Bagian Keempat Puluh Dua

440 Kata

Galih sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu. Aku memutar-mutar ponselku sambil terus menyesali diri. Seharusnya tadi aku minta nomor telepon pria itu, tapi aku lupa. Mungkin kalau aku punya nomornya, kami bisa berhubungan setiap saat. Suara pintu terdengar, Mas Faresta masuk ke dalam kamar. Pandanganku mengikuti setiap langkahnya yang jenjang. "Cincinnya kenapa diletakkan di sini?" Mataku langsung beralih ke arah yang ditunjuknya. Aku lupa lagi. Seharusnya aku letakkan di kotak perhiasan, tetapi aku malah meletakkan dengan asal di atas meja. "Ini cincin berharga, Ren. Bukan karena harganya, tapi karena maknanya." Hadeh. Iya deh. Lebai banget. Dia melangkah mendekatiku lalu menarik tanganku dengan lembut. Aku tahu dia pasti ingin memasangkan cincin itu di jariku. Dengan gerakan cepa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN