Senna menutup mata saat tahu apa yang kakak lelakinya itu inginkan. Mati saja! Bagaimana bisa dia meminta maaf pada Rey, si lelaki kadal. Hell! Meskipun ia merasa bersalah, ia tetap memberikan Rey nama kecil lelaki kadal.
“Besok, aku ada pemotretan dengannya. Kau bisa datang ke lokasi.” David mematikan televisi dan melemparnya kearah sofa. Memarahi adiknya dengan posisi berdiri sedikit membuat kakinya pegal. Ia lalu berjalan menuju meja makan yang tak jauh dari sana. “Aku tak memaksamu,” imbuhnya sembari mendudukkan dirinya dan mulai menyiapkan makanannya. Lelaki itu memuji keahlian memasak sang adik dan bersorak gembira dalam hati saat melihat makanan favoritnya tersaji dengan pose menggoda.
Senna terdiam, mengabaikan eksistensi kakaknya yang mulai menyantap makanan dengan hikmatnya. “Kau tidak memaksaku?” tanyanya hampir seperti cicitan. Ia melihat kakaknya yang kini sibuk mencuil-cuil ikan tuna pedas dengan tangan kanannya.
“Kau tahu jika itu hanya basa-basi.” Ujarnya cuek.
Sudah kuduga, batin Senna kesal. “Kau tidak tahu alasan mengapa aku melakukan itu.”
“Katakan jika kau ingin.”
Gadis itu tercenung. Ia menimang-nimang situasi yang ada. Kakaknya pastilah sudah tahu jika ini menyangkut dengan Yuri, mantan kekasihnya. Tetapi ia tak mungkin mencertakan kronologi alasan dibalik sikapnya. Mengingat bagaimana gilanya sang kakak saat diputuskan secara sepihak oleh Yuri. Dan ia tak cukup hati untuk menceritakan bagaimana Yuri yang mengais cinta dari Rey hingga membuat harga diri Senna sebagai wanita seakan ikut tersakiti.
Senna menghela napas, ia memanyunkan bibirnya sebelum mencomot satu roti selai strawberry yang memang sudah ia siapkan untuk dirinya sendiri. “Aku berangkat,” ujarnya yang dibalas gumaman oleh Rey. Gadis itu mengambil ranselnya dan menggigit rotinya kecil.
“Kau tidak menciumku?” David berucap dengan nada heran saat melihat adiknya telah berjalan beberapa langkah.
“Aku sedang badmood,” jawab Senna dengan nada kesalnya. David mengangkat sebelah alisnya. Bukankah beberapa saat lalu ia yang marah? Mengapa saat ini Senna yang terkesan marah padanya?
“Saat aku telepon jawab yang benar, aku tidak ingin berbicara dengan pantatmu!” Imbuhnya setengah berteriak. Ia ingat jelas kebiasaan Senna yang menyaku ponselnya di celana saat ia mulai berceramah via telepon. Dasar adik kurang ajar.
*- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Siang itu, Senna memiliki mood yang buruk untuk sekadar pergi ke kampus. Masa bodoh dengan absensi, Angel pasti langsung mencentang kehadirannya tanpa ia meminta. Gadis itu mengeratkan jaketnya, bersyukur dalam hati saat melihat langit cerah. Ia berharap tidak turun salju hari ini. Senna mengambil topi putih berlogo kucing dari dalam ranselnya, berdecak saat mengingat bahwa beberapa hari yang lalu ia memberikan topi hitam dengan pin keroppinya pada si lelaki kadal. Ahhh, tidak, tidak. Khusus hari ini ia tidak akan mengumpati lelaki itu. Senna putuskan bahwa ini adalah hari berbelah sungkawa bagi Reynand, ia sebagai penyebab utama cukup tahu diri dan merasa bersalah.
Ponsel gadis itu berdering, menampilkan nama kakaknya yang beberapa setengah jam lalu bahkan menceramahinya. Untuk apa lelaki itu meneleponnya? “Hm?” jawabnya setelah menempelkan ponsel pada telinga kanannya.
“Kau sedang apa?”
“Langsung saja,” balas Senna saat tahu kakaknya hendak berbasa-basi.
“Bisakah kau menolongku?”
Gadis itu mendengus mendengar pernyataan kakaknya. “Bukankah setengah jam yang lalu kau memarahiku?”
“Kau tahu bahwa kau yang salah.”
“Ya, ya… apa? Jangan merepotkanku.” Jawabnya cepat. Ia tidak ingin lelaki itu kembali membahas kesalahannya.
“Tolong ambilkan koperku di gedung agensi,” pinta David melalui layar ponselnya. “Setelah itu aku akan memaafkanmu.” Imbuhnya cepat, takut-takut adiknya itu akan menolak permintaannya.
“Aku tidak punya salah padamu, kau yang bilang itu.” jawab Senna dengan niatan membuat kakaknya yang sok itu memohon padanya. Enak saja, dipikir ia tidak dendam apa?
“Ayolaah, ini juga gara-gara kau. Kemarin aku terburu-buru pulang sampai lupa barangku yang ada di pesawat. Erland marah karena aku meninggalkannya, dan sekarang dia yang meninggalkan koperku di gedung agensi.” Racau David yang baru sadar bahwa ia pulang tanpa membawa koper. “Oh ya, oleh-oleh untukmu ada di koper itu.”
Senna menarik sudut bibirnya, “Di mana kopernya?”
“Di ruang latihanku, lantai enam.”
“Yang warna merah hati kan?” tanyanya memastikan.
“Yap!”
Senna tanpa basa-basi langsung mematikan ponselnya. Ia menggosok hidungnya saat terasa ada yang menggelitik disana. Gadis itu berjalan dengan sedikit berlari saat melihat bus yang akan berhenti di halte yang berjarak beberapa meter dengannya. Dan ia mendesah lega hingga menghasilkan kepulan asap saat menjadi orang yang terakhir menaiki bus. Tersenyum ramah pada sang supir sembari memasukkan uangnya. Bus itu berhenti hampir setengah menit untuk menunggu dirinya.
Gadis itu duduk pada kursi ujung paling depan. Menyamankan dirinya dan mulai merogoh-rogoh tasnya, mencari sesuatu untuk sekadar menghilangkan kebosannya dalam dua puluh menit kedepan. Gadis dengan hidung yang sedikit memerah itu tertegun saat menemukan ponsel mewah yang ia yakini memiliki harga selangit. Berdecak saat mengingat dosa pertamanya pada Rey.
“David pasti mencincangku.” Batinnya saat tersadar bahwa ia telah menjadi pencuri. Tentu saja, beberapa hari yang lalu ia mengambil ponsel Reynand. Malam itu, ia hanya penasaran dengan isi ponsel artis playboy itu dan tanpa pikir panjang mengambil ponselnya. Dan kini ia sadar bahwa mengambil ponsel Rey sama dengan mencuri ponsel lelaki itu. “Aku harus mengembalikannya,” bisiknya pada diri sendiri, entah bagaimana caranya. “Setelah kuperiksa.” Imbuhnya dengan senyuman setan. Astaga, bukankah beberapa detik yang lalu gadis itu merasa bersalah? Dan sekarang tingkah jahilnya kembali muncul.
Senna dengan cekatan melepas kartu SIM pada ponsel itu, dan hanya menyisakan memori cardnya. Gadis itu mendesah kesal saat kunci pola kini memenuhi layar smartphone dengan gambar utama foto lelaki itu. “Dasar narsis,” ejeknya melupakan janji bahwa hari ini ia tidak akan menghina lelaki itu.
*- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Senna menunduk ramah pada Jhon yang bertugas sebagai penjaga pintu agensi saat ini. Gadis itu melenggang masuk, dan mengangkat tangan kanannya menyapa resepsionis yang sedang melayani seorang tamu. Gadis itu masuk kedalam lift kosong dan langsung menekan tombol angka enam. Ia bisa merasakan perutnya sedikit bereaksi saat lift itu terangkat naik, salah satu hal yang tidak ia sukai. Lift itu berhenti pada lantai dua, dan kini ia bisa melihat seorang lelaki yang membelakanginya, tanpak berdebat dengan seorang wanita.
“Kau tidak boleh pergi kemanapun tanpaku,” ujar sang wanita dengan telunjuk yang terangkat.
“Aku hanya mengambil barang yang tertinggal di ruang latihan,” jawab lelaki dengan jaket cokelat dengan bulu-bulu di sekitar lehernya. Lelaki itu tampak tegap, tubuh yang bagus, batin Senna memuji.
“Jangan berbohong padaku,”
“Siapa yang berbohong? Lihat PD memanggilmu.”
Wanita itu nampak gusar dengan wajah yang bingung, antara mengikuti lelaki itu atau berbalik kearah seorang pria paruh baya dengan setelan jas mewah yang beberapa saat lalu memanggilnya. “Aku akan menelepon Jhon dan memastikan kau tidak kemana-mana.” Ancam wanita itu.
“A…”
“Kalian naik atau tidak?” Senna menyela perbincangan panjang dua orang itu. Ia seperti orang bodoh yang dipaksa menyaksikan pertengkaran orang lain dari dalam lift. Salahkan saja tangan lelaki asing yang dengan seenaknya memegang pintu lift hingga pintu itu tak bisa menutup.
“Aku hanya sebentar,” jawab lelaki itu pada sang wanita hingga membuat wanita dengan wajah kesal itu berbalik pergi.
Senna menghembuskan napas lega, namun kemudian membelalakkan kedua matanya saat lelaki yang sebelumnya membelakanginya itu berbalik.
Lelaki itu Reynand Cote, kini berdiri dihadapannya. Lelaki itu tidak langsung masuk kedalam lift, ia berdiri tepat di tengah pintu lift dan menatap Senna, membuat kedua mata dengan warna berbeda itu berpandangan.