Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, Bianca melangkah keluar dengan langkah mantap. Koridor utama lantai itu lebih sunyi dan mewah dibanding lantai-lantai lain—dinding kayu gelap berpadu marmer putih, karpet tebal berwarna abu-abu, dan lampu gantung yang menyinari sepanjang jalan menuju ruang kerja sang pemilik Celeste Group: Antonio Celeste. Vincent mengikuti satu langkah di belakang, wajahnya tetap waspada. Ia tahu betul bahwa ruangan yang dituju bukan sekadar ruang kerja biasa, melainkan simbol kekuasaan seorang pria yang mengendalikan salah satu perusahaan terbesar di negeri itu. Tanpa menunggu lama, Bianca mendorong pintu ruang kerja besar itu. Dua daun pintu kayu mahoni terbuka perlahan, memperlihatkan pemandangan yang membuat Vincent sontak menahan napas. Seorang wani

