Chapter 8

1689 Kata
 *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -      Dalam keheningan, masih diruangan yang sempit kedua orang itu terdiam masih saling berpandangan. Senna, gadis dengan topi kuning cerah itu bisa merasakan pasokan udara di rongga dadanya kian menipis. Sialan, dadanya sesak seiring dengan tatapan lelaki itu yang menurutnya menatapnya semakin tajam. Ada yang tidak beres disini, batin Senna tidak tenang. Apa lelaki itu mengenalnya? Pikirnya mulai diliputi kepanikan. Tentu saja ia akan berpikir seperti itu, mengingat bahwa lelaki yang kini berdiri dihadapannya tanpa ada niatan melepaskan pintu lift masih menatapnya tajam. Kalau orang itu tidak mengingatnya buat apa ia bertingkah seperti itu. Ya ampun, apa ia kabur saja ya sekarang? Batinnya frustasi, ia belum siap jika harus digiring ke kantor polisi. “Kau…” Senna meneguk air ludahnya dengan gugup, lelaki itu membuka suara dengan nada yang mencoba mengingat-ingat. Demi Tuhan! Senna akan tobat jika ia bisa lolos dari Rey. “Kau… mengenalku?” Hidung Senna kembang kempis. Santai Senna, bisa jadi lelaki itu tidak mengingatmu! Ujarnya dalam hati. Senna tertawa kering, “Kau artis.” Jawabnya terdengar tidak yakin, menutupi kegugupannya. Rey berdehem sekali, hanya untuk menutupi kebodohannya. Tentu saja gadis itu mengenalnya, sekarang pertanyaannya adalah, apakah ia mengenal gadis itu. Rey melepaskan pintu lift dan berdiri tepat disamping Senna. Ia mencoba mengingat-ingat di mana ia bertemu dengan gadis bertopi kuning itu. Dan keningnya mengerut saat ia merasa tidak suka dengan topi yang gadis itu pakai. “Lantai berapa?” tanya gadis itu pelan saat melihat tidak ada tanda-tanda bagi Rey untuk memencet tombol lift. “Enam.” Senna langsung murung, bahkan lantai yang mereka tuju sama. Sepertinya ini adalah hukuman dari Tuhan atas kelakuannya pada Rey. “Kau bekerja disini?” tanya Rey sembari melirik gadis yang tingginya sebahu itu dengan tatapan penasaran. “Tidak,” balas Senna acuh tak acuh, berharap lelaki itu tidak lagi mengajaknya bicara. Sungguh, jantungnya sangat tidak tenang. “Lalu untuk apa kau disini?” Sialan, bisakah lelaki itu diam. Rasanya sangat tidak nyaman tiap kali jantungnya melonjak karena suara lelaki itu. “Ada keperluan.” “Keperluan apa?” Senna menggeser tubuhnya sedikit kesamping, lalu mendongak menatap lelaki itu dengan senyuman masamnya. “Bukan urusanmu.” Jawabnya yang membuat alis Rey terangkat. “Kau kan tinggal menjawabnya, kenapa marah begitu?” balas Rey yang sedikit aneh dengan tingkah gadis itu. “Siapa yang marah?” tanya Senna tidak terima. “Kau! Kau terlihat marah padaku.” “Aku tidak marah, akukan tidak berteriak padamu.” Senna mengerutkan keningnya tidak suka dengan tuduhan lelaki dihadapannya. Rey mendengus pelan, “Marah tidak selalu berteriak.” Gadis itu memutar bola matanya malas, “Kau benar, tetapi aku tidak marah.” “Lalu kenapa keningmu berkerut seperti itu?” “Itu karena aku tidak suka padamu!” jawab Senna sedikit meningkatkan suaranya. Gadis itu membelalakkan mata saat tersadar bahwa ia kelepasan. Astaga, harusnya tadi ia biasa saja. Kenapa harus tersulut emosi sih. Reynand mengangguk-anggukkan kepalanya kecil. “Jadi, kau antifans?” tanyanya hati-hati. Sebenarnya ia cukup terkejut saat mengetahui fakta bahwa gadis disampingnya itu adalah antifans-nya. Senna tertawa sinis, membuat Rey menatapnya penasaran. “Tolong jangan salah paham, aku bukan antifans-mu.” Ucap Senna kesal. Ia tidak terima jika lelaki itu menganggapnya sebagai antifans, meskipun antifans adalah seorang haters, tetap saja ada kata fans di belakang kata anti. Senna tidak sudi! “Asal kau tahu saja, eksistensimu sama sekali tidak penting bagiku.” Tambah gadis itu dengan nada serius. Senna merasakan kelegaan saat pintu lift telah terbuka. Ia dengan cepat keluar dari lift dan menuju keruang latihan milik David, meninggalkan Reynand yang memandang punggung sempit itu dengan pikiran-pikiran yang memenuhinya. Hingga mencapai satu kesimpulan. Gadis itu, membencinya. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya dan Reynand tidak menyukai perasaan itu. Ia sudah biasa mendapatkan kebencian dari para wanita yang ia campakkan. Namun, dengan dalih bahwa ia tak melakukan kesalahan apapun pada gadis itu, Reynand tidak terima jika gadis itu membencinya. Lelaki itu melangkah keluar dari lift dengan perasaan yang campur aduk. Dadanya bergemuruh, hingga membuatnya memilih bersandar pada tembok di samping lift. Menunggu gadis bertopi kuning itu untuk mencari tahu penyebab kebencian gadis itu padanya. Ia harus tahu. Reynand Cote berusaha menahan diri untuk tidak menegakkan tubuhnya saat iris mata kelamnya melihat gadis itu. Si pemilik topi kuning terlihat membawa koper merah besar dengan wajah dongkol. Gadis itu nampak terkejut saat melihatnya berdiri dengan angkuhnya di samping pintu lift. Dan Rey sangat tidak suka saat gadis yang belum ia ketahui namanya itu melenggang mengabaikannya. Reynand menarik gagang koper merah yang Senna bawa, membuat gadis itu berdecih sebal dan menatapnya dengan pandangan tajam. “Lepaskan.” Katanya dingin.  “Kita perlu bicara,” ujar Reynand dengan ketegasan yang ketara. Senna mengumpat dalam hati. Berbicara dengan Reynand seperti ini membuat perutnya mulas. Salah satu efek samping selain jantungnya yang berdentum tak karuan. “Aku tidak mau bicara denganmu. Sekarang lepaskan aku!” Rey menarik koper itu hingga terlepas dari tangan gadis itu. Ia kini meletakkan koper merah tua itu di belakang tubuhnya. “Aku perlu alasan mengapa kau membenciku.” Senna mendengus sebal, manik matanya memicing kesal. “Berikan koperku,” desisnya sembari menahan amarah. “Tidak, sebelum kau menjawab pertanyaanku. Mengapa kau membenciku.” Senna mengepalkan tangannya. Reynand Cote, artis papan atas yang sejak sebulan yang lalu ia nobatkan sebagai orang terbrengsek di dunia kini bertanya padanya. Mengapa ia membenci lelaki itu. Sungguh, ia betul-betul ingin meneriaki lelaki itu sekarang juga. Mengatakan seberapa b******k lelaki itu hingga mulutnya berbusa. “Apa aku pernah berbuat salah padamu?” imbuh lelaki itu saat Senna terdiam tanpa ada niatan menjawabnya.       Senna merasakan lidahnya kelu. Ada rasa takut dalam hatinya. Dan ucapan-ucapan David, kakaknya kini seakan memenuhi kepalanya. Bahwa ia hampir saja menghancurkan hidup seorang artis. Bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah kriminal dan lelaki itu menjadi korbannya. Dan Senna merasakan pukulan di ulu hatinya saat tersadar bahwa sejak awal ia tidak pernah benar-benar terlibat dengan lelaki itu. Lelaki itu tidak pernah berbuat jahat kepadanya. “Apa aku pernah menyakitimu?” tanya lelaki itu lagi. Senna menggelengkan kepalanya dengan cepat. Membuat Rey menhembuskan napas yang beberapa detik lalu ia tahan tanpa sadar. “Lalu, mengapa?” Gadis itu menghitung angka satu sampai lima, lalu mendongak dengan tatapan yang lebih lembut dari sebelumnya. “Aku minta maaf padamu.” ujar gadis itu yang membuat Rey menatapnya bingung. “Apa?” “Kubilang aku minta maaf,” Senna mengalihkan pandangannya kearah lain. Jangan mata kelam itu. “Apa yang harus kumaafkan?” tanya Rey dengan nada bingung dan penasarannya. Ada apa dengan gadis ini? “Pokoknya aku minta maaf! Sudahlah, sekarang berikan koperku!” Reynand menarik koper itu lebih kebelakang saat Senna mengulurkan tangannya untuk mengambil alih koper merah itu. “Jelaskan dulu, kau minta maaf untuk apa?” “Aku tidak ingin menjelaskannya!” “Apa itu kesalahan yang sangat besar? Hey, kita bahkan tidak saling kenal.” Senna mengangkat bahunya kesal, memasang wajah lelah. “Terserah kau. Ambil saja koper itu jika kau mau.” Jawab Senna dengan kesal dan berbalik untuk masuk kedalam lift. Bodoh amatlah, pikirnya. Kalaupun Reynand ngotot ingin menyandera koper merah itu, ia tinggal mengatakan pada David kalau kopernya ada di Reynand, sang aktor terkenal yang telah merebut kekasihnya. Siapa tahu David akan kalap dan memukuli si lelaki kadal Reynand. Reynand dengan tergopoh menyeret koper berat itu untuk memasuki lift. Ia memutar otaknya, dan terang-terangan menatap gadis yang tengah bersidekap setelah menekan nomor lantai dasar. Gadis itu tentu tidak bercanda saat membiarkan Rey membawa kopernya, itu berarti ia harus mencari cara lain untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya. “Aku akan memaafkanmu, tapi ada satu syarat.” Rey kini mencoba bernegoisasi dengan damai. Biasanya seorang wanita akan meleleh jika diperlakukan dengan lembut bukan? “Terserah, aku tidak peduli!” ucap gadis itu ketus. “Aku akan memaafkan kesalahanmu, apapun itu!” Senna kini berbalik menghadap lelaki itu, tangannya bersidekap dengan menyebalkan. “Apapun itu?” tanyanya untuk meyakinkan. Reynand mengamati raut wajah lawan bicaranya. Apa kesalahannya hingga ia bereaksi seperti itu? Pikiran Reynand dipenuhi dengan berbagai kemungkinan. “Ya, apapun.” Jawab Rey memilih untuk bermain aman dengan tidak membiarkannya pergi dengan mudah. “Jangan lupa syaratnya.” Katanya mengingatkan. “Apa syaratnya?” Reynand menahan sudut bibirnya untuk tidak tersenyum, gadis itu masuk kedalam perangkapnya. “Hari ini, kau harus membantuku untuk kabur.” Senna tersenyum sinis. Permintaan khas seorang aktor, batinnya sudah bisa menebak. “Kabur dari managermu?” “Kabur dari semuanya.” Reynand tersenyum kecil, dan Senna tercenung untu sesaat. “Itu mudah,” jawabnya setelah sekian detik terdiam. Reynand mengulurkan tangan kanannya. “Deal?” “Deal! Sekarang kau memaafkanku?” Senna mengabaikan uluran tangan lelaki itu. Membuat sang empunya memainkan matanya agar gadis itu teradar bahwa ia tengah mengajaknya bersalaman. Yah, meskipun ia tahu bahwa bukannya gadis itu tidak tahu makna arti dari uluran tangannya. Senna berdecak, dan bergumam ‘merepotkan’. Ia mengangkat tangan kirinya dan menepukkannya pada punggung tangan kanan Rey. Bukan untuk menepis, karena gadis itu membiarkan kulit tangan luarnya bersentuhan dalam diam hingga beberapa detik, sebelum menurunkan tangannya dan berbalik menatap pintu lift yang kini menampilkan angka empat. Reynand terkekeh saat melihat bagaimana cara gadis itu utuk bersalaman. Unik sekali, pikirnya. “Siapa namamu?” “Senna.” Gumam gadis itu yang kembali menatap kearah pintu lift yang tertutup. Reynand hanya mengangguk kecil, dan mengulang nama Senna beberapa kali di otaknya.    *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -     
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN