Mimpi yang Sama

1340 Kata

"Wa ... kamu kenapa, Wa? Kamu kenapa?!" Evita yang jelas-jelas mengetuk pintu dengan suaranya yang terdengar panik tak kupedulikan. Aku begitu kalang kabut ketika mempersiapkan diri. Bagaimanapun caranya, aku harus pergi ke rumah sakit sekarang. Harus! Oh tidak! Aku bahkan belum tahu di rumah sakit mana laki-laki 30 tahun itu mendapatkan penanganan saat ini. Lantas, rumah sakit mana yang akan aku datangi jika tempatnya saja tak kuketahui? Ah, ya. Aku harus menanyakan pada Alvan terlebih dulu, di mana sang kakak dirawat. Setelah beberapa lama aku diamkan, aku lantas mengambil kembali ponsel yang sempat terjatuh dengan tangan gemetar. Jari-jariku terasa kaku dan seperti membeku ketika membuka aplikasi hijau. Namun, belum sempat aku mengetik pesan untuk dikirimkan ke adik iparku, sebuah

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN