“Beneran, sayang…” ucap Riri dengan nada suara lembut. Panggilan ‘sayang’ yang jarang sekali terucap. Tapi sekalinya Riri memanggil Ray seperti itu, rasanya tetap berbeda. Membuat Ray ingin sekali mendengar panggilan itu berkali-kali. Ray meraih punggung tangan Riri dan mengecupnya berkali-kali. “Sakit ya, melahirkan?” tanya Ray kemudian. “Ya sakit lah. Pake nanya.” Riri tertawa pelan setelahnya. Ray ikut tertawa karena pertanyaan konyolnya. “Kalo bisa aku gantiin rasa sakitnya, sini deh transfer aja. Jujur, liat kamu kesakitan kaya kemarin rasanya aku hancur banget. Aku takut kehilangan kamu, Ri.” Terlihat raut wajah Ray yang tak biasa. Riri tersenyum kecil. “Tangan yang kemarin aku cengkeram ini, bener-bener jadi saksi kalo dengan adanya kamu di samping aku, aku kuat Ray.” “Bisa

