"Bercanda, Sayang. Bercanda," ujarnya sambil terkekeh pelan. "Sayang?" tanyaku sambil menatap dalam matanya. Pria 30 tahun yang di keningnya terlihat jelas ada bekas jahitan. Mungkinkah luka robeknya kemarin lumayan parah sampai dijahit memanjang begitu? Hatiku mendadak nelangsa ketika menyadari jika luka itu adalah karena aku. "Bukan. Bukan begitu. Maksud aku ... mamanya calon anakku," ralatnya sambil cengengesan saat tangan kanannya menggaruk belakang kepala yang mungkin tidak gatal. Membuatku gemas dan ingin memeluknya sekali lagi. Oh ya ampun! Kenapa jadi agresif begitu, Najwa? "Tapi ... kalau misalnya kamu nggak keberatan dipanggil Sayang, ya ... Alhamdulillah," ujarnya sambil tersenyum manis ketika sedikit merapatkan wajahnya padaku. Membuat dadaku berdentam-dentam seperti baru

