Vincent terpaku. Garpu di tangannya nyaris jatuh, tapi ia segera menegakkan tubuhnya lagi, menyembunyikan keterkejutan di balik wajah datarnya. Namun, detak jantungnya tidak bisa ia kendalikan. Kata itu—sederhana tapi mengguncang seluruh pertahanannya. “Ciuman?” ulang Vincent, nadanya datar tapi sedikit serak. Bianca menyeringai nakal, mencondongkan tubuhnya di atas meja, dagunya masih bertumpu di telapak tangan. “Ya. Kau bilang aku boleh meminta pelengkap sarapan, kan? Nah, aku mau itu. Ciuman dari pengawalku yang sok tenang ini.” Vincent menghela napas panjang, mencoba meredam gejolak yang mendadak menyambar dadanya. Ia berdiri tegak, menatap Bianca dengan sorot mata tajam tapi tetap lembut. “Nona… kau tahu itu bukan permintaan yang bisa dianggap remeh.” Bianca mengangkat alisnya, ma

