Chapter 5

1679 Kata
“Reynand Cote, artis papan atas yang tengah naik daun membuat kericuhan di sebuah club malam terkenal di pusat kota. Lelaki yang beberapa saat yang lalu teribat gossip dengan artis cantik Lee Yuri itu mabuk dan melakukan hal-hal yang membuat diluar kendali. Beberapa saksi mata mengatakan bahwa ia berdiri di atas meja bartender dan melakukan gaya…” “Elsa,” lelaki yang tengah menjadi bahan utama perbincangan pada layar televisi itu bergumam dengan nada rendah namun terdengar sangat mengintimidasi. “Matikan sebelum kubunuh kau.” Elsa meringis dan langsung menekan tombol merah pada remote control. Ia cukup penasaran dengan isi berita pagi ini, namun melihat lingkaran hitam di mata artisnya membuatnya cukup tau diri. “Kau minum berapa botol sih?” gerutunya namun tetap dengan nada hati-hati. Rey melempar bantal yang sebelumnya ia gunakan untuk menutupi kepalanya yang berdenyut luar biasa. Sungguh, ia malas mengatakan kalimat ini untuk kesekian kalinya. “Sudah kubilang aku-tidak-minum-sama-sekali!” ujarnya penuh penekanan. Elsa merengut tidak percaya, wanita yang kini duduk di sofa kamar apartement Rey mendesah hebat setelahnya. Ia masih ingat saat Yuri meneleponnya dengan nada terburu-turu dan menyuruhnya cepat datang. Dan tontonan mengagumkan ia dapatkan saat itu juga. Melihat seorang Reynand Cote, melakukan hal gila di tempat umum adalah sebuah keajaiban. Tentu saja, lelaki itu memiliki kotrol diri yang sangat hebat, bahkan ia tidak akan mabuk karena dua puluh botol minuman. Dan lelaki ini mengaku tidak minum satu botol pun. Setan pasti akan tertawa. Memangnya siapa yang akan percaya? “Jika kau tidak mabuk, lalu apa yang kau lakukan? Mencari sensasi? Astaga, otakmu pindah di dengkul?” ejeknya ikut tersulut emosi. Ia yakin setelah ini pihak produksi akan langsung mendampratnya. “Aku yakin aku tidak minum! Bahkan aku sudah keluar dari club malam dengan…” Rey berhenti berucap saat otak kacaunya mengingat sesuatu. Lelaki itu menudukkan dirinya dan menunduk seraya mengernyit. Membuat Elsa menatapnya cemas. Wanita itu hampir saja menanyakan keadaannya sebelum lelaki itu meneruskan ucapannya. “Aku dihipnotis,” ucapnya menyerupai bisikan pada dirinya sendiri. Elsa berjalan mendekat saat tak mendengar apa yang lelaki itu ucapkan. “Kau bilang apa?” tanyanya penasaran. Rey mendongak, menampilkan wajah frustasi yang penuh kelelahan. “Aku dihipnotis,” ujarnya disertai keraguan. Mereka terdiam sejenak, sama-sama memikirkan kemungkinan itu. Cukup masuk akal mengingat beberapa saat yang lalu lelaki itu menjadi korban hal yang serupa. Rey kembali berbicara saat melihat kilatan penasaran dari manik mata Elsa. “Aku yakin aku sudah keluar dari club malam, lalu semua terasa gelap seolah-olah aku tengah pingsan. Dan aku tak bisa mengingat semua yang aku lakukan. Kecuali saat kau menamparku dengan ganas tentunya.” Sudut bibir Elsa bergetar, jelas sekali wanita itu menahan senyuman puasnya. Astaga, mengapa ia tidak ingat. Ia menampar Rey! Sungguh keberuntungan yang luar biasa! Syukurnya dalam hati. “Aku tahu kau senang,” cibir Rey yang membuat Elsa kini tersenyum tanpa rasa takut. “Ah! Satu lagi, aku tidak bau alcohol kan?” Rey mengangkat kedua tangannya dan mencium ketiaknya. Hanya samar-samar, mengingat ia sempat berdesak-desakan dengan beberapa orang mabuk. Tapi tidak sepekat ukuran orang yang minum. “Kau benar, kupikir itu satu-satunya alasan mengapa kau bisa begitu kacau.” Jawab Elsa. Ia bisa melihat kemarahan hebat dari laki-laki dihadapannya. Rey merasakan kepalanya kembali berdenyut hebat saat amaranya mulai menguasai dirinya. Ia lalu menghempaskan tubuhnya di kasur dengan keras, mencoba bersikap tenang meskipun hatinya gondok tidak karuan. Elsa menatap artisnya dengan prihatin, “Aku tidak bisa mengatakan pada wartawan bahwa kau dihipnotis. Itu akan terdengar tidak masuk akal dan mengada-ada.” ucapnya. Elsa bersyukur dalam hati saat melihat Rey setuju dengan pendapatnya. “Aku akan bilang bahwa seorang teman membuatmu mabuk, dan yeah~ kebiasaan burukmu saat mabuk muncul. Itulah alasan kau menghindari alcohol, bagaimana?” tawar Elsa. “Aku tidak memiliki kebiasaan konyol seperti itu,” gerutu Rey yang saat ini menelungkupkan tubuhnya. Membuat suaranya lebih pelan karena teredam bantal. Ia tidak memiliki cukup tenaga untuk marah-marah dan berdebat. Elsa mengangkat bahunya dengan ekspresi meminta maaf yang jelas-jelas tidak dapat dilihat oleh lelaki itu. “Tak ada pilihan lain. Di situasi ini, jujur dapat membuatmu makin terdesak. Siapa yang akan percaya bahwa kau dihipnotis? Biasanya kan orang hanya akan mengambil benda berharga jika menghipnotis. Lebih baik kita tidak menampiknya, dan meminta maaf dengan sopan.” “Terserah,” jawab Rey semacam gumaman. “Kuanggap kau setuju,” Elsa berucap hampir menyamai gumaman Rey. “Kupikir kau harus lebih hati-hati. Penghipnotis itu nampaknya memang mengincarmu,” ujar Elsa mengingatkam. Rey bergumam, kepalanya sudah sangat berat begitupun dengan matanya. Namun ia masih dapat berpikiran hal yang sama. Tentu saja orang yang menghipnotisnya itu benar-benar berniat untuk menghancurkannya. Orang itu pasti seorang haters, si mata coklat terang. Pikirnya sebelum terlelap dengan denyutan dikepala yang semakin memudar.    *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -    Senna masih menutup matanya saat seseorang menimpa tubuhnya hingga membuatnya sulit bernapas. Gadis itu menggerutu dan menendang-nendang kesal masih dengan mata yang tertutup. Tanpa berpikirpun, jelas sekali ia tahu siapa pelaku penganiayaan yang bisa membuatnya mati mendadak karena jantungan. “Berhentilah David,” ucap Senna dengan suara sangaunya. Gadis itu berhenti menendang-nendang dan beralih memainkan tangannya, mencari guling untuk dipeluknya. Ia lalu tersenyum kecil saat mendapatkan apa yang ia inginkan, terlebih lagi saat kakaknya itu berhenti menindihnya dengan tubuh besarnya. “Aku butuh penjelasan Senna!” David menahan dirinya untuk tidak berteriak. Ia tidak pernah menyukai situasi di mana ia harus marah kepada adiknya. Namun adakalanya ia harus melakukan itu. Entah hanya perasaannya saja atau akhir-akhir ini adiknya ini sering membuat masalah. “Hmmm…” gadis itu bergumam tidak jelas. Membuat kepala David yang sebelumnya sudah pusing akibat jetlag semakin berdenyut. “Ya! Senna Zeonard!!” teriaknya hilang kendali. Senna langsung terduduk, matanya masih setengah terpejam dan wajanya nampak kesal. Bukankah seharusnya David yang kesal? Harusnya gadis itu tengah memohon maaf dengan manik mata hampir menangis, gerutu David dalam hati. “Nanti saja,” Senna berucap hampir tanpa suara. Dan menambahkan saat David hampir meledak karena amarahnya. “Aku baru saja pulang Kak, kepalaku pusing dan aku baru tidur beberapa jam.” David berdecak kesal saat lagi-lagi Senna menghempaskan tubuhnya dengan nyaman pada ranjang besarnya. Tak ada pilihan lain, pikir David kesal. Ia lalu masuk kedalam kamar mandi yang ada disana untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Mungkin membiarkan gadis yang nyawanya masih setengah itu untuk tidur adalah pilihan yang bijak, mengingat ia juga membutuhkan hal yang serupa. David Zeonard, lelaki dengan wajah tegas dan mata bulat bermanik coklat terang itu kembali menghela napas. Ia mengelus kepala adiknya dengan sedikit kasar dan dorongan pada akhirnya. Menarik selimut dan memilih untuk tidur disamping adik tersayangnya.  *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -      “Pagi!” teriak Senna dari meja makan dengan senyum yang kelewat ceria. Gadis itu menahan diri untuk tidak meringis dan kabur dari tempat itu saat melihat David yang masih stay cool dengan wajah dinginnya. Astaga, astaga… Lelaki itu pasti sudah melihat berita dan tahu persis dengan siapa pelakunya. “Aku memasak makanan kesukaanmu!” imbuhnya dengan manik mata yang bergulir mengamati ekspresi wajah kakaknya yang masih kaku itu. David bersedekap, ia nyaris tergelak saat melihat wajah manis adiknya yang ia tahu ingin segera kabur dari tempat itu. Dan lagi, jam 10 bukanlah angka yang tepat untuk mengucapkan selamat pagi. Apakah ia harus marah? Melihat Senna yang sangat jarang bersikap manis kini tersenyum penuh perhatian kepadanya tentu saja membuatnya tidak tega harus memarahinya. David lantas berjalan menjauhi meja makan, mengabaikan kerutan penuh kerehanan dari Senna. Ia mengambil remote televisi dan mulai memilih berita acara pagi ini. Gotcha! Ia menyiringai saat menemukan berita Rey pagi ini. Tentu saja tidak akan sulit mengingat bagaimana popularitas lelaki itu. David berbalik lalu kembali bersedekap, ia menatap tajam wajah Senna yang semakin pucat. “Kau tahu apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan suara yang dalam. “Aku bersalah…” Senna menundukkan kepalanya. Ia akui bahwa semalam ia tidak berpikir panjang. “Kau bisa saja merusak masa depan orang lain.” Hell yeah, ia tahu jelas itu. Beberapa saat yang lalu ia sudah berselancar di dunia maya dan terkejut setengah mati saat Reynand Cote menjadi berita utama. Dan jujur saja, ia merasa bersalah. Sangat! “Angkat wajahmu dan lihat aku. Kau tahu jika dia seorang artis. Dan tingkah konyolmu bisa membuatnya didepak dari dunia hiburan dengan mudah.” David kembali mencerca adiknya dengan kalimat tajam. Ia bisa melihat wajah bersalah itu, tetapi gadis itu harus diberi tekanan agar tak menyalahgunakan keahliannya. “Kau bahkan bisa dipenjara, dan aku sama sekali tidak bangga dengan apa yang kau lakukan.” Senna meringis, ia menunduk dalam. Ia kini hampir menangis, terlebih saat berita di televisi seakan menambah ceramahan kakaknya. “Maaf…” ujarnya dengan serak dan berat. Ia tidak menyangka bahwa apa yang ia lakukan bisa sampai membuat London gempar. Semalam ia berpikir lelaki itu hanya akan mendapatkan rasa malu yang setimpal, tidak menyangka bahwa Rey akan masuk bertita utama semua televisi. “Jangan padaku, kau tahu jelas siapa yang kau kerjai.”    *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN