Chapter 4

1564 Kata
  *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -    Senna tertawa kecil saat mengingat tingkah sahabatnya. Seperti tidak pernah ke club malam saja, batinnya. Ia merundukkan topi biru dongkernya saat berpapasan dengan lelaki yang wajahnya nampak menakutkan. Lorong menuju toilet itu nampak sepi, mungkin karena ia lebih memilih menggunakan toilet lantai dua, pikirnya. Senna melepas topinya saat memasuki toilet, rambutnya agak lepek dan dahinya basah. Ia membasahi tangannya dan mulai membasuh wajahnya. Mendesah lega saat rasa segar itu terasa begitu menenangkan dirinya. “Senna?” Ia menoleh, menatap wanita yang sebelumnya memanggilnya dengan nada keterkejutan. Ia bisa melihat lipstick merah marun di tangan kiri wanita itu. Ia melihat wanita itu agak lama, berusaha mengenyahkan begitu bayak tanda tanya di pikirannya dan menahan ujung lidahnya untuk bertanya. Senna mengulas senyum, agak canggung setelah sebelumnya menggigit ujung lidahnya sekali. “Ya, apa kabar?” tanyanya basa-basi. Astaga, kecanggungan itu sungguh menyiksanya mengingat betapa akrab mereka dulu. Matanya masih menyorot kearah wanita berpakaian merah marun itu. “Kau tampak berbeda?” tambahnya, terselip nada menyindir di balik kalimatnya. Wanita itu tertawa, namun wajahnya nampak sedih. Yuri sendiri sadar bahwa dirinya tak sebaik pertama kali mereka bertemu, tak sebaik sebelum ia jatuh cinta dengan lelaki seperti Reynand. Cinta itu sungguh mengerikan, rasa ingin memiliki itu sungguh menakutkan. “Aku kecewa padamu,” Senna kembali membuka suara saat wanita itu terlihat tidak akan menimpali ucapannya. “Kakakku adalah lelaki yang baik, dan kupikir kau juga begitu.” Yuri mengangguk, nampak membayangkan hubungan yang dulu sudah terjalin lebih dari empat tahun itu. “David memang terlalu baik untukku,” suaranya nampak serak dan tercekat. Hatinya sungguh sakit, ia merasa menjadi manusia paling jahat sedunia. Menghianati lelaki yang sangat mencintai dirinya hanya demi seorang lelaki yang kini berbicara dengannya saja tidak mau. Kemudian ia tersadar dan langsung mengangkat kepalanya, menatap mata Senna dan tersenyum tipis. Sekarang bukan waktunya menyerah, bagaimanapun juga dirinya adalah wanita yang pantang menyerah bukan, batinnya meyakinkan diri. “Aku duluan,” ucapnya singkat. Senna hanya tersenyum sedih saat melihat wanita yang membuat kakaknya hampir gila itu berbalik keluar dari toilet. Ia menatap dirinya di cermin sebentar, memasang topinya dan menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang konyol. Ia mengehentakkan kaki kanannya saat merasa tak dapat menahan diri untuk tidak mengikuti Yuri. Senna terlalu ingin tahu untuk sekadar menahan kakinya. Gadis dengan rambut yang kini dimasukkan sepenuhnya ke dalam topi itu mengangguk kecil, lalu berbalik dan segera keluar dari toilet. Persis seperti penguntit yang siap untuk menyerang mangsanya, dan ia cukup malu untuk mengakui itu. Senna mengurungkan diri untuk keluar dari toilet saat tak jauh dari tempatnya berdiri ia melihat Yuri tengah berdebat dengan seorang pria. Astaga, bahkan dirinya tidak perlu repot-repot untuk mencari wanita itu, ini pasti takdir! Yakinnya dalam hati. Gadis itu mengernyit saat tak dapat melihat pria itu dengan jelas, ia lalu mengendap dan berpindah bersembunyi di balik tembok toilet pria. Dan ia berdecih sedetik kemudian saat tersadar dengan posisinya yang sangat memalukan. “Sialan”, desisnya. Ia menukikkan alisnya kesal saat mengetahui siapa lelaki yang kini nampak berdebat dengan Yuri. Lelaki itu, Reynand Cote. Si kadal, yang ekornya tidak putus-putus. “Bukankah sudah kubilang untuk tidak datang ke tempatku lagi!” Lelaki dengan alis yang lumayan tebal itu mengeraskan suaranya, membuat Senna mendengarkan ucapannya tanpa harus menguping. Meskipun gadis itu memang memiliki niat untuk menguping. Senna menahan diri untuk tidak melempar lelaki yang memang memiliki basic wajah tampan untuk menjadi seorang kadal saat melihat lelaki itu membentak-bentak Yuri. Dasar tidak berperi kewanitaan! “Kau harus bertanggung jawab Rey!” Yuri berteriak tak mau kalah, membuat si penguping mengangkat sebelah alisnya. Pikiran-pikiran negatif mulai berseliweran di otaknya. Gadis itu dapat melihat Rey tersenyum mengejek, astaga, betapa kadalnya lelaki itu! Hujatnya dalam hati tiada habisnya. “Kau berucap seperti aku menghamilimu,” ada jeda sebentar, sebelum lelaki itu kembali mengambil napasnya, sekaligus berupaya mengontrol emosinya yang memang seakan tinggal di ujung tanduk itu. “Katakan apa yang harus kupertanggungjawabkan selain obsesimu padaku,” imbuhnya dengan nada yang lebih rendah. Yuri menggigit ujung bibir kanannya sejenak, menguatkan dirinya sendiri dan merapalkan kata ‘jangan kalah’ dalam hati. Ia mendongakkn kepalanya angkuh, menantang, dengan sorot mata yang jelas mengartikan ketidak inginan untuk kalah. “Kau membuatku putus dengan David!” ucapnya yang membuat Senna menutup matanya sejenak, membatin dalam hati. Ia tidak terlalu terkejut. Rey mengalihkan pandangannya, sebelum kembali menatap manik mata kelam yang penuh tekad di hadapannya. Ia akui, terselip sedikit rasa kagum pada wanita yang selama hampir satu bulan ini memberondongnya dengan kata yang sama. Namun semua itu tertutup oleh rasa jengah atas semua tindakan yang dilakukan wanita itu. Semua rasa ketertarikan yang pada awalnya ia rasakan seakan menghilang, bersamaan dengan obsesi sang wanita yang semakin meresahkannya. “Apa perlu kugaris bawahi bahwa kita melakukannya tanpa paksaan?” Rey menatapnya wanita itu tajam. Sudah cukup, batinnya. Ia menegaskan diri bahwa ia tidak bersalah. Mereka sama-sama senang waktu itu, dan ia tidak memiliki tanggung jawab apapun dalam hubungan Yuri dengan mantan pacarnya. “Ya, dan kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatku putus!” balas Yuri tak mau kalah. Dahi Rey seakan berkedut, dadanya berdebar dengan amarah yang semakin kental saat mengetahui bahwa wanita di depannya sama sekali tidak mempertimbangkan ucapannya. Ia mengangkat sudut bibirnya, tersenyum mengejek. “Dengan cara memacarimu? Tidak mungkin… Berhentilah mengejarku, kau terlihat semakin murahan,” Rey menatap tajam wanita yang nampak begitu terkejut saat ini. “Kenapa kau tidak meminta lelaki baik hati itu untuk kembali padamu? Hm? Berhenti mengejarku, dari awal aku tak pernah menjanjikan apapun padamu!” Rey nampak puas saat melihat wanita itu memundurkan langkahnya. Rey bukan tipe lelaki yang suka membuat wanita menangis, namun wanita di hadapannya nampak tak bisa berhenti apabila tak digertak keras seperti ini.   *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -          Manik Senna berbinar saat melihat seorang lelaki yang berjalan di antara kerumunan. Lelaki itu, Reynand beberapa kali menyapa kenalannya seolah-olah akan berpamitan untuk pulang. Senna bersorak dalam hati, ia yakin bahwa Tuhan menyetujui rencana baik semi jahatnya untuk balas dendam. Akan sangat lama jika menunggu yang diatas turun langsung untuk memberi pelajaran. Oke, anggap saja ia sebagai salah satu perantara. Kadal berkelamin ganda macam Reynand harus diberi pelajaran! Gadis itu merogoh saku celannya dan mengumpat pelan saat tak menemukan masker disana. Ia lalu berjalan lebih cepat, masa bodoh dengan masker yang selalu ia pakai itu. Saat ini ia tidak boleh sampai kehilangan Reynand. Gadis itu berjalan cepat dan hampir berlari, melihat kekanan dan kekiri untuk memastikan bahwa pintu keluar samping yang kini melewati gang kecil itu sepi. Dengan jantung yang berdentum kencang, Senna berjalan cepat mendekati lelaki yang kini merogoh saku celannya, hendak mengambil ponsel miliknya. Senna, menarik bahu lelaki itu dengan cepat. Jantungnya meledak tak terkendali. Ia kini bisa melihat manik mata hitam kelam yang memandangnya dengan tatapan terkejut. Dapat! Pekiknya dalam hati. Ia lalu mengangat tangan kanannya dan menutup kedua mata Rey dengan telapak tangannya. Membawa lelaki yang sudah setengah sadar itu untuk bersandar di bahu mungilnya. “Dengarkan baik-baik,” Senna berbisik tepat di telinga Rey. Jantungnya kembali berdentum, terlebih saat aroma shampoo yang dipakai lelaki itu begitu pekat tercium olehnya. Maskulin, pikirnya sedikit melantur. Senna menarik napas pendek untuk sekadar membersihkan pikirannya. “Kau akan menuruti perintahku,” lanjutnya. “Saat ini kau mabuk, sangat parah sampai seperti orang gila. Kau, Reynand Cote. Akan masuk kembali ke dalam Portal Night dan mulai menggila. Kau akan langsung naik keatas meja bar dan menari gangnam style.” Senna menyeringai saat membayangkan kekacauan apa yang akan dibuat oleh lelaki itu. Ia mengeratkan pelukannya sedikit, tubuh lelaki itu sangat berat. Cepat-cepat ia menambahkan, “Saat seseorang berkata turun, kau akan menggonggong. Dan kau akan kembali seperti semula saat seseorang menamparmu.” Senna tersenyum puas. Rasakan! Makinya dalam hati. “Kau mengerti?” tanyanya dan dibalas anggukan lemah oleh Rey. “Baik, laksanakan tugasmu, Reynand Cote.” Rey berdiri dengan sedikit terseok, pandangan matanya kosong saat menatap Senna yang kini menunggu reaksi lelaki itu. Dan gadis itu terkikik saat melihat Rey mulai tertawa terbahak-bahak. Meracau tentang ketampanannya dan bagaimana semua orang memuja dirinya, lelaki itu berjalan dengan susah payah menuju pintu yang beberapa menit lalu sudah ia lalui. Senna menundukkan topinya, senyuman senang masih terkembang dikedua belah bibirnya. “Besok David pasti memarahiku…” desahnya masih dengan senyuman kemenangan.    *- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -  - - - - - - - - - - - - - - - - - - -   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN