"Mas!" Aku yang jengah karena merasa terus diperhatikan, melayangkan protes dengan nada kesal pada laki-laki di sampingku. "Apa ...?" Mas Irham menyahut santai, seperti tak ingin menunjukkan rasa bersalah barang sedikit pun. "Jangan ngelihatin terus!" ucapku dengan nada dongkol. Sedangkan dalam hati masih tak habis pikir dengan kebodohanku sendiri. Bukankah aku terlalu bodoh karena semudah itu luluh dan tak melakukan penolakan ketika laki-laki ini membujuk agar aku tetap ikut serta? "Kenapa? Malu? Nggak usah malu, toh aku udah pernah lihat se—." Aku yang masih memendam rasa kesal, buru-buru membekap bibirnya dengan tangan kananku saat laki-laki ini hampir pasti mengatakan sesuatu yang tak pantas untuk dikatakan di depan khalayak. Bisa-bisanya! "Wah, mulai menjurus ini! Bahaya ini, ba

