Chapter 11

1543 Kata
  Reynand menatap tajam kearah Senna yang sudah tebahak-bahak melihat kearahnya. Kurang ajar sekali gadis itu! Pikirnya sembari mulai menyusun rencana untuk balas dendam. “Awas kau?!” teriak Reynand menarik air mineral yang disodorkan oleh Senna. “Santai lah, tiap datang bulan perempuan suka minum itu kok,” sahut Senna tanpa dosa sambil memakan burger keduanya. “Tapi aku pria!” “Yah biar tau rasanya. Kenapa marah-marah sih? Santai… Nih aku kasih dua burger,” sogok Senna yang sedikit takut melihat Reynand yang terlihat benar-benar murka. Wajah lelaki itu merah dan menyorot tajam kearahnya. “Lagi datang bulan?” tanya Reynand kembali memakan burger kedua setelah burger pertamanya ia buang ke dalam kantong makanan yang dijadikan sampah. Senna menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya berkedut terlihat hendak tertawa. Dan hal itu membuat emosi Reynand kembali naik. “Kau harus tanggung jawab!” serunya. “Apa? Kau tidak akan mungkin menjadi transgender hanya karena minum obat datang bulan!” ejek Senna. “Harga diriku terinjak-injak!” Reynand menatap Senna dengan kesal, ini anak satu minta dibungkam pakai bibir emang. “Aku Reynand Cote, aktor papan atas, yang punya jutaan fans di seluruh penjuru negeri.” “Baru naik daun sudah sombong!” “Kita taruhan!” ucap Reynand pada akhirny “Masih punya harga diri?” a. Ia harus menemukan cara untuk bisa membalasan dendamnya kepada Senna! “Bergantian mengajukan wahana bermain, yang tidak kuat dia adalah pecundang. Dan yang menolak juga pecundang! Yang kalah harus menuruti perintah pemenang.” “Aku tidak mau berurusan dengan kau lagi!” seru Senna secara tidak langsung menolak ajakan Reynand. “Pecundang.” “Oke! Kita buat perjanjiannya!” seru Senna yang tidak rela dikatai pecundang oleh kadal berkelamin ganda di depannya.   - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -   PERATURAN TARUHAN 1.      Petarung mengajukan satu wahana secara bergantian. 2.      Petarung yang mengaku kalah apabila: (1) mengatakan dengan sadar bahwa tidak dapat menaiki wahana, (2) meminta istirahat, (3) muntah, (4) pingsan, dan (5) mati. 3.      Petarung yang kalah harus menuruti satu keinginan lawan, terkecuali s*x, alcohol, dan mempermalukan diri di tempat umum (mengingat jika salah satu petarung public figure). 4.      Petarung yang kalah tidak boleh beralibi, kabur, atau mengutarakan berbagai alasan untuk tidak melakukan hukuman. Yang bertanda tangan di bawah ini,   Reynand Cote                               Senna Z. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  Seharian ini mereka sudah menaiki begitu banyak wahana ekstrem yang harusnya membuat mereka muntah. Mereka kini bahkan meneguk sprite untuk meredam rasa mual yang mereka sembuyikan. Senna melihat Reynand yang kembali memasang topeng monyet untuk menutupi wajahnya. Ini sudah malam dan keduanya masih betah memainkan permainan konyol itu. Senna mendadak merasa bodoh karena mengikuti taruhan yang diajukan oleh Reynand. “Giliranmu,” ucap Senna setelah menghambiskan setengah botol sprite-nya. “Rumah hantu,” Reynand berucap sambil mengamati perubahan wajah Senna. Memakai topeng membuat lelaki itu bisa dengan bebasnya mengamati segala macam ekspresi yang gadis itu tunjukkan. Mulai dari marah, kesal, sebal, tertawa, tersenyum, hingga wajah menahan muntah. Semua ekspresi itu seakan terekam jelas dan terasa begitu menarik dalam manik mata hitam Reynand. Reynand tersenyum puas saat melihat Senna dengan cepat menatap terkejut kearahnya. Senna tertawa canggung, “Ahahaha, itu mudah. Kenapa kita tidak mencoba wahana yang lebih ekstrem, seperti tornado?” saran Senna dengan berakting seolah ia tidak ketakutan. Padahal dalam hati sudah jantungan bukan main. “Menyerah?” tawar Reynand. “NO!” “Okey, harusnya kau tidak perlu ketakutan begitu.” “Aku tidak ketakutan!” seru Senna menutupi kegugupannya. Reynand tertawa di balik topengnya, lelaki itu merangkul Senna dan menarik gadis itu menuju arah rumah hantu dengan berbekal peta seluruh wahana. “Beritanya baru-baru ini ada pekerja yang meninggal di rumah hantu itu,” ujar Reynand memanasi. “Meninggalnya kenapa?” tanya Senna. Gadis itu bahkan tidak sadar jika tangan Reynand asik bertengger di bahunya. Seharian bersama lelaki itu membuat Senna mulai terbiasa dengan kehadiran sang aktor papan atas. “Bunuh diri. Dia gantung diri karena istrinya selingkuh. Orang yang bunuh diri bisa dipastikan akan menjadi terror.” “Itu berarti rumah hantunya pasti sedang ditutup,” Senna mulai beralasan. Gadis itupaling tidak suka dengan hal-hal mistis. Cukup waktu kecil saja ia melihat kuntilanak nangkring manjah di pekarangan rumahnya di Indonesia. “Sayangnya hal itu digunakan pihak penyelenggara untuk semakin meramaikan rumah hantu.” “Tidak punya hati!” “Itu namanya strategi Senna,” balas Reynand. Mereka lalu berhenti sejanak untuk memandangi gedung besar yang didominasi warna hitam. “Menyerah?” tanya Reynand lagi. “Tidak sudi!” Seru Senna dengan jantung yang berdebar tak karuan, tapi jelas ini bukan cinta. Senna menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu kini menyusun rencana agar bisa berhasil melewati rintangan ini. Mungkin, nanti Senna akan menutup mata selama kereta berjalan. Yah, ia hanya perlu memejamkan mata erat-erat. “Whaaat??!!” Senna memekik keras saat melihat tak kereta di sana. “Mana keretanya?!” “Tidak ada kereta Senna,” jawab Reynand dengan senyum lebar dari balik topengnya. Ia yakin akan menang kali ini. “Ini rumah hantu tujuh belas tahun keatas. Kita berjalan kaki.” “Jalan kaki?” ulang Senna dengan shock. Dalam antrian mereka, Senna bahkan bisa mendengar suara-suara teriakan dari dalam ruangan itu. Rombogan orang yang memasuki rumah hantu tergantung keinginan pengunjung. “Rey,” panggil Senna pelan. Reynand menolehkan kepalanya dari sisi kiri untuk melihat wajah Senna yang berbaris di depannya. Ini adalah kali pertama Senna memanggil namanya. “Hm?” sahut Reynand. “Kalau misalnya aku kalah… apa yang kau inginkan?” tanya Senna sambil membuang muka. “Deep kiss, with you, in hotel,” jawab Reynand cepat yang langsung dihadiahi pelototan oleh Senna. “Peraturannya tidak boleh ada s*x, lizard!” seru Senna keceplosan. “Aku tidak bilang s*x, it just deep kiss. Tapi kalau kau ingin lebih tak masalah.” “Itu menjurus ke s*x!” “Masa? Kau saja yang mesum.” “What?! Bagaimana bisa orang m***m teriak m***m!” “Pemisi…” sela sebuah suara feminim yang menyela keduanya. “Kupikir suara kalian terlalu keras,” tegurnya dengan pipi yang sedikit memerah. Senna memutar otaknya. Gadis itu lalu menarik topeng Reynand hingga memperlihatkan wajah tampan lelaki yang terkejut bukan main itu. “Reynand Cote!” teriak Senna yang langsung menarik atensi seluruh orang yang ada di sana. Sebelum Reynand bisa bereaksi, Senna dengan cepat melopati pagar pembatas antrian. Reynand yang melihat itu lantas mengikuti ulah Senna. Lelaki itu berlari cepat dan bahkan kini sejajar dengan Senna yang melotot melihat Reynand yang mengikutinya. “Loser!” teriak Reynand sambil menarik tangan Senna untuk mengikutinya yang berlari dengan rombongan penggemar yang berada di belakang mereka. Berbekal ingatannya pada denah yang kini hilang entah kemana. Reynand berlari kearah pintu keluar wahana taman bermain. “Koperku!” teriak Senna mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Reynand. “Kalau kita tertangkap aku akan menyeretmu dalam scandal!” teriak Reynand. “Tutupi wajahmu!” “Pakai apa?!” Reynand langsung melepas topi kuning yang ia pakai dan memasangkan di kepala Senna. Jantungnya berdegup dengan cepat, sungguh yang mengejar meraka makin banyak saja. Mereka berlari menyusuri jalanan dan langsung memasuki taxi tepat ketika seseorang keluar dari sana. “Triton St, Gedung Apartment Elaniq!” seru Reynand kepada sopir taxi. Reynand lalu merogoh saku jeans dan mengumpat saat ingat bahwa ponselnya hilang. “s**t! Aku baru ingat kalau ponselku hilang!” gerutu Reynand yang membuat Senna meringis diam-diam. Gadis itu lalu refleks mengeluarkan ponselnya, “Mau pinjam?” tawarnya. Dengan wajah kesal Reynand mengambil ponsel Senna. Ia terlihat marah dan Senna tau alasannya. Senna merutuki kaki pendeknya yang membuatnya tidak bisa kabur. Niatnya tidak ingin berurusan dengan Reynand, ia malah terjerat lebih erat. Ah, sialan memang. “Elsa! Aku baru saja dikejar kumpulan penggemar.” “Ini kau! Bagiamana bisa kau kabur seperti itu! Jahat sekali! Aku sampai dimarahi Big Boss!”  “Iya-iya aku tahu. Ambil koper di Theme Park atas nama Senna! Kita bertemu besok,” ucap Reynand dan langsung menutup panggilan sepihak itu. Senna mengernyit melihat nada bosy yang begitu kental dan menyebalkan. “Tidak sopan,” gumam Senna yang membuat Reynand menoleh kearahnya. Mampus, batin Senna saat melihat wajah keras lelaki itu. “Kita bahas kebodohanmu di apartment!” seru Reynand sambil memijit kepalanya. Senna hanya diam dan mengangguk patuh. Sepedas apapun mulutnya tetap saja Senna hanyalah gadis manis yang takut jika ada orang yang marah. Apalagi yang marah si Reynand, lelaki bertubuh proposional yang bisa saja dengan mudah meremukkan tubuh kecilnya. But, wait… “Apartment?!” pekiknya heboh. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN