Aku dan Mas Faresta sudah berada di atas ranjang. Seperti biasa, Mas Faresta mengecek tugas dari para mahasiswanya dan aku bermain ponsel. Semakin lama aku semakin bosan dan memilih mematikan posnselku. Aku mendekat ke arahnya, dia melirikku sekilas lalu membawaku bersandar di dadanya. "Mas, aku jadi mikir," ucapku sambil menatap ke layar laptopnya. "Mikir apa, hm?" "Gimana ya caranya biar mahasiswi dan dosen lain enggak ngejar-ngejar Mas Resta. Aku kira kalau mereka tahu Mas sudah menikah, mereka akan berhenti mengejar, tapi nyatanya malah semakin brutal." Seakan mengerti dengan khawatiranku, Mas Faresta melingkarkan tangannya di pinggangku dan mengecup kepalaku beberapa kali. "Saya cinta sama kamu, Rena. Kamu harus selalu ingat itu." Kata-kata penenang yang nyatanya tidak begitu mene

