Bagaimanapun juga, kadal tetaplah kadal. Reynand menarik sudut bibirnya jahat. Ia melirik kearah Senna yang duduk dengan wajah masam di sampingnya. Saat ini mereka tengah menuju wahana taman bermain. Untuk menakhlukkan gadis jutek seperti Senna adalah dengan membuatnya lupa dengan siapa ia pergi. Café atau tempat yang membuat orang harus berbincang lebih banyak tidaklah cocok bagi mereka berdua.
“Aku tidak mau bawa koper kemana-mana,” gerutu Senna yang sedari tadi diam. Kopernya kini berada di garasi mobil taxi. Senna mencoba mencari-cari alasan agar bisa cepat pulang. Menghabiskan waktu dengan Reynand membuatnya seakan terkontaminasi aura berdosa lelaki kadal itu.
“Kau bisa mengirimnya memakai taxi,” usul Reynand.
“Nanti hilang.”
“Tidak akan.”
“Pasti hilang.”
“Kau selalu berpikiran negatif” Reynand berucap setengah sebal saat melihat kekeras kepalaan gadis manis itu. Yaps, Senna adalah gadis yang sangat manis. Pipi cubby yang menggemasnya membuat wajahnya mudah diingat. Dan bahkan, sepertinya Reynand pernah melihat wajah manis itu, entah di mana.
“Aku tidak berpikiran negatif, hanya berjaga-jaga.”
“Baik, terserah. Jika tidak mau kau bisa menitipkannya di pintu masuk. Aku tidak mau membawa barang besar itu kemana-mana.” Reynand mengangkat bahunya acuh.
Senna berdecak, “Kau pikir karena siapa aku membawa koper ini?! Dan kau lupa kalau berkat koper ini kau bisa kabur?!”
“Ungkit saja terus sampai neraka jadi dingin,” cibir Reynand.
“Kau tau kalau ada neraka masih saja suka bertingkah!”
“Contohnya?” pancing Reynand diam-diam.
“Playboy! Kau pikir keren bisa memakai wanita dan membuangnya seperti tisu sekali pakai? Kau tidak pernah berpikir bagaimana hancurnya wanita, juga orang-orang terdekatnya?”
Reynand merundukkan topinya. Untung saja tadi ia memesan taxi mahal yang memberikan penyekat kaca kedap suara antara pengemudi dan penumpang. Pengemudi dan penumpang harus menggunakan tombol speaker untuk bisa saling berinteraksi.
“Dengar Senna, aku tidak tau kenapa kau terlihat membenciku. Yang kau harus tau aku tidak pernah memaksa seorang wanita untuk tidur denganku. Mereka datang, kami melakukan s*x tanpa keterpaksaan, kami menikmatinya. Masalahnya adalah mereka ingin lagi dan aku tidak ingin.”
“Kau sangat m***m!” Hardik Senna dengan pipi yang memerah. Sungguh ini adalah kali pertama ia mendengarkan hal sevulgar itu dari pria. Dan sialnya itu berasal dari lelaki yang ia benci sampai ubun-ubun.
“Yah, aku sangat m***m dan sangat hebat di ranjang. Kau bisa mencoba melakukan itu denganku jika penasaran.” Reynand berucap dengan ringan.
“Tidak sudi!”
“Aku yakin kau akan mendesah di bawahku.”
“Mimpi saja sana!”
“Kau yang akan memimpikanku, lihat saja nanti.” Reynand sudah masa bodoh dengan image-nya di depan Senna. Berbicara dengan gadis itu membuatnya kesal bukan main. Reynand harus mati-matian menjaga harga dirinya. Reynand tidak takut jika scandal s*x nya terbongkar. Ini adalah London, s*x adalah hal lumrah bagi pria dan wanita seusia mereka.
Senna berdecak dan melemparkan pandangan jijik kearah Reynand. Mulut lelaki itu benar-benar harus dicuci sampai ke kerongkongan! Kadal berkelamin ganda!
“Kita sampai,” seru sang pengemudi yang membuat keduanya turun tanpa suara. Senna memainkan sepatu putihnya sembari menunggu kopernya turun. Ia lantas mendumel sebal melihat Reynand yang membayar sopir taxi dengan uang berlebih. Mungkin tambahan untuk tutup mulut.
“Ayo,” seru Reynand dengan seenak jidatnya.
“Kadal itu kalau putus ekornya kan, bukan otaknya,” gerutu Senna. Gadis itu badmood super level maksimal! Membayangkan seharian akan bersama dengan Reynand Cote membuat perutnya lapar? “Laper!” ucap Senna pada Reynand yang berjalan di depannya. Mumpung sama orang kaya, kenapa nggak diporotin sekalian? Pikirnya saat mengingat kakak lelakinya yang pelit.
Lelaki tinggi itu menoleh, menatap aneh kepada Senna yang tadi jelas terlihat marah kini tiba-tiba minta makan padanya. “Mau makan apa?” tanyanya sedikit luluh melihat dahi Senna yang terlihat berkeringat. Reynand mendekatkan dirinya pada Senna dan mengusap dahi gadis itu pelan. Jiwa lelaki penggoda sepertinya telah terasah dalam diri Reynand dengan begitu baik.
Senna menepis tangan Reynand, membuat lelaki itu menelan ludah pahit. Tau gitu tadi tidak usah sok peduli. “Burger? Pizza?”
“Itu makanan cepat saji,” jawab Reynand dengan kening berkerut. Reynand tidak terlalu suka makanan cepat saji.
“Aku tebak pasti kau tidak suka makanan cepat saji? Sukanya apa? Daging mahal yang lembut? Makanan yang dimasak chef terkenal? Holly s**t! Dan kau masih mengatakan bukan big baby?”
“Oke! Kita makan burger!” seru Reynand dengan kesal.
***
Beberapa saat yang lalu Senna pergi membeli makanan. Sedangkan dia menunggu di balik semak-semak untuk menghindari tatapan orang-orang yang curiga. Topi kuning Senna tidaklah cukup untuk menutupi ketampanannya. Reynand menyipitkan matanya melihat Senna yang datang dengan kantong besar. Sepertinya gadis itu berfoya-foya menggunakan uang dalam dompetnya.
Dengan kurang ajarnya gadis itu melemparkan topeng monyet kearahnya, dan telinga kucing yang dipakai Senna sendiri. “Aku tidak mau dikejar fans fanatikmu.” Reynand tersenyum tipis, gadis itu mempedulikannya. “Nih!” Senna menyodorkan dua burger kearah Reynand.
“Beli berapa?”
“Lima.”
“Kenapa banyak sekali?!”
“Makan saja, jangan cerewet!” seru Senna dengan mulut penuh.
Reynand menatap Senna yang terlihat kelaparan. Kapan terakhir gadis itu makan? Dengan sedikit enggan Reynand mulai melahap makanannya, masih dengan pandangan penuh kearah Senna. Cantik dan manis, pikirnya. Mungkin Reynand tidak akan bosan dengan Senna.
“Uhuk!” Reynand tersedak burgernya saat tersadar dengan pemikirannya. What?! Kenapa aku sampai berpikiran hal gila seperti itu?! Pikir Reynand sambil menerima sodoran air dari Senna. Reynand mengernyit, merasakan rasa asam pahit di mulutnya. Ia lalu mengangkat botol minuman yang dipegang dan telah diminumnya setengah, setelahnya ia menyemburkan minuman itu saat membaca tulisan yang tertera di sana.
Obat pereda nyeri datang bulan.
Reynand menatap tajam kearah Senna yang sudah tebahak-bahak melihat kearahnya. Kurang ajar sekali gadis itu! Pikirnya sembari mulai menyusun rencana untuk balas dendam.
“Awas kau?!” teriak Reynand menarik air mineral yang disodorkan oleh Senna.
“Santai lah, tiap datang bulan perempuan suka minum itu kok,” sahut Senna tanpa dosa sambil memakan burger keduanya.
“Tapi aku pria!”
“Yah biar tau rasanya. Kenapa marah-marah sih? Santai… Nih aku kasih dua burger,” sogok Senna yang sedikit takut melihat Reynand yang terlihat benar-benar murka. Wajah lelaki itu merah dan menyorot tajam kearahnya.
“Lagi datang bulan?” tanya Reynand kembali memakan burger kedua setelah burger pertamanya ia buang ke dalam kantong makanan yang dijadikan sampah.
Senna menggelengkan kepalanya pelan. Bibirnya berkedut terlihat hendak tertawa. Dan hal itu membuat emosi Reynand kembali naik. “Kau harus tanggung jawab!” serunya.
“Apa? Kau tidak akan mungkin menjadi transgender hanya karena minum obat datang bulan!” ejek Senna.
“Harga diriku terinjak-injak!”
Reynand menatap Senna dengan kesal, ini anak satu minta dibungkam pakai bibir emang. “Aku Reynand Cote, aktor papan atas, yang punya jutaan fans di seluruh penjuru negeri.”
“Baru naik daun sudah sombong!”
“Kita taruhan!” ucap Reynand pada akhirny
“Masih punya harga diri?”
a. Ia harus menemukan cara untuk bisa membalasan dendamnya kepada Senna! “Bergantian mengajukan wahana bermain, yang tidak kuat dia adalah pecundang. Dan yang menolak juga pecundang! Yang kalah harus menuruti perintah pemenang.”
“Aku tidak mau berurusan dengan kau lagi!” seru Senna secara tidak langsung menolak ajakan Reynand.
“Pecundang.”
“Oke! Kita buat perjanjiannya!” seru Senna yang tidak rela dikatai pecundang oleh kadal berkelamin ganda di depannya.