David memandang sekitar bandara dengan senyum jahat di bibirnya. Merasa puas karena tidak menemukan batang hidung makhluk yang mengikutinya selama sepekan ini. “Dia benar-benar menyerah setelah kubohongi seperti itu?” gumam David. “Oh? Dia datang?” David cukup terkejut ketika mendapati lelaki yang lebih tua darinya itu datang dengan langkah penuh kepercayaan diri. Reynand kini berdiri di depan David dengan wajah super seriusnya. “Berikan aku alamat rumahmu yang ada di Indonesia!” seru Reynand tanpa basa-basi. David mengulas senyum meremehkan. “Untuk apa?” “Aku harus bertemu dengan Senna.” “Kau akan ke Indonesia?” David menahan diri untuk tidak tertawa keras. Hal ini sudah ia duga dan David sudah mempersiapkannya dengan matang. “Ya, aku akan menyusul Senna!” David menampilkan senyum

