"Udah, terima aja." "Iya ... terima aja." Aku tersentak kaget saat menyadari Evita dan Fatih tiba-tiba sudah berdiri di depan saung bambu tempatku dan Mas Irham melakukan makan malam sebelum ini. Kapan mereka datang? "Bukannya setiap hari yang kamu pikirin Mas Irham? Bahkan, pernah, 'kan, waktu itu kamu tidur sambil manggil-manggil nama Mas Irham kenceng banget. Hayo ngaku!" todong Evita, membuatku benar-benar malu dan tak tahu bereaksi bagaimana saat Mas Irham terus menatapku dengan pandangan penuh tanya. "Nggak usah jaim kali, Wa. Aku tahu, kok, kamu udah kangen banget sama ayahnya calon debay. Pernah, loh, kemarin aku lihat kamu nangis sambil usap-usap perut. Apa lagi alasannya kalau bukan karena kangen sama bapaknya? Iya, kan?" "Ih ... apaan, sih, sok tahu banget!" Aku merengut k

