “Lepaskan aku dasar kadal berkelamin ganda!!!!” pekik Senna mencoba melepaskan diri dari tangan kekar Reynand yang kini memegangi kakinya.
Langkah kaki lebar lelaki itu menuju kearah sebuah kamar. Senna semakin dibuatnya panik.
“Reynand! Aku minta maaf! Aku tidak akan mengulangi hal itu lagi!” teriak Senna yang benar-benar ketakutan karena Reynand sama sekali tidak merespon ucapannya.
Senna mengaduh saat lelaki itu menjatuhkannya di atas ranjang. Matanya melotot sempurna saat Reynand melepaskan kaos yang baru beberapa menit ia pakai.
“Kau mau apa?!” teriaknya.
Reynand menatap Senna tajam. “Hari ini kau bilang aku b******k, kadal, playboy, eem… apa lagi?”
“Penjahat kelamin,” tambah Senna refleks.
Reynand mendengus. “Ya, itu! Dan sekarang aku akan melaksanakan segala tuduhan yang kau berikan padaku!”
“Jauh-jauh dariku!” Senna berteriak saat Reynand mulai merangkak dan menarik kakinya. Senna baru saja tersadar jika lelaki itu memiliki sepak terjang yang mengerikan dalam s*x. Sebaik apapun Reynand hari ini, ia tetaplah seorang playboy b******k yang otaknya tak jauh-jauh dari s**********n.
“Untukmu, aku akan menjadi apa yang kau capkan padaku.” Reynand menarik Senna hingga gadis itu terlentang di bawahnya. Dengan gesit dan seolah telah terbiasa, Reynand langsung menempelkan bibirnya di bibir Senna. Gadis itu mencoba memberontak, namun lelaki itu dengan lihai bisa menangkapnya. Reynand mencium Senna dengan dalam dan basah. Mengecap bibir gadis yang masih tak berhenti untuk mencoba memberontak. Reynand menggigit bibir Senna hingga gadis itu membuka mulutnya. Dan saat itulah Reynand mulai menginvasi segala rasa yang ada dalam diri Senna. Melilitkan lidahnya dan menyesapnya kuat.
“Egghhh…” Senna mengerang. Tangannya yang berada dalam genggaman tangan Reynand masih mencoba mendorong lelaki itu.
Reynand lalu menyesap bibir bawah Senna dan melepaskannya hanya untuk melihat wajah Senna yang memerah. “Sangat manis,” bisiknya di samping telinga Senna. Berbisik dengan embusan napas yang ketara. Reynand lalu mengigit pelan telinga gadis itu hingga memerah. Lalu turun dengan kecupan kecil dan berakhir pada leher jenjangnya. Memberikan tanda merah yang tak akan hilang dalam beberapa hari.
“Ber… henti Reynand…” Mohon Senna yang sudah ketakutan bukan main. Napasnya tak beraturan. Ini adalah kali pertama seorang lelaki melakukan hal intim kepadanya. Senna tidak pernah melakukan hal sejauh ini dengan mantan pacarnya. Biasanya Senna hanya sekadar memberikan kecupan singkat, bukan ciuman panjang yang membuat tubuhnya merinding seperti ini.
“Aku memang lelaki b******k Senna, seperti yang kau ucapkan padaku,” jawab Reynand yang kembali mensejajarkan wajahnya. Ia memberikan sebuah kecupan-kecupan kecil di bibir Senna. Jantung Reynand tak kalah cepat. Ada sebuah gemuruh dan andrenalin yang serasa berbeda. Perutnya seakan meremang hingga ke rongga dadanya. Ini menyenangkan.
“Aku minta… maaf,” ujar Senna memohon. Gadis itu tahu kapan ia harus menyerah.
“Dimaafkan, tetapi kau tetap mendapatkan hukuman,” ujar Reynand yang kembali melumat bibir merona Senna. “Aaakkh!” Reynand menarik wajahnya menjauh saat merasakan rasa sakit di bibir bawahnya, hingga rasa anyir terecap di lidahnya. Gadis itu menggigitnya.
“Berhenti!” pinta Senna yang merasa permintaan maafnya sia-sia. Ia kembali mencoba menguatkan diri. Ia tidak boleh berakhir seperti ini. Ia harus melakukan sesuatu.
“Sepertinya aku tidak bisa berhenti,” bisik Reynand sembari menjilat bibirnya yang berdarah.
“Reynand, aku ingin mengakui sesuatu,” ucap Senna dengan cepat hingga membuat lelaki itu menatapnya dengan pandangan tertarik. “Lepaskan satu tanganku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu,” pinta Senna.
“Tidak. Kau pasti akan memukulku.”
“Aku tidak akan memukulmu! Sekeras apapun aku memukulmu, kau tetap akan menang bukan?” ujar Senna yang membuat Reynand terdiam, berpikir.
Perlahan lelaki itu melepaskan satu tangan Senna, namun kakinya kini melilit kaki Senna, berjaga-jaga apabila Senna dengan keras kepala menendang pusat kekuatannya.
“Lihat garis tanganku,” ucap Senna sembari menunjukkan telapak tangannya. Reynand mengikuti perintah Senna, ia melihat guratan-guratan yang tercetak lembut di sana, hingga kegelapan mendadak datang padanya.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
“Engghh…”
Reynand menyeringai senang, lelaki itu menatap wajah merah Senna yang kini berada di bawah tubuhnya. Gadis itu terlihat begitu manis, membuat Reynand ingin mengecapnya, lagi dan lagi. Reynand membuka baju atas Senna, gadis itu nampak pasrah dan mengikuti Reynand dengan patuh. Berbeda dengan beberapa saat yang lalu. Sepertinya gadis itu sudah terjerat dalam pesonanya. Tidak ada gadis manapun yang bisa lepas dari dirinya.
“Pelan-pelan, aku masih virgin,” bisik Senna yang membuat Reynand kembali mensejajarkan tubuhnya. Reynand memberikan kecupan-kecupan di bibir gadis itu.
“Jadi… aku yang pertama?” tanyanya setengah mengerang. Ia sudah tidak tahan. Rasanya Reynand ingin langsung memiliki gadis itu seutuhnya.
“Eghh, ya. Kau yang pertama.”
Reynand kembali menekankan pada dirinya untuk bersikap gentle. Ia ingin memberikan pengalaman yang luar biasa kepadanya. Ia ingin membuat Senna ketagihan dan tidak bisa lepas darinya. Ia ingin membuat Senna tunduk padanya, menjadi miliknya. Reynand merasakan tubuhnya berdesir hebat, keinginan itu terasa meluap-luap, dan tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Dan saat itu, Reynand benar-benar menyatukan tubuhnya dengan gadis yang seharian ini menemaninya.
“Reynand…”
“Ya, begitu… panggil namaku,” bisik Reynand.
“Rey bangun!”
“Bangun dari atasmu? No, aku masih ingin melakukannya.”
“REYNAND!”
Lelaki itu membuka matanya dengan gelagapan. Rasa pusing langsung menderanya, Reynand menatap bingung kearah Elsa yang tengah berkacak pinggang di sebelah ranjangnya.
“Bangun! Hari ini jadwalmu padat sekali!” Ini sudah pagi dan ia tidak bisa memberikan waktu tidur lebih panjang kepada artisnya Elsa dengan cepat menarik selimut Reynand yang masih terlihat linglung.. Kemudian ia memekik. “Astaga! Kau mengompol!”
Reynand dengan cepat menatap kearah bawah tubuhnya yang terlihat menegang dengan noda basah yang terlihat ketara. Sialan, dia mimpi basah?! “Aku tidak mengompol!” seru Reynand dengan cepat sembari menarik selimut untuk menutupi asetnya.
“Lalu itu apa?”
“Diamlah! Di mana perempuan itu?” tanyanya sembari memijat kepalanya yang sedikit pusing.
“Perempuan? Perempuan yang mana?”
“Yang kemarin bersamaku, Senna!”
“Senna?”
“Ya, dia.”
“Dia pulang semalam, saat kau tidur.”
Penjelasan Elsa langsung membuat Reynand terdiam. Dengan nyawa yang serasa berterbangan, Reynand mencoba mengumpulkan akal sehatnya. “Bagaimana bisa aku tertidur?” gumam Reynand mencoba mengingat-ingat. Rasanya aneh saat menyadari bahwa segala kenikmatan itu hanyalah mimpi. Benarkah hanya mimpi? Semalam mereka bahwa sudah melakukan pemanasan. Bagaimana bisa dirinya tertidur?!
“Mana aku tau!”
“Bagaimana keadaan Senna ketika pulang kemarin?” tanya Reynand sambil mencengkeram rambutnya yang acak-acakan.
“Dia… terlihat baik-baik saja. Ah, tetapi wajahnya memerah dan lehernya merah-merah. Kau mencubunya?” Elsa berucap ringan. Mendapati perempuan telanjang di ranjang yang sama dengan Reynand saja sering, apalagi yang hanya seperti itu.
“Kemarikan ponselmu,” pinta Reynand. Ia kemudian mengernyit saat merasakan rasa tidak nyaman di bagian bawah tubuhnya. Sepertinya setelah ini Reynand harus menuntaskan hasratnya di kamar mandi. Reynand melihat riwayat panggilan disana, tetapi tidak ada nomor yang tidak tersimpan, semua riwayat panggilannya memiliki nama. “Mana nomor Senna? Yang kemarin kugunakan untuk meneleponmu.”
“Hah? Tidak ada disana?”
“Tidak ada.”
Elsa terdiam, mencoba mengingat-ingat. “Sepertinya… gadis itu menghapusnya,” ucapnya. “Apa yang kau lakukan padanya? Sepertinya dia tidak ingin bertemu denganmu lagi?” cetus Elsa yang membuat Reynand mengerang kesal dan langsung meluncur ke toilet sembari berteriak.
“Keluar dari kamarku!”
Astaga, serigalanya marah.
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -