“Aira nungguh Ayah pulang?” tanya Ray dengan nada suara yang lembut di dengar. Aira berusaha menggapai wajah Ray. Ray meraih tangan mungil Aira yang kini terpaut di sela jari tangannya. “Aku juga nunggu kamu, Ray.” balas Riri pelan. Ray terhenyak dengan ucapan Riri. “Maaf, aku lupa ngabarin kalo aku harus ketemu seseorang setelah kerja.” jawab Ray jujur. Sejujur mungkin, walau tak menyebut nama Rena disana. Riri paham, tak baik jika ia terus memaksa Ray bercerita tentang masalah yang dihadapi Ray. Riri paham akan satu hal yang ia pelajari dari perjalanan hidupnya. Cinta itu memahami, bukan menuntut, apalagi memaksa. Riri harus bisa memahami Ray dengan segala situasinya. “Aku siapin makan malem ya. Kamu mandi dulu aja.” ucap Riri. Ray mengangguk sambil berjalan masuk ke kamar. Riri

