Chapter 10

1413 Kata
“Kau tidak pandai berakting,” bisiknya. “Aku bukan artis…” kesal Senna saat merasa lelaki itu benar-benar tidak memahami kegugupannya. Kalau rencana ini berantakan bukankah lelaki itu sendiri yang akan kesusahan! “Managermu!” Senna berbisik gelisah saat manager Reynand menatap penuh kearah mereka yang sudah lebih dekat dengan pintu keluar. Gadis itu dengan cepat mendekap Reynand untuk menyembunyikan wajahnya yang hampir menoleh kearah managernya. “Kau mau bunuh diri?” geram Senna, masih mendekap lelaki itu, membuat Reynand membukukkan badannya yang jangkung. “Tubuhku pegal jika seperti ini terus…” keluhanya. “Baik, aku akan melepaskanmu dengan hati-hati, ingat, jangan sampai wajahmu terlihat.” Ancam Senna yang dibalas dengan anggukan pelan oleh Reynand. Dengan hati-hati, Reynand langsung memunggungi Senna. Merangkul bahu gadis itu mesra dan berjalan keluar dari gedung dengan gesture tubuh yang santai, berbanding terbalik dengan Senna yang kaku bagaikan robot. Saat keduanya sudah sampai di jalanan umum, dengan cepat Senna menghempaskan lengan Reynand yang masih memeluk bahunya. “Jangan curi-curi kesempatan!” ujarnya sembari menghempaskan tangan lelaki itu. Reynand berdecak, “Bukankah kau yang tadi cari kesempatan, peluk-peluk manja seperti itu?” “Itu karena kau yang kelewat bodoh!” “Hei, berhentilah mengejekku. Seharian ini kau terus menghinaku!” “Bodoh!” jawab Senna acuh. “Sekarang kita mencari toko terdekat agar kau bisa ganti baju. Kembalikan semua barang-barangku dan kita berpisah disini!” gadis itu mengedarkan pandangannya, mencari toko yang sekiranya bisa digunakan lelaki itu untuk berganti pakaian. Ah, disana ada toko baju! Dengan cepat Senna menyeret Reynand, ia sudah tidak sabar ingin berpisah dengan lelaki itu. Jika lama-lama bersama Reynand ia takut kulitnya terinfeksi virus kudis atau sejenisnya. Namun usaha menyeret lelaki itu untuk berjalan gagal karena Reynand yang seakan menancapkan kakinya. “Tunggu apa lagi? Ayo!” “Kau lupa dengan perjanjiannya?” ucap Reynand dengan senyum kecil dibibirnya. “Membantumu kabur dari manager kan?” sahut Senna dengan yakin, ia tidak akan mungkin melupakan perjanjian sesederhana itu. “Biar kuulangi,” jawab Reynand dengan sikap tenang yang membuat Senna mendadak cemas. “Hari ini, kau harus membantuku untuk kabur, dari semuanya.” Wajah Senna mendadak pucat, terlebih saat lelaki itu menekankan kata ‘hari ini’. Bahkan kata itu kini seolah-olah menggema memenuhi kepalanya. Ia kecolongan, dasar si kadal berkelamin ganda!   - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -    Bagaimanapun juga, kadal tetaplah kadal. Reynand menarik sudut bibirnya jahat. Ia melirik kearah Senna yang duduk dengan wajah masam di sampingnya. Saat ini mereka tengah menuju wahana taman bermain. Untuk menakhlukkan gadis jutek seperti Senna adalah dengan membuatnya lupa dengan siapa ia pergi. Café atau tempat yang membuat orang harus berbincang lebih banyak tidaklah cocok bagi mereka berdua. “Aku tidak mau bawa koper kemana-mana,” gerutu Senna yang sedari tadi diam. Kopernya kini berada di garasi mobil taxi. Senna mencoba mencari-cari alasan agar bisa cepat pulang. Menghabiskan waktu dengan Reynand membuatnya seakan terkontaminasi aura berdosa lelaki kadal itu. “Kau bisa mengirimnya memakai taxi,” usul Reynand. “Nanti hilang.” “Tidak akan.” “Pasti hilang.” “Kau selalu berpikiran negatif” Reynand berucap setengah sebal saat melihat kekeras kepalaan gadis manis itu. Yaps, Senna adalah gadis yang sangat manis. Pipi cubby yang menggemasnya membuat wajahnya mudah diingat. Dan bahkan, sepertinya Reynand pernah melihat wajah manis itu, entah di mana. “Aku tidak berpikiran negatif, hanya berjaga-jaga.” “Baik, terserah. Jika tidak mau kau bisa menitipkannya di pintu masuk. Aku tidak mau membawa barang besar itu kemana-mana.” Reynand mengangkat bahunya acuh. Senna berdecak, “Kau pikir karena siapa aku membawa koper ini?! Dan kau lupa kalau berkat koper ini kau bisa kabur?!” “Ungkit saja terus sampai neraka jadi dingin,” cibir Reynand. “Kau tau kalau ada neraka masih saja suka bertingkah!” “Contohnya?” pancing Reynand diam-diam. “Playboy! Kau pikir keren bisa memakai wanita dan membuangnya seperti tisu sekali pakai? Kau tidak pernah berpikir bagaimana hancurnya wanita, juga orang-orang terdekatnya?” Reynand merundukkan topinya. Untung saja tadi ia memesan taxi mahal yang memberikan penyekat kaca kedap suara antara pengemudi dan penumpang. Pengemudi dan penumpang harus menggunakan tombol speaker untuk bisa saling berinteraksi. “Dengar Senna, aku tidak tau kenapa kau terlihat membenciku. Yang kau harus tau aku tidak pernah memaksa seorang wanita untuk tidur denganku. Mereka datang, kami melakukan s*x tanpa keterpaksaan, kami menikmatinya. Masalahnya adalah mereka ingin lagi dan aku tidak ingin.” “Kau sangat m***m!” Hardik Senna dengan pipi yang memerah. Sungguh ini adalah kali pertama ia mendengarkan hal sevulgar itu dari pria. Dan sialnya itu berasal dari lelaki yang ia benci sampai ubun-ubun. “Yah, aku sangat m***m dan sangat hebat di ranjang. Kau bisa mencoba melakukan itu denganku jika penasaran.” Reynand berucap dengan ringan. “Tidak sudi!” “Aku yakin kau akan mendesah di bawahku.” “Mimpi saja sana!” “Kau yang akan memimpikanku, lihat saja nanti.” Reynand sudah masa bodoh dengan image-nya di depan Senna. Berbicara dengan gadis itu membuatnya kesal bukan main. Reynand harus mati-matian menjaga harga dirinya. Reynand tidak takut jika scandal s*x nya terbongkar. Ini adalah London, s*x adalah hal lumrah bagi pria dan wanita seusia mereka. Senna berdecak dan melemparkan pandangan jijik kearah Reynand. Mulut lelaki itu benar-benar harus dicuci sampai ke kerongkongan! Kadal berkelamin ganda! “Kita sampai,” seru sang pengemudi yang membuat keduanya turun tanpa suara. Senna memainkan sepatu putihnya sembari menunggu kopernya turun. Ia lantas mendumel sebal melihat Reynand yang membayar sopir taxi dengan uang berlebih. Mungkin tambahan untuk tutup mulut. “Ayo,” seru Reynand dengan seenak jidatnya. “Kadal itu kalau putus ekornya kan, bukan otaknya,” gerutu Senna. Gadis itu badmood super level maksimal! Membayangkan seharian akan bersama dengan Reynand Cote membuat perutnya lapar? “Laper!” ucap Senna pada Reynand yang berjalan di depannya. Mumpung sama orang kaya, kenapa nggak diporotin sekalian? Pikirnya saat mengingat kakak lelakinya yang pelit. Lelaki tinggi itu menoleh, menatap aneh kepada Senna yang tadi jelas terlihat marah kini tiba-tiba minta makan padanya. “Mau makan apa?” tanyanya sedikit luluh melihat dahi Senna yang terlihat berkeringat. Reynand mendekatkan dirinya pada Senna dan mengusap dahi gadis itu pelan. Jiwa lelaki penggoda sepertinya telah terasah dalam diri Reynand dengan begitu baik. Senna menepis tangan Reynand, membuat lelaki itu menelan ludah pahit. Tau gitu tadi tidak usah sok peduli. “Burger? Pizza?” “Itu makanan cepat saji,” jawab Reynand dengan kening berkerut. Reynand tidak terlalu suka makanan cepat saji. “Aku tebak pasti kau tidak suka makanan cepat saji? Sukanya apa? Daging mahal yang lembut? Makanan yang dimasak chef terkenal? Holly s**t! Dan kau masih mengatakan bukan big baby?” “Oke! Kita makan burger!” seru Reynand dengan kesal. - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  Beberapa saat yang lalu Senna pergi membeli makanan. Sedangkan dia menunggu di balik semak-semak untuk menghindari tatapan orang-orang yang curiga. Topi kuning Senna tidaklah cukup untuk menutupi ketampanannya. Reynand menyipitkan matanya melihat Senna yang datang dengan kantong besar. Sepertinya gadis itu berfoya-foya menggunakan uang dalam dompetnya. Dengan kurang ajarnya gadis itu melemparkan topeng monyet kearahnya, dan telinga kucing yang dipakai Senna sendiri. “Aku tidak mau dikejar fans fanatikmu.” Reynand tersenyum tipis, gadis itu mempedulikannya. “Nih!” Senna menyodorkan dua burger kearah Reynand. “Beli berapa?” “Lima.” “Kenapa banyak sekali?!” “Makan saja, jangan cerewet!” seru Senna dengan mulut penuh. Reynand menatap Senna yang terlihat kelaparan. Kapan terakhir gadis itu makan? Dengan sedikit enggan Reynand mulai melahap makanannya, masih dengan pandangan penuh kearah Senna. Cantik dan manis, pikirnya. Mungkin Reynand tidak akan bosan dengan Senna. “Uhuk!” Reynand tersedak burgernya saat tersadar dengan pemikirannya. What?! Kenapa aku sampai berpikiran hal gila seperti itu?! Pikir Reynand sambil menerima sodoran air dari Senna. Reynand mengernyit, merasakan rasa asam pahit di mulutnya. Ia lalu mengangkat botol minuman yang dipegang dan telah diminumnya setengah, setelahnya ia menyemburkan minuman itu saat membaca tulisan yang tertera di sana.  Obat pereda nyeri datang bulan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN