Metha memelukku, semua serasa mimpi buruk aku ingin segera terbangun tapi semua ini nyata adanya. "Kita jual rumah kita," ucap mama di sela tangisnya. "Jual rumah tak secepat itu ma," timpal Panji. Mama dan Mas Gilang mulai menghubungi kerabat, tapi tak banyak membantu. Ini bukan uang kecil tapi ratusan juta, dan harus segera ada. Kupeluk pria itu untuk menenangkannya, ini sangat amat berat baginya. Aku juga tak bisa berbuat apa-apa. "Minum dulu mas," Metha menyodorkan sebotol air mineral yang baru di belinya. Mas Gilang menerimanya, namun hanya di genggamnya. Sampai malam kami tak beranjak kecuali untuk sholat. Tak tega rasanya melihat keluarga ini. Aku hanya bisa berdoa semoga ada jalan keluar. Genggaman Mas Gilang tak terlepas dari tanganku. Metha mengantar Panji pulang mengambil

