Vincent mengusap wajahnya kasar, lalu menunduk dalam-dalam. Suara desis napasnya terdengar jelas di ruangan dapur yang sepi. Kata “calon” terus terngiang di kepalanya, membuat jantungnya berdetak lebih keras dari biasanya. Ia menggeleng pelan, mencoba menepis pikirannya sendiri. “Tidak… aku tidak boleh ceroboh. Jika Bianca tahu perjodohan itu sekarang, dia pasti mengamuk, mungkin bahkan membenciku karena tidak pernah jujur sejak awal.” Vincent menatap gelas bening itu sekali lagi, lalu berdiri, berjalan ke wastafel, dan mencucinya perlahan. Tangannya yang kokoh justru bergetar tipis. Setiap tetes air yang jatuh seperti menggema di telinganya. Tidak ada hal lain yang harus ia lakukan lagi di sana. Tentu saja, Vincent kembali ke kamarnya dan mulai melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. M

