- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - Reynand menatap barisan nomor yang ada di ponsel barunya. Kemarin ia memang sempat mengambil nomor telepon Senna menggunakan panggilan darurat. Lelaki itu dipenuhi dengan segala pemikiran tentang menjalin hubungan dengan Senna. Mungkin tidak masalah? Atau mungkin malah menjadi masalah besar? Astaga, kenapa kini ia menjadi remaja tanggung yang memikirkan tentang hal seperti ini? Reynand mengusap wajahnya dengan kasar, manik mata kelamnya memandang kearah topi dan kini terfokus pada pin mungil bergambar kodok berwarna orange. “Cute,” gumamnya. “Terasa familiar.” Reynand bergumam sekali lagi. Berpikir dimana ia melihat pin yang sama. “Oh!” Reynand memeki

