Kurasakan sesuatu yang menyesakkan, perlahan menghimpit d**a saat bayang tiga tahun pernikahan yang menyakitkan, tiba-tiba berkelebat di kepala meski tanpa diinginkan. Mata kupejamkan kuat-kuat saat kenangan penuh kesakitan itu muncul silih berganti memenuhi pikiran. Napasku memburu dengan batin yang terasa bergejolak. Dan setelah semua kesakitan itu ... ... semudah itukah, Najwa? Semudah itukah kau luluh hanya karena sebuah pelukan dan ciuman? Kembali kurasakan batinku bergolak hebat saat menyadari kebodohanku belum lama ini. Yang semudah itu memberikan akses padanya untuk melakukan keintiman padahal tiga tahun bukan waktu yang sebentar saat dirinya mengajarkan aku apa arti rasa sakit. "Jadi ... apa kamu langsung ingin pulang setelah ini?" Aku tersentak kaget saat suaranya tiba-tiba

