Lantai dasar itu terasa lenggang, mungkin ini dikarenakan masih jam kantor dan hanya beberapa orang yang memiliki keperluan yang berjalan hilir mudik disana. Senna mengerutkan keningnya saat melihat seorang wanita yang berdiri di depan lift. Gadis itu tengah berdiri di balik sebuah tembok lengkap dengan wajah waspadanya. Sepertinya gadis itu terasa familiar dengan kondisinya sekarang, batinnya nelangsa.
Senna berjalan setengah berlari menuju ke pintu tangga darurat. Ia mendorong seorang lelaki yang sempat melongokkan kepalanya karena penasaran. “Masuk!” perintahnya dengan berbisik. Kedua orang itu memilih untuk menggunakan tangga darurat saat berada di lantai dua atas ide Senna. Dan kini gadis itu berkacak pinggang dengan kesal. “Managermu itu kurang kerjaan apa? Buat apa dia berdiri di depan lift seperti itu? Kakinya tidak keram?” gerutunya.
Rey tersenyum senang saat melihat kekesalan Senna, gadis yang ia ketahui namanya beberapa menit yang lalu. “Dia tidak akan membiarkanku lolos dengan mudah.”
Senna memasang wajah masam, ia lalu melepaskan topi kuning cerahnya dan sedikit melebarkan ukuran kepala topi itu. “Pakai ini,” ucap gadis itu sembari mengulurkan topinya.
Rey kini bisa melihat bagaimana wajah gadis itu dengan utuh. Cantik, batinnya. “Lumayan,” ucapnya dengan nada ambigu.
“Apanya?”
“Wajahmu.”
Senna menyipitkan matanya, menatap lelaki itu dengan pandangan curiga. “Kau bohong,” ucapnya dengan percaya diri.
“Hah?”
Gadis itu tersenyum manis sembari melemparkan pandangan mengejeknya. “Aku cantik,” ujarnya percaya diri dengan mengangkat dagunya. Ia semakin percaya diri saat lelaki itu terdiam sembari memandangi wajahnya. Tentu saja ia percaya diri. Wajah campurannya itu cukup membuatnya terkenal di kampus.
“Aku baru sadar…” ucap lelaki itu pelan yang membuat senyum Senna semakin merekah.
“Matamu berwarna coklat.” Reynand menatap Senna dengan tajam, tampak mengamati dan seakan mengorek apa saja yang berada di balik manik mata gadis itu. Membuat Senna merasakan tremor dan serangan jantung mendadak, entah keberapa kalinya.
Senyum manis di wajah Senna menghilang seketika. Debaran itu datang lagi, membuat gadis itu menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa mengering. Topik yang berhubungan dengan wajah adalah yang paling Senna hindari, terutama pada bagian mata.
Senna menunduk dan tersenyum, berusaha terlihat sesantai mungkin. “Kenapa? Kau teringat pada mantanmu? Cinta pertamamu?” ujarnya dengan nada jenaka.
Lelaki itu berdehem, menghilangkan beberapa pikiran yang terbesit dalam otak cerdasnya. Ia mengibaskan tangan kanannya, “Tidak, aku cukup trauma dengan mata yang berwarna coklat.” Jawabnya.
Hidung Senna terkembang, ia lalu mengangkat bahunya dan berpura-pura bahwa ia tidak tahu apa-apa. “Jadi, bisakah kita lanjutkan misi membawa kabur sang aktor playboy Reynand Cote?”
Reynand mengerutkan keningnya, wajahnya nampak tidak suka. “Kenapa kau mengataiku playboy?”
“Karena kau memang playboy.” Balas Senna dengan ketenangan yang mengagumkan. “Dan kau tahu itu,” imbuhnya sebelum Reynand sempat menyela.
Lelaki dengan tubuh tegap itu menurunkan letak topi kuningnya, “Kupikir ini tidak akan berhasil.” Ucapnya berusaha tidak mempedulikan apa yang sebelumnya gadis itu ucapkan.
Senna dengan cepat menatap Rey, bukankah lelaki itu yang menginginkan untuk kabur? Mengapa sekarang ia yang pesimis, kesalnya dalam hati. “Kenapa?”
“Baju yang kupakai saat ini, managerku yang memilihkanya. Ia pasti hafal.”
Senna mengangkat sebelah alisnya, “Manja,” ejeknya.
“Aku tidak manja!”
“Ka-u man-ja,” Senna merakankan kesenangan yang luar biasa saat bisa mengejek lelkai yang berada di hadapannya. Ia dengan wajah yang bagaikan menemukan mainan baru mengeja ucapannya tepat di depan wajah Reynand. Lupakan bahwa beberapa saat yang lalu gadis itu bergetar ketakutan. Seringaiannya semakin jelas terlihat saat melihat lelaki dihadapannya mengeram marah. “Oke lupakan!” ucap Senna seenaknya. Ia lalu menarik koper yang sendari tadi dibawa oleh Reynand, berjongkok dan membuka koper itu.
“Apa yang kau lakukan?”
“Mencarikanmu baju, emmm disini tidak ada jaket… ini dia!” Senna mengangkat sebuah sweater coklat yang nampak besar.
Sekali lihat lelaki itu tahu bahwa sweater itu bermerek terkenal. Semua isi koper itu jelas pakaian lelaki, mengapa gadis itu membawa koper yang berisikan pakaian pria? Apakah itu milik kekasihnya? Pikir Reynand penuh dengan tanda tanya.
“Itu semua pakaian pria kan?”
“Bisa kau lihat,” Senna menjawab dengan acuh, ia merentangkan sweater itu dan mencoba mencocokkannya dengan bentuk tubuh Reynand. “Semoga ia tidak marah…” gumam Senna yang dapat dengan jelas didengar oleh Reynand.
“Milik siapa?” tanya lelaki itu penasaran.
Senna berdiri dari duduknya, dengan seenaknya meletakkan baju itu diatas kepala Reynand. “Pakai baju ini, katakan padaku jika sudah selesai.” Ucap gadis itu sebelum membalikkan tubuhnya untuk menghadap tembok. “Jangan lama-lama…” imbuhnya.
“Jawab dulu, ini milik siapa?”
“Kau tak perlu tahu, yang harus kita lakukan adalah mengganti bajumu.”
Reynand mendengus kesal, seumur-umur ia tidak pernah diperintah dengan menyebalkan seperti ini. Ia terbiasa memerintah, dengan sifat angkuh dan semua orang pasti akan mematuhinya. Tapi semua senjatanya itu seakan-akan telah dilucuti oleh Senna, gadis yang mengaku membencinya, hingga seolah-olah memiliki alasan untuk bersikap seenaknya. Ia mulai menyesali keputusannya.
Lelaki itu lalu menyeringai. Baiklah, mari kita lihat. Senna bisa saja membencinya, tapi apakah gadis itu bisa menghindari pesonanya. Jangan lupakan siapa dirinya, Reynand Cote adalah sang penakhluk wanita.
“Sudah selesai,” ucapnya sembari menahan sudut bibirnya agar tak lagi menyeringai. Lelaki itu menghitung dalam hati. Satu… dua… yap…
“Astaga!” teriak gadis itu.
Senna membelalakkan matanya dengan mulut yang terbuka. Ia menyumpah dalam hati saat melihat seringaian sexy lelaki itu, terlihat puas melihat ekspresi menggelikannya. Gadis itu tersadar, bahwa lelaki itu ingin mengerjainya. Dan melihat wajah mupeng dari Senna adalah tujuan utamanya. “Tubuhmu ternyata biasa saja ya,” imbuh Senna dengan nada kecewa yang dibuat-buat. Gadis itu berekspresi seolah-olah melihat roti sobek adalah hal yang biasa baginya. Lupakan tangannya yang gemetaran karena ingin meraba-raba.
Reynand menyipitkan matanya, menatap curiga pada gadis yang kini menatapnya dengan mimik muka datar tanpa minat. Tidak mungkin, ini pasti salah! Wanita-wanita biasanya langsung menjerit dengan wajah tergoda dan ingin digoda. Gadis itu memang menjerit, tapi wajahnya itu loh! Bagaimana bisa gadis itu memasang wajah mengejek seperti itu?
Senna lalu mengangkat bahunya acuh, mengibaskan tagannya cepat. “Cepat pakai bajumu, atau kau tidak bisa memakainya? Dasar bayi!” ejeknya ketus. Ia harus cepat-cepat membuat lelaki itu memakai bajunya tanpa curiga. Sungguh, sekarang tubuhnya mulai panas dingin! Kalau Angel yang berada di posisinya sekarang, gadis itu pasti sudah berteriak kegirangan.
“Bayi? Lelaki seksi dengan perut kotak-kotak ini kau panggil bayi?” ujar Reynand tidak percaya. Oh tolonglah! Dari semua ejekan kenapa harus bayi yang bahkan kencingpun tak bisa.
“Lalu kau harus kupanggil apa? Sweater itu untuk dipakai di tubuh, bukan di leher!” Senna mengangkat kedua tangannya, dan memasang wajah menyebalkan. “Masukkan kedua tanganmu lalu kepalamu!” terangnya yang membuat Reynand semakin geram. “Atau kau mau kupanggilkan managermu? Kupikir ia masih disana.” Acam Senna yang membuat Reynand kini semakin menekuk wajahnya.
Reynand memakai sweater coklat itu dengan cepat, membuat Senna mau tidak mau mengakui bahwa lelaki itu nampak lebih menawan daripada kakaknya.
“Kau sangat menyebalkan!” tutur Reynand yang membuat sudut bibir Senna terangkat.
“Harusnya kau sadar saat kita pertama bertemu.” Sahutnya lebih menyebalkan. Senna dengan sabar memunguti kaos dan jaket Reynand yang tercecer di bawah kakinya. Melipatnya rapi dan memasukkannya kedalam koper milik kakaknya. “Pakai topinya,” ucap Senna mengingatkan dan dilakukan dengan patuh oleh lelaki itu.
Gadis itu menyerahkan koper itu untuk dibawa oleh Reynand. “Kenapa aku yang bawa?” tanya lelaki itu tidak terima.
“Untuk alat penyamaran!” jawabnya ketus. “Cepat!”
Senna membuka pintu tangga darurat dengan pelan, melihat kearah lift dan membatin kesal. Manager Reynand keras kepala sekali. Gadis itu dengan cepat berjalan di samping Reynand, melangkahkahkan kakinya cepat.
“Menunduklah,” bisiknya agak gemetar karena menyadari bahwa manager Reynand sekilas menatap kearahnya.
“Kupikir topi ini sedikit norak,” keluh Reynand yang tidak tahu tempat itu.
“Berhentilah merengek,” desis gadis itu mulai kehilangan kesabaran.
Ia tersenyum kecil menyadari kegugupan rekan kaburnya itu. Ia yang ingin kabur, tetapi gadis itu yang gugup bukan main.
“Kau tidak pandai berakting,” bisiknya.
“Aku bukan artis…” kesal Senna saat merasa lelaki itu benar-benar tidak memahami kegugupannya. Kalau rencana ini berantakan bukankah lelaki itu sendiri yang akan kesusahan! “Managermu!” Senna berbisik gelisah saat manager Reynand menatap penuh kearah mereka yang sudah lebih dekat dengan pintu keluar. Gadis itu dengan cepat mendekap Reynand untuk menyembunyikan wajahnya yang hampir menoleh kearah managernya.
“Kau mau bunuh diri?” geram Senna, masih mendekap lelaki itu, membuat Reynand membukukkan badannya yang jangkung.