“Kamu….ngapain disini?” tanya Riri dengan wajah kebingungan. “Nunggu kamu. Trina bilang kamu bakal pulang naik busway. Ujan juga. Jadi aku bawain payung. Kamu pasti ngga bawa kan?” Riri mengangguk lemah. Mereka berdua nampak canggung namun Ray berusaha megingat semua ucapan Arif untuk lebih terbuka dan humble dengan Riri. Layaknya pasangan suami istri saja. “Kita kerumah jalan kaki….gapapa?” tanya Ray yang kini berjalan di samping Riri. Riri hanya mengangguk saja. Ray buru-buru membuka payung yang dibawanya tadi. Karena ukuran payungnya yang cukup ‘kecil’, Ray langsung mengapit bahu Riri untuk mendekat kearahnya. “Jangan terlalu ke kanan, nanti kamu basah kena air hujan.” ucap Ray. Kedua mata Riri membulat namun Riri tak menolak segala bentuk perhatian Ray. Mereka berdua tetap jal

